Semerbak gurih menyeruak ketika Mira menaruh dua piring nasi goreng ke hadapan ayah dan bundanya.
“Makasih ya, Anakku.” Ibunda Mira, seorang wanita kurus dengan rambut sebahu, mengembangkan senyum lebar.
Sang ayah yang berambut putih tipis dan berperut sedikit buncit pun terkekeh. “Chef Mira kita. Sebentar lagi bakal bisa ikut acara masak di tv, nih.”
“Masih belajar, Yah. Bikin nasi goreng juga baru kali ini,” jawab Mira, kembali ke dapur yang menjadi satu dengan ruang makan.
“Tapi tumben sekali, loh,” ujar sang ibunda kepada putrinya yang berambut panjang, berkulit putih, dan agak semampai itu. “Dulu mau makan mie instan saja minta dibuatkan.”
“Yee, itu kan dulu, Bun. Waktu Mira masih kecil banget,” gerutu Mira, menaruh piringnya sendiri ke meja. Meski berkata seperti itu, bibirnya menyunggingkan senyum puas.
Tanpa perlu dikomando, keluarga kecil itu serempak menundukkan kepala untuk memanjatkan doa. Tak berapa lama kemudian, irama denting peralatan makan pun mulai mengisi ruangan. Begitu Mira memasukkan sesendok nasi berwana coklat itu ke mulutnya, sebelah matanya berkedut. Ibunya pun menunjukkan ekspresi yang kurang lebih sama.
“Asin,” lirih Mira, menaruh sendok dan garpunya dengan lesu. “Asin banget.”
“Kan, masih belajar,” balas sang ibunda, sedikit menepuk pundak putrinya.
Sementara itu, ayah Mira justru tetap makan dengan lahap. “Enak, kok. Cuma kurang rata saja tadi masaknya. Coba lagi deh, ada kok bagian yang tidak asin.”
Walau masih ragu, Mira menyendok kembali nasi bagiannya. Ia langsung mengangkat bahu dan mengangguk-angguk pelan. Masih bisa dinikmati, meski tak seenak buatan ayah atau ibunya.
“Bagaimana kuliahnya? Temanmu bagaimana? Baik-baik, kan?” tanya ayah Mira dengan mulut penuh.
Mira menelan ludah, terdiam dan tidak memberikan jawaban. Pertanyaan itu, walaupun sederhana, cukup membuat degup jantungnya melonjak.
Melihat hal itu, ibunya tersenyum samar. “Seperti yang sudah sering ibu bilang, mereka hanya minder karena kecantikan kamu, Mir.”
Masih tak menjawab, Mira melanjutkan makannya. Ucapan ibunya itu sama sekali tak membantu. Kalau kecantikan membuatnya kesepian, lebih baik memiliki wajah yang biasa-biasa saja.
“Bun, barang-barang untuk dinas luar kota besok sudah disiapkan?” Ayah Mira beralih memandang istrinya.
“Ditunda, tapi atasan belum memberitahu alasannya,” jawab sang ibunda.
Mira kembali menghentikan kegiatan makannya. Bukan karena obrolan ayah-ibunya yang terus berlanjut itu. Bukan pula karena perbincangan sebelumnya yang membuat hatinya tak nyaman. Bukan. Ia merasakan sesuatu. Ia pun mengusap tengkuknya, yang seperti baru saja disiram air dingin. Kemudian, dia memeriksa bulu kuduk di tangannya, yang entah sejak kapan berdiri tegak seluruhnya.
Kepala gadis itu mulai menengok pelan ke kanan dan ke kiri. Di ruang makan kecil berdinding putih itu, dia tak melihat sesuatu yang aneh. Meja makan kayu dan kursi-kursinya, kulkas, maupun peralatan di dapur, semuanya tampak biasa saja, tak bergeser sedikit pun, benar-benar tak ada yang berbeda.
***
Sambil mengelap piring, Mira menghela napas panjang. Ia mengangkat piring yang sudah mengilat di tangannya, memandang pantulan wajahnya di permukaan benda berbahan keramik itu. Hidung mancung dari ayahnya dan mata lebar dengan bulu lentik dari ibunya. Benarkan itu semua turut andil dalam masalahnya ini?
Pikirannya melayang ke masa lampau, ketika awal-awal dirinya masuk SMA, SMP, bahkan SD. Ya, pada akhirnya dia pasti akan memiliki kawan, seperti yang sudah-sudah, kendati itu memerlukan waktu tak sebentar. Tapi tetap saja. Dia sudah duduk di bangku kuliah tingkat pertama. Dia bukan anak kecil lagi. Apa pantas jika dirinya masih terganggu dengan kesendiriannya ini?
Srak …. Srak …. Srak ….
