Suara berdenging di telinganya membuat Kiera terusik dari tidurnya. Kiera mencoba membuka matanya perlahan. Ingatannya terkait dengan p*********n seisi kastel begitu jelas terukir. Suara jeritan dan tangisan dari semua pelayan seakan menghantui dirinya. Kini Kiera hanya melihat besi berkarat di langit-langit kamar yang sama sekali tidak ia kenali. Apakah ia sekarang sudah dibawa pergi oleh mereka?
Dengan sekuat tenaga, Kiera mencoba memindahkan posisinya menjadi posisi duduk. Kiera merasakan rasa perih menusuk di area bahunya. Kiera ingat betul ketika ia timah panas menggores kulit bahunya dan memanggang daging di dalam tubuhnya itu. Rasa perih dan juga kebas seakan menyatu kala itu. Kiera bahkan masih dapat mencium bau darah segar miliknya yang membekas di pakaiannya saat ini.
Kiera mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Ia mendapati dirinya berada di ruangan gelap yang minim dengan penerangan dan juga kerangkeng besi yang membatasi ruangan itu dengan lorong di depannya. Seumur hidupnya yang malang, Kiera bahkan sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya ke penjara bawah tanah. Kini sepertinya, penjara bawah tanah ini akan menjadi tempat tinggalnya sementara waktu.
Begitu Kiera mencoba untuk bangkit dari duduknya, ia merasakan sesuatu yang menghalangi kedua pergelangan tangannya. Benar saja, Kiera akhirnya menyadari bahwa tangannya sudah ditali ke salah satu besi yang menjadi pagar penjara bawah tanah itu.
Kiera tersenyum miris. Dulu ia menjadi tahanan di kastel megah dengan segala tekanan dan juga kesepian yang ia lalui. Kini dirinya harus menerima kenyataan bahwa dirinya harus menjadi tahanan di penjara bawah tanah lengkap dengan tekanan dan kesepian yang tak asing ia rasakan. Rasanya kemalangannya seperti naik satu tingkat dibanding dengan sebelumnya.
“Bawa tahanan itu!” perintah seseorang di ujung lorong.
Suara derap langkah terdengar jelas. Dua orang prajurit tampak berusaha membuka pintu jeruji besi penjara yang ditempati oleh Kiera. Setelahnya mereka langsung mendekati Kiera dan memebebaskan tali di kedua pergelangan tangan Kiera dengan kasar. Kedua prajurit itu lantas menarik Kiera untuk berdiri dengan kencang.
“Ahh—“
Kiera dapat merasakan luka goresan dari peluru yang menusuk bahunya seakan terkoyak. Namun, tak ada yang dapat Kiera lakukan selain mengikuti gerak gerik kedua prajurit itu.
“Jenderal sudah menunggu Anda,” ujar salah satu prajurit itu.
Kiera berjalan dengan kedua tangan yang terikat di depan tubuhnya. Ia berjalan beriringan dengan kedua prajurit itu. Kiera bersumpah kedua prajurit itu sama sekali tidak diajarkan sopan santun kepada sesama manusia. Kedua prajurit itu sesekali mendorong Kiera kasar dengan senapan di tangan mereka bahkan, sesekali mereka menekan luka tembak di bahu Kiera dengan kasar.
Satu belokan lorong telah ia lalui. Kini Kiera dapat melihat ada sebuah pintu usang di ujung lorong. Sesaat kemudian, dirinya didorong dengan kasar hingga ia menabrak pintu usang itu dengan kencang. Beruntung pintu itu masih memiliki engsel yang kuat sehingga dirinya tidak perlu jatuh tersungkur karena pintu akan terbuka dengan sendirinya.
“Masuk!” perintah salah satu di antara mereka.
Kiera lantas menarik napasnya dalam.
“Cepat! Jangan buat jenderal kami menunggu.”
Mendengar hal itu, Kiera langsung menarik engsel pintu tua usang itu dengan cepat dan memasuki ruangan gelap di balik pintu itu.
Kiera akhirnya menghela napasnya lega karena sudah terbebas dari kedua prajurit tak sopan itu. Namun, napasnya langsung terhenti ketika ia melihat seorang lelaki sedang duduk di sebuah kursi tua nan rapuh menatapnya tajam.
‘Benar Kiera, mana mungkin kau mendapatkan nasib baik’
Batin Kiera selalu merutuki dirinya yang terlahir dengan kesialan yang malang.
“Kemarilah,” ujar lelaki yang mereka sebut dengan ‘Jenderal’ itu.
Kiera melangkahkan kakinya perlahan untuk menuju lelaki itu.
“Sekarang duduk,” ucapnya lagi. Sebenarnya sesuatu yang dia ucapkan lebih terdengar seperti perintah alih-alih ucapan.
Kiera tak kuasa menolak perintah dari Sang Jenderal. Kiera akhirnya membawa tubuhnya untuk duduk tepat di hadapan Sang Jenderal. Sesekali Kiera merasakan matanya bertemu dengan mata milik pemuda di hadapannya. Kiera dapat menyadari ketampanan di wajah pemuda itu bahkan, cahaya remang-remang di ruangan ini sama sekali tidak memudarkan ketampanan pemuda di hadapannya saat ini.
“Sebelum kita memulai, aku ingin memberikan informasi bahwa kau adalah satu-satunya orang yang selamat di kastel ini,” ujarnya.
Tidak ada satu katapun yang dapat Kiera keluarkan untuk menanggapi informasi tersebut. Kiera hanya menunduk dan menatap lantai kotor itu dengan tatapan kosong.
