Hari ini lumayan membosankan menurut Embun, entah mengapa nafsu makannya tiba-tiba menghilang tanpa sebab. Tubuhnya juga lelah sekali seakan ada beban berat di kepalanya. Dia sekarang terdampar di halte SMA Lengkara, untungnya keadaan halte tersebut sudah sepi. Embun hendak mengambil ponselnya ditas untuk memesan ojek saja, karena ia yakin di jam segini mana mungkin ada kendaraan umum yang lewat. Namun, gadis itu kembali menghela napas kesal mengingat ponselnya tertinggal di bawah meja kelas.
“Udah jam setengah lima sore, terus langit juga mendung. Jadi hujan gak ya?” gumamnya.
“WOI, EMBUN! MAU PULANG GAK?”
Embun menoleh mendapati Ona sedang berada di seberang jalan sambil melambaikan tangannya. Embun pun buru-buru menghampirinya bergegas masuk kedalam mobil.
“Lo baru pulang kak?”
“Iya, lo kenapa baru nongol?” tanya Ona “Padahal yang lain gue liat udah pulang duluan,” lanjutnya.
“Gue ketiduran dikelas,”
Ona mengangguk singkat lalu kembali fokus menyetir dan sesekali bergumam mengikuti alunan lagu Umbrella – by Rihana. Sementara Embun fokus pada kaca mobil yang menitikkan air. Hujan mulai turun membuat pandangan kian berkabut dan Ona memilih memelankan laju mobilnya.
“Lo kenapa gak bawa mobil?”
“Mager,”
Embun bersandar dikursi mobil memejamkan matanya lalu kembali berucap. “Capek juga ya jadi manusia harus bolak balik ke sekolah, gue rasanya pengen jadi kambing sehari.”
“Kambing ngepet!” seru Ona.
Embun melamun dalam diamnya sambil bergumam. “Langit, bisa kau turunkan jodoh untukku? Aku capek digantung mulu,”
Hujan perlahan reda menjatuhkan bulir airnya. Matahari juga mulai terbenam di ufuk timur dengan lekungan pelangi disebelahnya. Sungguh pemandangan yang memanjakan mata.
“Percuma juga sih, kan kita lagi di dalam mobil” sahut Ona.
“Dingin-dingin gini enaknya makan mie kuah pake telor, terus minumnya yang hangat.”
Embun mengangguk setuju. Mereka terus membicarakan topik random dan tidak terasa mobil Ona sudah memasuki pekarangan rumah yang besar dan dipenuhi dengan tanaman menghijau. Terlihat sangat asri, damai, dan menyegarkan.
“Yang masuk rumah duluan orang gila!” seru Embun langsung membuka pintu mobil dan ngacir pergi.
“CURANG LO! Eh, tapi kan kata dia ... Yang.masuk.rumah.duluan.orang.gila.”
Ona melangkah santai sambil menghitung ubin yang dipijaknya, di depan pintu matanya melihat Embun masih duduk manis memandang kearah sangkar burung bucin alias Lovebird.
“Ngapain lo?” tanya Ona ikut duduk ditangga.
Embun menoleh dengan kedua tangan didagu. “Kan yang masuk rumah duluan orang gila! Jadi gue nunggu lo masuk duluan.”
“Dih, ogah! Masuk aja lo duluan sana!”
Mereka akhirnya larut dalam pergibahan dengan topik pembicaraan tentang reproduksi hewan. Langit pun mulai menggelap membuat keduanya masuk kekamar masing-masing untuk berganti pakaian. Setelah itu, Ona dan Embun kompak mengunjungi dapur.
Dapur menjadi tempat favorit mereka ketika sedang lapar. Semua bahan makanan sudah tersedia dan mereka tinggal mengolahnya sendiri. Dirumah sebesar itu memang sengaja tidak memiliki pembantu.
“Menurut lo nih telor bakal utuh atau pecah?” tanya Ona hendak menceburkan kedua telur tersebut.
“Satu pecah satu utuh,” tebak Embun.
TUK !
TEK !
Dan ... Boom! Ternyata tebakannya tidak meleset. Satu kuning telur utuh dan satunya berderai.
“Wow! Karena lo bener gue kasih hadiah jeruk sambal sebiji.”
“Ck! Itu kan banyak di kulkas.”
Ona menggeleng. “Karena spesial jadi gue bakal petik langsung dari kebun samping,”
“Udah, gausah aneh-aneh lo! Cepetan angkat mie nya gue udah laper.”
Aroma mie instan menyerbak kemana-mana membuat cacing perut beraksi. Ona dan Embun langsung menuju ruang keluarga untuk menonton tv. Kedua orang tua mereka selalu pulang larut malam jadi tidak heran kini hanya mereka berdua saja dirumah.
Waktu berlalu dan dan hari semakin malam membuat Ona terus menguap lebar. Acara tv juga sudah berganti menjadi acara reality show bertema horor jika menjelang malam hari.
“Gue udah ngantuk banget,” gumam Ona.
Embun mendongak melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul 9 malam. “Sama, gue duluan ya?” Ona mengangguk setengah sadar.
