Victor
“Kau yakin itu jalan yang benar?”
Aku tetap memotong rerumputan panjang itu dengan pedangku, sama sekali tak berbalik ketika menjawab, “Kau pikir aku akan menuntunmu ke mana? Jurang?”
Dia mendengkus. “Barangkali kau perlu diingatkan, kau pernah mendorongku dari tebing dan membuatku hampir mati.”
“Nyatanya kau masih hidup sampai sekarang tuh.”
“Astaga, Victor. Kau ini.”
“Aku benar, kan—”
Belum juga menyelesaikan jawabanku, mulutku dibungkam. Entah sejak kapan dia sudah berada di belakangku, tahu-tahu menarikku dan mempertemukan bibir kami. Tentu saja aku tak menduganya. Namun, sebuah kebohongan besar kalau aku bilang tak menyukainya. Bibirku melengkung begitu kontak tersebut berakhir, dan tatapanku sepenuhnya tertuju padanya.
“Kau berisik,” tukasnya cepat. Nada bicaranya b