“Kau terlihat sudah mengetahuinya,” ucap Sang Jenderal pelan.
Kiera lagi-lagi sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.
“Siapa kau?” tanyanya jelas.
Kiera masih terdiam.
“Aku menanyakan siapa dirimu, tidakkah kau mendengarnya?” tanyanya sekali lagi dengan nada meninggi.
Kiera sama sekali tidak berniat mengeluarkan suaranya.
“Ahh—“
Kiera merasakan cengkeraman kuat pada area bahunya tepat sekali di area peluru itu menembus kulitnya. Rasa perih serta benda asing yang terasa semakin menusuk masuk ke dalam dagingnya itu membuat Kiera kesakitan.
“Ternyata kau baru mau mengeluarkan suaramu setelah peluru itu semakin dalam menusuk daging segarmu,” ujarnya dengan nada dingin.
Kiera semakin merasakan cengkeraman yang mengeras di bahunya. Semua yang dilakukan olehnya jelas membuat Kiera semakin tersiksa dan menggila. Kiera hanya bisa menggeliat dan menahan air mata yang terus berjatuhan. Rasa sakit yang asing itu tak dapat lagi Kiera tahan.
“BUNUH SAJA AKU!” bentak Kiera.
Kiera tak kuasa untuk mengeluarkan teriakan kesakitannya yang memilukan. Sesaat setelahnya Kiera merasakan cengkeraman di bahunya semakin melonggar. Kiera akhirnya mengatur napasnya kasar. Mencoba menahan rasa perih yang tersisa atas semua yang sudah dilakukan olehnya.
“Bunuh saja aku seperti yang lain, mengapa kau harus melakukan semua ini padaku?” ujar Kiera lemah dengan air mata yang tidak henti-hentinya mengalir. Tentu saja tenaganya sudah terkuras habis untuk berteriak dan menahan rasa sakit dari peluru di bahunya.
“Itu yang kau mau? Tenang saja aku pasti akan membunuhmu, tetapi aku akan mendapatkan informasi terlebih dahulu darimu,” balas lelaki itu dengan senyum miringnya dan tatapan meremehkannya.
Kiera hanya bisa menatap lelaki di hadapannya dengan tatapan tajamnya. Lelaki kejam itu, Kiera ingin sekali mengirimnya ke neraka saat ini juga.
“Sekali lagi, siapa dirimu?”
Kiera masih membalas pertanyaannya dengan tatapan tajam miliknya.
“Perlukah aku melakukannya lagi—“
“Aku hanya gadis malang yang terkurung di kastel ini,” potong Kiera dengan nada bicara yang dingin.
“Jadi kau terkurung di sini? Lantas siapa namamu?”
“Perlukah kau mengetahui namaku?”
“Tentu saja, agar aku dapat mengetahui keluargamu,” ujarnya dengan tenang.
“Tidak cukup membunuh semua yang ada di sini, kau juga ingin membunuh seluruh keluargaku? Tidakkah neraka adalah tempat terbaik untukmu?” balas Kiera tajam.
Lelaki di hadapannya itu kini tertawa renyah mendengar jawaban Kiera.
“Kau gadis tercantik dan terseksi yang pernah aku temui,” ucap Sang Jenderal sembari tersenyum miring pada Kiera.
“Cukup beritahu aku namamu,” tambahnya semari mengusap bahu Kiera yang masih terasa perih.
“Mengapa? Kau tidak dapat melacak identitasku? Bukankah kau seharusnya memiliki akses untuk setiap identitas?” tanya Kiera.
“Sayangnya benar, identitasmu tidak dapat diketahui,” balas Sang Jenderal.
Kiera tertawa miris mendengarnya.
“Kami mencurigai kemungkinan bahwa kau adalah mata-mata,” tambahnya.
“Aku bukan mata-mata,” balas Kiera.
“Lantas siapa?” tanyanya lagi dan lagi.
“Aku sudah mengatakan bahwa aku gadis yang ditahan di kastel megah ini,” ujar Kiera.
Lelaki itu tampak menyunggingkan senyumannya. Bukan senyuman tulus yang ia layangkan, melainkan senyuman yang menyiratkan kekejaman mendalam di balik indah parasnya. Sedikit demi sedikit, Kiera dapat melihat wajah pemuda itu semakin jelas. Sang Jenderal tampaknya sedang mendekatkan wajah padanya.
“Sebut namamu dalam tiga detik dari sekarang, gadis cantk,” bisiknya pelan tepat di telinga Kiera. Bisikan itu jelas membuat jantung Kiera berdebar. Kiera juga dapat merasakan bulu kuduknya yang berdiri. Pemuda itu juga sudah sangat bersiap memegangi bahunya yang tertembak. Namun, kali ini Kiera dapat mendengar suara pelatuk pistol berada di sisi bahunya yang lain. Pemuda ini jelas ingin memberikan luka tambahan pada bahu Kiera. Seketika rasa perih dan menusuk di bahunya itu seakan terputar kembali di otaknya. Kiera dapat merasakan tubuhnya semakin bergetar.
“Tiga—“”
Kiera masih kalang kabut dengan pikirannya.
“Dua—“
“Sat—“
“Kiera.”
Pemuda itu seketika menjauhkan tubuhnya dari Kiera dan tersenyum dengan tampannya. Namun, Kiera sama sekali tidak boleh tertipu dengan wajah tampannya. Kiera sudah bersumpah di kehidupan selanjutnya, ketika dirinya sudah lebih kuat, Kiera akan mengirim lelaki ini ke neraka terjauh darinya.
“Namaku Kiera van Criselle.”
***