Embun langsung meluruh masuk kekamarnya dan terduduk disamping tempat tidur sambil memegangi perutnya. Tulang-tulang rusuknya seperti saling menjepit hingga bernafas saja sangat sesak. Embun dengan cepat meraih botol obat dilaci nakas lalu meminumnya.
“S-sakit banget...”
Air mata gadis itu meluruh jatuh bertetesan diatas ubin yang dingin. Embun akhirnya memilih naik ke atas tempat tidur merengkuh tubuhnya sendiri. Kedua matanya perlahan terpejam, sepertinya nanti ia harus kembali kerumah sakit lagi.
--0o0--
Gerbang SMA Lengkara ternyata sudah ditutup, Embun menghela nafas panjang karena ketiduran di kamar mandi tadi pagi. Kini ia harus terlambat seorang diri untuk yang kesekian kalinya. Meminta bantuan satpam membukakan gerbang adalah 7 keajaiban dunia jika dituruti. Embun celingukan memeriksa keadaan lalu berlari kepagar belakang memilih memanjat saja. Langkah pertama yang wajib dilakukan adalah melemparkan tas terlebih dahulu. Selanjutnya cari cara jitu untuk memanjat pagar yang tinggi jika tidak ada tangga.
“Udah lama gue gak manjat,” gumamnya pelan.
Embun adalah salah satu biang masalah atau troublemaker dengan kasus terparah dulu. Ia juga masuk jajaran murid dengan nilai terendah. Benar-benar prestasi yang memukau. Tepatnya seminggu yang lalu kepala sekolah mengancam akan mendrop-out Embun karena kesalahan yang kembali terulang.
Namun, Embun tidak jadi dikeluarkan dan diberi hukuman tambahan yaitu berdiam diri dimushola SMA Lengkara. Alhasil selama sepekan setiap jam istirahat Embun berdiam diri disana untuk rebahan, karena mushola adalah tempat yang paling adem.
“Baaa ... Mau ngapain hayo?” Athar datang tiba-tiba dengan membawa tangga entah darimana mengejutkan Embun yang sedang melamun.
“Kayak setan lo!”
“Lo pasti telat kan? Gue kira lo udah insyaf,” ucap Athar mulai memanjat.
Embun mendengus. “Lo juga telat nastar!”
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Athar adalah salah satu partner Embun jika terlambat sejak SMP, padahal rumah laki-laki itu tidak jauh dari sekolah. Satu komplek dengan Shaka, tetapi seperti beda jalur. Sebenarnya setiap pergi dan pulang sekolah laki-laki itu ada urusan lain. Oleh karena itu, ia selalu dikejar waktu.
“Telat itu adalah rutinitas yang mempersehat jantung, Embun.”
Mereka berdua sama-sama sudah berada diatas pagar sekarang dan langsung kompak melompat turun.
HAP!
“Gimana? Aman?”
“Aman! Eh, Shaka?” Embun kaget melihat wujud Shaka sudah berada didepan mereka sambil bersidekap d**a. Biasanya laki-laki itu selalu berada di ruang Osis atau di kelas untuk menulis agenda. Athar hanya melirik santai, karena sudah terbiasa melihat sahabatnya itu berpatroli pagi sejak beberapa hari terakhir.
“Lari lapangan 5 kali gak pakai nego!”
Athar justru menarik tangan Embun mengajaknya berjalan mendahului Shaka. “Tabung dulu hukumannya, Shak.” Mereka berdua pun langsung berlari menjauh sambil tertawa.
Shaka mengelus dadanya lalu ikut melangkah masuk menuju kelas. Suasana kelas XI IPS 1 sangat riuh karena belum ada guru yang mengajar. Embun dan Athar yang baru datang langsung duduk di bangku masing-masing.
Pembagian kelas di SMA Lengkara menurut nilai dan kesetujuan siswa. Shaka digadang-gadang kan masuk IPA oleh para guru, tapi Shaka lebih memilih IPS dan sekelas dengan teman-temannya.
Embun pun merasa paling diuntungkan atas itu, karena jika berharap pada nilai mana mungkin dia bisa ikut masuk kelas IPA. Ditambah pembagian tempat duduk yang sangat strategis menurut Embun, karena sebangku dengan Shaka lagi.
“Masih aja lo ngelanggar peraturan.” sindir Shaka yang sudah duduk di kursinya.
Embun menyengir. “Gue kesiangan,” jawabnya.
Shaka tak menanggapi dan sibuk dengan ponselnya. Embun menoleh lagi lalu mengecek tasnya mencari sesuatu, tetapi tidak ada. Apa ketinggalan? Batinnya. Mendadak gelisah ditempat membuat Shaka menoleh padanya sekilas. “Kesurupan lo?”
“Nggak! Gue ... Cuma penasaran kenapa lo gak pernah balas chat gue?” tanya Embun.
“Penting? Nggak kan?”
“Sekali-kali coba deh balas chat gue, dijamin pasti ketagihan.”
