Dugaan semua orang benar malam ini terbukti. Memang belum tiba saatnya red moon tapi bulan pun sudah menunjukkan tanda-tandanya. Disaat waktu telah memasuki Full moon, biasanya vampire yang punya pasangan akan mengalami masa heat. Sama seperti manusia serigala tapi ini rasanya berbeda. Bahkan lebih menyiksa. Seolah ada sesuatu di dalam diri yang terbakar dan panas. Beruntung sekali, Taehyung memakai cincin biru itu. Dia awalnya tidak yakin jika cincin tersebut ada kekuatan. Namun, justru setelah ia memakainya—rasa panas di tubuhnya perlahan menghilang.
Tidak sepenuhnya hilang sebenarnya. Masih ada rasa panas sedikit. Dan setidaknya itu baik daripada tidak sama sekali.
Ah, jadi inikah nanti rasanya? Batin, Taehyung. Apakah kelak dia akan merasakan panas yang sama saat bertemu pasangannya nanti? Dan mengapa Taehyung agaknya tidak rela? Tidak rela jika kelak waktu itu akan datang. Dia ingin menikmati waktunya bersama Aera. Bagaimana menjelaskannya ya? Sementara Taehyung sendiri tidak mengerti—ada apa dengan hatinya sekarang. Ada apa dengan dirinya yang begitu ingin terus menerus berada di dekat Aera.
Andai saja mereka bertemu di waktu lain. Atau bertemu saat keduanya adalah manusia biasa. Bukan takdir mengerikan yang membuatnya terpaksa bersama. Bersama dalam waktu sementara. Itu memilukan. Pasti ada diantaranya yang merasa perih ketika semua ini selesai. Kembali menjadi asing dan menganggap ini tidak pernah terjadi.
Jungkook dan Hoseok menatap, mengisyaratkan lewat tatapan mata. Bertanya-tanya Taehyung yang aneh sekali mengajak mereka berdua pergi ke perpustaakan malam-malam begini. Ingat—Taehyung tidak suka membaca.
"Hyung, apa yang kau cari?" Jungkook bertanya. "Apa kau ini berusaha membuat Aera noona terkesan?"
"Tidak. Aku kemari mencari buku yang pernah Aera baca."
"Wah apa kau terserang virus cinta?" ledek Jungkook dan dihadiahi Hoseok pukulan di pundak.
"Itu buku tua, Taehyung. Setahuku penjaga perpustakaan bilang, itu buku milik ibu." ujar Hoseok. "Semacam buku kitab sihir."
"Dan untuk apa dia membacanya? dia tidak suka dengan sihir." Taehyung tampak kebingungan. "Atau jangan-jangan dia berusaha mempelajarinya?"
"Well, mungkin? Lagipula dia memang penyihir."
Penyihir.
Terdengar menyakitkan ketika kalimat itu berdengung di telinga Taehyung. Memperingatkan bahwa keduanya adalah sosok yang berbeda jauh.
*****
Pukul satu dini hari, Aera sengaja bangun. Dia sudah memasang alarm di jam wekernya. Dia sudah mengingatkan dirinya sendiri bahwa setelah ini selesai, dia akan menerima takdirnya yang adalah penyihir. Maka dari itu dia mempelajari buku—Grand Griomoire. Itu adalah buku ilmu sihir hitam dan juga sihir-sihir baik di dalamnya.
Aera tentu harus mempelajari itu. Sebab mungkin suatu waktu dia akan membutuhkan kekuatan. Ilmu sihirnya sebatas melindungi diri. Tidak seperti penyihir hebat lain yang bahkan bisa menghilang, berpindah tempat, dan mengeluarkan air di tangannya. Aera belum menguasai semua hal itu. Dia selalu merasa payah jika di dekat Taehyung. Membandingkan dirinya dengan Taehyung yang memiliki kemampuan. Entah mengapa, dia ingin terlihat sama dengan Taehyung meski mereka nyatanya tidak sama.
Di dalam buku itu mengatakan. Ini waktunya violet hour. Saat-saat yang tepat untuk mempelajari sihir hitam di tengah malam. Tidak ada bantuan iblis atau apapun. Penyihir hanya mengandalkan kekuatan yang mereka punya sejak dari dulu. Setiap penyihir mempunyai kekuatan sejak mereka dilahirkan. Malangnya, Aera tidak pernah tahu kekuatan murni apa yang ia miliki.
Wanita itu menghela napas berat seusai mengucapkan mantra. Gagal dan rasanya kesal sekali. Aera berusaha untuk menghilang, sihir hitam yang paling sulit dipelajari. Seharusnya ia memulainya dari hal kecil. Namun, ambisinya kuat. Percaya diri jika dia bisa. Tidak semudah yang dia kira. Waktu telah berjalan satu jam.
Tanpa Aera sadari sejak dirinya mempelajari ilmu sihir, Taehyung dari jauh mengamati dengan sepasang mata merahnya. Sesekali tertawa kecil melihat wajah kesal Aera.
Di waktu selanjutnya ada keanehan yang Taehyung lihat dari Aera. Tiba-tiba duduk dengan tatapan mata kosong, dan seluruh jendela kamar terbuka dan menutup sendiri. Jelas tanpa ditanya lagi, Taehyung berlari mendekat, langsung mengguncang tubuh Aera. "Aera, sadarlah. Kau kenapa?"
