Alrisha
Entah waktu terlalu cepat bergerak, atau aku yang sibuk membolak-balik posisi tanpa benar-benar tertidur. Tahu-tahu cahaya sudah membuat tirai jendela menjadi lebih terang, dan sebuah ketukan di pintu membuatku mengubah posisi menjadi duduk di kasur.
Pintu terbuka, memampangkan Neoma. Namun, versi kali ini merupakan wanita baya berpunggung bungkuk. Berbeda sekali dengan sosoknya yang bugar dan mengancam layaknya tadi malam.
“Kuharap kau terbiasa. Aku harus mengamankan identitasku,” katanya ramah, lantas memasuki kamarku—secara teknis, ini rumahnya sih—dan berdiri di pinggir ranjang. “Tidak bisa tidur?”
Mau tak mau aku mengangguk.
“Auramu terganggu,” tambahnya. Ketika aku mengerjap cepat, Neoma tertawa. “Ini kekuatanku. Aku tidak bisa menjelaskan secara detail, tapi aku