PROLOG
PAKAIAN yang dikenakan menahan tubuhnya dari hawa dingin pagi itu. Jaket hoodie warna abu-abu bergambar logo Reebok yang disablon seadanya di bagian d**a cukup match dipadunya dengan celana panjang jins biru. Sebuah sling bag berbahan kanvas menempel di dadanya, tampak serasi berpadan dengan sepasang sneaker lusuh yang ia injak bagian tumitnya.
Dengan menenteng sebuah travel bag di tangan kanan, pria berusia 35-an itu berjalan tenang memasuki stasiun Kutoarjo. Ia menunjukkan karcis dan KTP kepada petugas, menyingkap sebentar maskernya, lalu masuk ke peron setelah petugas menyelesaikan pemeriksaannya.
Di jalur satu sudah menunggu kereta api Logawa jurusan Purwokerto-Surabaya yang ia tuju. Ia kenakan kembali maskernya, memasang earphone, dan masuk bersama sejumlah penumpang di gerbong empat. Sampai di tempat duduknya, ia meletakkan tasnya di bagasi atas.
Pria itu duduk dan langsung memejamkan matanya, menikmati musik dari pemutar di ponselnya. Rupanya ia memang sengaja menghindari interaksi dengan orang lain. Dalam hati ia bersyukur mendapati kursi yang di sampingnya masih kosong.
Tak lama kemudian terdengar suara announcer yang memberitahukan bahwa kereta akan berangkat lima menit lagi. Beberapa penumpang masih mencoba mencari tempat duduk mereka. Salah satunya, seorang perempuan usia 30-an, berhenti di sisi pria itu dan meminta izin untuk duduk di samping jendela.
Sang pria berdiri memberi ruang kepada penumpang tersebut untuk masuk. Lalu ia berjalan keluar gerbong.
Hingga kereta berangkat, pria tersebut tidak kembali lagi.
Tiga jam kemudian, perempuan yang duduk di samping pria tadi tiba-tiba mendengar suara tangis bayi. Suaranya sayup-sayup namun terdengar sangat dekat dari tempatnya duduk. Ia melihat-lihat penumpang di sekitarnya, tapi tak terlihat ada bayi di pangkuan mereka.
Perempuan itu mencoba memfokuskan pendengarannya lagi, dan ia segera tahu sumber suaranya. Ia melihat ke bagasi tepat di atasnya. Dilihatnya sebuah travel bag di sana, di samping tas kopernya.
Pandangannya beralih ke kursi di sampingnya. Ia baru ngeh, seharusnya ada penumpang di tempat duduk itu. Pria tadi.
Perempuan itu berdiri dan menurunkan travel bag dari bagasi. Suara tangis bayi itu makin jelas terdengar melalui ritsleting tas yang sudah terbuka separuh. Ia cepat-cepat membuka penuh tas itu dan—meski sudah menduganya—ia tetap saja terkejut melihat isinya.
Bayi itu terbungkus kain bedong dan diletakkan di tengah tumpukan baju-baju bayi. Disertai sebuah kotak peralatan bayi yang diletakkan di bagian bawah kakinya.
Gerbong empat KA Logawa pun heboh.
Perempuan itu mengangkat sang bayi berjenis kelamin perempuan tersebut dan mendapati selembar kertas terlipat di bawahnya. Penumpang yang berdiri di dekatnya mengambil kertas itu yang ternyata adalah sebuah surat dengan tulisan tangan.
Ini bukanlah sebuah kekhilafan. Kami memang sengaja meninggalkan bocah ini, dan untuk itu kami sebagai orang tua sudah siap menanggung dosanya. Situasi kami tidak memungkinkan untuk merawat dan membesarkannya. Kami akan menanggung lebih banyak dosa apabila anak ini tumbuh bersama kami.
Kami justru melakukan ini karena rasa cinta kami kepadanya.
Untuk itu bagi siapa pun yang menemukan anak ini, mohon jangan disia-siakan. Pesan kami, jangan anggap dia sebagai anak sendiri, tapi “jadikanlah” dia sebagai anak sendiri. Cintailah dia seperti cinta kami yang tak terhingga bagaikan angka 8. Tiada akhir, tidak terputus.
Tolong sampaikan juga pesan kami ini kepadanya ketika sudah menginjak dewasa:
Ular putih Dia mewujud
Melilit mesra putri Bismaka di lapangan
Hilang sedih dengan bersujud
Raih sukacita menuju selatan
Semoga hidupmu selalu Maju dan Makmur, Anakku.
Salam.
Selepas magrib di hari itu juga, sebuah surat berisi kalimat sama persis sedang dibaca salah satu pramugari KA Gaya Baru Malam Selatan jurusan Surabaya-Jakarta. Surat itu ditemukan di bawah tubuh bayi laki-laki di dalam sebuah travel bag yang sengaja ditinggalkan di dalam gerbong restorasi.
***