Waktu di mana semuanya tenang
Rumah kayu itu kecil, hanya diisi dengan furnitur sederhana dan seadanya. Satu sofa panjang dengan kain beledu merah yang cukup untuk ditempati dua orang berada di ruang tengah. Berkat hobi si wanita yang suka melukis dan idenya untuk membuat cat warna sendiri dari berbagai tumbuhan, berbagai lukisan terpajang di dinding, memberi sentuhan seakan tempat ini terurus, sementara api hasil kekuatan sang kekasih tak bosan menerangi ruangan itu.
Seraya mengelus perutnya, lantunan lagu dia dendangkan, mengingatkannya pada alunan lagu di hari penting kala itu. Sembari memejam, dia bersandar di sofa, sementara satu cerita berputar di kepalanya.
Ketenangan ini ada harganya. Harga yang sudah dibayar banyak orang, termasuk dirinya. Mungkin ini bukan kehidupan terbaik