“Lo itu cewek apa bukan sih? Punya harga diri gak? Kerjaan lo cuman bisa ganggu gue doang!” perkataan seperti itu sudah biasa keluar dari mulut Shaka, namun Embun seakan menebalkan telinganya. “Cinta itu harus ada perjuangan Shaka, kalo lo gak mau berjuang sama-sama setidaknya jangan pernah suruh gue mundur.”
“Emang ada yang nyuruh lo maju?” tanya Shaka.
“Tapikan---“
“Selamat pagi anak-anak ...”
“SELAMAT PAGI, PAK!”
“Hari ini ada ulangan matematika jadi bapak harap kalian mengerjakannya dengan baik.”
DEG!
“Sejak kapan bapak bilang bakalan ulangan hari ini?” tanya Bryan.
“Memang tidak ada nak Abdul, saya sengaja ulangan tambahan secara dadakan.” jawab Pak Naloh.
“Pfft ... Abdul.”
Seisi kelas menunjukkan ekspresi yang sama dan sangat menyebalkan bagi Bryan. Sangat menyebalkan ketika ada orang yang memanggilnya dengan nama Abdul. Bukan tidak menghargai nama pemberian tersebut, namun ia justru tidak suka orang lain seakan mengejek nama depannya.
Pak Naloh mulai membagikan kertas soal beserta lembar jawaban lalu kembali duduk di depan mengawasi mereka. Ulangan selalu berlangsung hening karena murid lebih memilih saling diam. Diam-diam melempar kertas, diam-diam saling memberi kode atau diam-diam menghitung kancing baju. Seperti yang dilakukan Embun sekarang.
“Cap, cip, cup, kembang, kuncup!” gumam Embun pelan. “Bismillahirrahmanirrahim.” Embun dengan keyakinan tingkat tinggi langsung menyilang jawaban yang menurutnya benar, karena seperti perintah yang tertulis di bagian atas kertas.
Pilihlah jawaban yang menurut kamu benar.
Ketika membalik kertas soal ke lembar terakhir, ternyata lima soal penutup adalah essay, Embun reflek menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya seketika panas dingin. Pasalnya jika pilihan ganda masih bisa ia toleransi, tapi kalau sudah soal essay, Embun yakin jawabannya pasti beranak-anak.
Embun berusaha kembali fokus pada soal yang terdapat x dan y turut ikut campur. Jujur saja walau dia anak IPS, tapi jika menyangkut soal essay, Embun lebih suka pelajaran biologi.
Apa fungsi hati? Ya mencintai. Jawabnya yakin.
“Sak! Piw, piw, Shaka?” bisik Embun pelan.
Shaka sedikit menoleh memicingkan matanya. “Seorang gadis cantik yang duduk di sebelahmu sekarang sedang membutuhkan sebuah coretan untuk menjawab soal nomor 3---“
“Ck, bilang aja lo mau nyontek!” sela Shaka.
“Belum juga selesai ngomong,”
Embun merotasikan kepala nya untuk mencari mangsa lain saja. “Gara, ssht!” Tenggara menoleh seraya mengerutkan alisnya.
“Nomor 3 menurut lo jawabannya apa, Gar?” tanya Embun berusaha berbisik.
Tenggara menyerahkan kertas ulangannya kepada Embun lalu menelungkupkan kepalanya ke meja. Embun justru melotot kaget melihat Tenggara begitu santainya memberi kertas keramat itu. Alhasil Pak Naloh juga ikut menoleh ke arah mereka.
“KERTAS SIAPA ITU EMBUN ALARA?!” teriak Pak Naloh dan langsung berjalan cepat menuju kearahnya. Embun dengan susah payah meneguk ludah nya lalu menyerahkan kertas milik Tenggara.
Pak Naloh mendelik garang dan langsung mengambil kertas tersebut. Cukup lama ia membacanya membuat Embun terus menutup mata. Sedetik dua detik berlalu, hanya ada keheningan.
Mampus deh gue, batin Embun.
Setelah beberapa saat Pak Naloh ternyata sudah kembali ke mejanya tanpa mengomel sedikit pun. Embun mengerjap bingung lalu mengecek kertas tersebut.
Nama yang tertulis adalah namanya padahal itu adalah kertas milik Tenggara tadi. Embun lantas menoleh ke samping melihat kertasnya sudah berpindah pada Tenggara dan dia baru ingat dikertas itu kolom nama masih kosong.
Tenggara memiringkan kepalanya kearah Embun. “Gue tadi tulis nama lo dikertas punya gue pas lo minta jawaban. Tukeran aja,” ucap Tenggara pelan lalu lanjut mengisi jawaban dikertas milik Embun yang masih banyak celah.
Embun mengangguk. “Makasih!” bisiknya.
Tenggara tidak menanggapi membuat Embun mengalihkan pandangan nya ke depan. Dia memang sudah mengenal Tenggara cukup lama, selama dia mengenal Shaka pula. Tetapi mereka tidak terlalu akrab, karena Tenggara yang lebih suka menjadi pendiam.
Sangat berbeda sekali dengan Shaka. Sosok paling menyebalkan, tidak peka, suka marah-marah, tidak jelas, sok ganteng, dan yang paling penting Shaka itu sangat jarang membalas chat Embun. Itulah Shaka versi lite.