Mendengar suara itu, sensasi aneh seperti di ruang makan tadi kembali menyerang Mira. Tak hanya itu, hatinya seperti berbisik agar dirinya menurunkan piring di depan wajahnya tersebut. Akan ada sesuatu, hatinya berbisik lagi.
Mengapa bisa seperti itu? Mira sendiri tak mengerti
Meski interval detak jantungnya mulai merangkak naik, Mira memutuskan untuk tetap menurunkan piring itu. Begitu perlahan.
Pranggg!!!
Piring itu terlepas dari tangan Mira, meluncur ke bawah, dan hancur berkeping-keping begitu menghantam lantai. Mulut Mira seketika terkunci rapat, degupan jantungnya makin melonjak naik, dan kakinya mulai melangkah mundur. Matanya pun membelalak begitu lebar. Dari jendela kaca dapur itu, dia bisa melihat seseorang di pekarangan belakang. Seseorang berambut panjang yang tengah membelakanginya.
Srak …. Srak …. Srak ….
Itu adalah suara cangkul menciduki tanah. Sosok berbaju putih itu tengah menggali, membuat lubang di sana.
“Ada apa, Mir?” Ibunda Mira masuk ke dapur, sedikit berjengit ketika melihat pecahan piring di lantai. “Astaga! Kok bisa begini!?”
Terhentak, Mira menoleh ke arah ibunya, kemudian menunjuk jendela dengan tangan gemetar. “Itu, Bun.”
Sang ibunda bergegas memeriksa jendela itu. Mira seketika terkesiap. Tak ada apa pun lagi di halaman belakang, hanya hamparan tanah tanpa rumput yang disirami cahaya lampu remang, seperti seharusnya.
Lubang yang dibuat sosok itu pun telah lenyap.
“Kenapa? Ada apa?” Tak berapa lama kemudian, ayah Mira ikut muncul.
“Tadi, Mira lihat… Sesuatu… Di halaman belakang.” Semakin lama, suara Mira mengecil. Tangannya pun turun. Namun, degup jantung dan getaran di tubuhnya belum juga mereda.
“Lihat apa?” Ayah Mira pun keluar ke pekarangan sempit dengan pagar tembok tinggi itu. “Tidak ada apa-apa, kok.”
Menelan ludah, Mira memberanikan untuk keluar, ikut memeriksa bersama ayahnya. Dia mendatangi bagian tengah pekarangan, memeriksanya sejenak, kemudian menunjuk satu titik. “Tadi, Mira lihat ada yang nyangkul di sini, bajunya putih, rambutnya panjang, kayaknya perempuan.”
“Barangkali, gara-gara tempat ini dibiarkan kosong dan tidak ditanami apa-apa, penunggunya jadi gregetan.” Sang ayah sedikit terkekeh. ”Jadi, dia punya inisiatif buat menanam singkong. Besok-besok Ayah bakal isi lagi tempat ini, deh.”
“Husss, Ayah. Jangan becanda seperti itu, ah.” Seraya mengelus punggung putrinya, ibu Mira sedikit mendelik kepada sang suami.
Mira memegangi keningnya. Perlahan, sensasi cengkraman yang menyakitkan mulai mendatangi kepalanya. “Abis beresin piring, Mira mau tidur, Bun. Mira pusing.”
“Piringnya biar Bunda yang beresin. Kamu ke kamar sekarang, gih. Jangan lupa sikat gigi sama cuci kaki,” jawab sang ibunda.
“Iya, mungkin kamu butuh istirahat,” sambung sang ayah.
“Ya udah, Mira ke kamar dulu.” Mira mulai berjalan pelan, tetapi langkahnya tiba-tiba oleng. Pandangannya pun mulai mengabur.
“Mira!” pekik ayah dan bundanya bersamaan, tepat ketika Mira tumbang.
***
Begitu membuka matanya, Mira melihat langit-langit kamarnya sendiri. Saat bangkit, ia meringis seraya memegangi kepalanya. Nyeri menyakitkan itu belum hilang juga.
Melihat sang ibunda terlelap di sampingnya, ia pun turun dari dipan dengan begitu hati-hati. Gadis itu berniat pergi dapur untuk minum. Namun, teringat kejadian tadi, ia sempat ragu. Ia sampai harus memaksakan diri pergi ke sana karena kerongkongannya begitu kering. Setelah meneguk dua gelas air dengan buru-buru, ia bergegas menuju wastafel di dekat kamar mandi.
Baru saja akan membasuh mukanya, Mira tercenung. Kedua tangannya mulai bergetar. Bulu kuduknya pun mulai meremang. Lagi-lagi dia didatangi sensasi tak mengenakkan itu.
Mira mengusap tengkuknya, mengurungkan niatnya untuk mencuci muka dan segera menuju kamarnya dengan setengah berlari. Begitu masuk, ia meraih ponsel di meja belajar, kemudian meringkuk di bawah selimut. Kedua jempolnya gelagapan mengirim pesan kepada seseorang.