Tak ada jawaban. Wanita itu diam dengan rambutnya yang sedikit terjatuh menghalangi wajahnya. Kemudian terdengar suara tawa. "Dasar bodoh. Aku tidak akan pernah membiarkan Aera jatuh di tangan kalian."
"Kau bukan Aera! Kau siapa?!" Taehyung berteriak.
Teriakan itu bergema dan membangunkan saudara Taehyung yang lain. Telinga mereka begitu peka dan sensitif. Pun itu suara anggota keluarga yang sudah pasti terkoneksi dan membuat ikut merasakan kecemasan yang ada.
"Cepat menjauh!" Yoongi berteriak, di ambang pintu bersama yang lain. Seokjin bahkan sejak tadi mengeluarkan benda yang ia punya, seperti bentuk pembelaan diri, batu kristal berwarna merah. "Jangan mencoba melakukan hal bodoh. Kau dalam bahaya!" tapi Taehyung tidak peduli, teriakan Yoongi di abaikan.
Mata merahnya menatap Aera yang entah siapa—mulai menunjukkan wujud aslinya. "Dimana Aera?! Katakan!" geram, Taehyung tangannya mengeluarkan urat hitam yang menonjol. Begitu mengerikan dan siapa saja pasti takut melihatnya.
"Kim! Menjauh!" Namjoon mulai waspada. Dia tidak bisa membaca pikiran Aera. Karena, itu mungkin bukan Aera yang sesungguhnya. "Dia bukan Aera! Bahaya jika kau memaksanya!"
"Lalu apa yang harus kulakukan?! Mengapa kalian diam saja!" Taehyung frustasi.
"Bulan merah sebentar lagi datang. Aku tahu kau dan keluargamu memanfaatkan Aera yang malang itu. Dan aku tidak mau keluargaku kau sakiti!" dia berteriak, wajahnya tampak pucat. Bukan Aera. Bukan lagi wujud yang sama. Dalam sekejap mata dia bahkan cepat berubah. Rambutnya berwarna oranye keemasan.
Taehyung melangkah mundur. Dia mencoba menyakiti wanita itu tapi tidak bisa. Sial, apakah ini penyihir lain?
"Kau kemanakan Aera?!"
"Apa hakmu bertanya! Dia bukan milikmu!" di detik yang sama, Taehyung terpental jauh mengenai cermin. Sehingga, Jungkook terpaksa turun tangan melihat kakaknya dilukai. Nalurinya muncul begitu saja, melangkah cepat membalas penyihir itu dengan segala kemampuannya.
"Berengsek! Pergi kau!" berhasil dengan ia yang mengeluarkan black magic, penyihir itu hilang.
Jungkook pernah diajarkan Ibu untuk mempelajari sedikit ilmu sihir. Ternyata dia masih mempunyai keahlian itu dalam dirinya. Disaat berbahaya seperti ini, sebagai seorang Kakak tertua—Seokjin merasa tidak berguna karena tak dapat membantu. Dia bukan vampire yang mempunyai kemampuan khusus. Punya. Tapi menurutnya tidak sehebat saudaranya yang lain.
"Hyung! Akhh, kenapa dibiarkan pergi!"
"Bocah ingusan, kau mau melihat kami semua mati!" Yoongi menjawab ketus. "Dia tidak mau kita melakukan ritual red moon dan menculik Aera. Sekarang apa?!"
Kelihatan sekali, Yoongi paling kesal. Seokjin menjawab lesu. "Tidak ada cara lain. Selamanya kita terjebak dalam sihir hitam yang Ayah lakukan."
"Sinting." maki Yoongi. "Jika kau mau. Kau sendiri! Aku masih ingin hidup dan bebas dari kutukan! Hanya Aera penyihir keturunan Dexter terakhir yang mampu menyelamatkan kita, hyung."
"Yoongi hyung benar. Kau jangan egois seperti ini. Apa hyung mau kita mati perlahan?" Namjoon berujar lirih. "Taehyung dan Aera yang berhak melakukannya. Karena mereka yang terakhir. Jikapun aku adalah keturunan terakhir, aku sudah lama mencari dia."
"Mengapa seolah kalian menyudutkanku?!" Taehyung berteriak, bangun dengan sedikit terjatuh. "Ini bukan yang aku inginkan! Aku terlahir jadi manusia dan berubah!"
"Seharusnya hyung tidak usah selamatkan aku dan biar saja aku mati!"
"Tutup mulutmu!" Yoongi meninggikan suaranya. "Lebih baik kau cari Aera. Waktunya tersisa tiga hari lagi. Dan, Jungkook gunakan kemampuanmu untuk mencarinya."
"B-baik hyung." Jungkook menunduk, tak berani menatap Yoongi yang wajahnya sudah sedingin es, belum lagi mata biru safirnya yang berapi. Menandakan dia memendam emosi.
Taehyung terduduk lemas mengacak rambutnya. Menyalahkan diri sendiri. Kalau ia tak membiarkan Aera sendirian, mungkin Aera tidak akan di culik penyihir itu.
"Kau istirahatlah dulu. Minumlah darah yang nanti kusediakan." ujar Seokjin. "Maaf semua ini adalah salahku."
"Tidak. Ini bukan salahmu, hyung. Ini salahku. Kesalahanku yang melibatkan perasaan. Ini tidak harus terjadi saat kita membutuhkan Aera. Aku tidak boleh egois. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya."
[]