Risha
Sudah sekian lama aku berharap bisa bertemu langsung dengan orang tuaku. Akhirnya harapanku terkabul. Seharusnya aku senang. Namun, bukan seperti ini situasi yang kubayangkan.
Aku memang tahu mustahil berharap menemukan Ayah maupun Ibu berada dalm situasi aman dan baik-baik saja—walaupun, tentu saja, jika hal itu terjadi, aku akan sangat bersyukur. Beberapa luka dan kekurangan tenaga menjadi bagian dari ekspektasiku. Itu jauh lebih baik daripada yang kulihat sekarang. Miris bagaimana aku perlu waktu lebih lama untuk mengenali ibuku sendiri. Kehidupan seakan nyaris tersedot habis darinya.
“Bu,” panggilku pelan, berhenti sejenak untuk membenarkan posisi lengannya agar lebih nyaman kupapah. Yah, mungkin bukan “nyaman”, tapi aku tidak ingin membuatnya makin tersiksa. “Apa kita per