Mata Oliver memandang sejak dari rambut dikepala Emma, wajahnya yang tirus, kulitnya putih bersih berkilau seakan bila lalat hinggap diwajahnya akan terpelesat jatuh lalat itu. Rambut yang terselip dibelakang telinga Emma menjuntai diujung bibirnya, tak luput diperhatikan oleh Oliver lekuk bibir Emma yang penuh, merah merona alami, membuatnya seakan ia ingin berusaha mencoba untuk mengecupnya dan merasakan kuluman bibir atas dan bibir bawahnya, Lalu mata Oliver menelusuri bagian leher Emma terdapat tanda lahir kecil - tipis dengan perbedaan kulit lebih gelap, berharap ia menjadi vampire saat ini juga. Perasaan hati dengan diingini dan tidak diingininya, matanya tak kuasa menahan untuk melihat bagian terbawah leher mulus itu. Sepasang buah d**a yang Indah, sekal seakan-akan melawan gravitasi, batin Oliver 'Mungkin size-nya 32C atau 32D atau mungkin 34A' , Entahlah dalam pikirannya, ia tidak ada pengalaman dalam hal ukuran buah d**a wanita.
Emma memakai t-shirt putih, tidak tipis juga tidak terlalu tebal, namun masih dapat dilihatnya bayang-bayang bagian dalamnya. Begitu detail Oliver memperhatikan setiap rincinya. Oliver merasa bersyukur dengan pilihan Coffee table yang menjadi furniture dalam apartment Emma, meja kecil dengan tinggi yang pas seakan menjadi sandaran buah d**a Emma.
Tiba-tiba Emma menegakkan tubuhnya dan mengacungkan kertas-kertas soal dengan penuh semangat, tidak menyangka bahwa Oliver sudah duduk persis didepannya, Ia mengira bahwa Oliver masih mengambil air minum di area kulkas. Kertas-kertas penuh soal dan coretan marking tinta merah melambai mengenai wajah Oliver, satu lembar kertas kaku mengenai retina matanya. Tidak Sempat Oliver menghindar memejamkan mata dari kertas tersebut, ujung kertas yang mengenai lapisan sklera matanya, lapisan mata terluar. Oliver merintih kesakitan, secara natural mata Oliver berurai air mata menandakan bahwa ada suatu benda asing mengenai matanya. Emma menjadi panik, takut kalau-kalau akan membahayakan mata Oliver.
"Oh, Ollie are you OK?
I'm so sorry Ollie. Oh, Ollie." seraya mendekap wajah Oliver dengan kedua tangannya, mengecek mata kiri Oliver.
"it's hurt a little" jawab Oliver berusaha meredakan kepanikan Emma. Namun entah mengapa panggilan 'Ollie' oleh Emma yang berulang terasa merdu di telinganya, ditambah sentuhan tangan Emma diwajahnya membuatnya salah tingkah, merasakan darah hangat berkumpul naik keseluruh wajah Oliver.
Bergegas Emma masuk kedalam kamarnya mencari obat tetes mata, berharap dapat meringankan perih dimatanya.
"sebentar Ollie, aku cari obat tetes mata di kamar" ucap Emma, sambil berlari kekamar.
"Ok" jawab Oliver, sambil mengedip-ngedipkan matanya berusaha meredakan rasa perih, tidak berani ia menyentuh matanya takut hanya akan memperparah luka dimatanya.
Emma keluar dari kamar mengenggam obat tetes mata ditangannya, dengan sedikit berlari.
"Ollie, sini" Emma menarik wajah Oliver mendekat kewajahnya agar ia dapat memeriksa dengan jelas luka pada mata Oliver.
Oliver berusaha membuka matanya, namun terasa perih cepat-cepat menutup kembali matanya namun hal tersebut juga tidak menolongnya menjadi lebih baik, air matanya terus bercucuran, Emma meraih tissue dari meja Tv dan mengusap air mata di wajah Oliver. Dipaksanya dengan jari lentik Emma untuk membuka mata kiri Oliver, dan diteteskannya obat mata kedalam mata kiri Oliver.
Dilepaskannya wajah Oliver, dan Emma sedikit menjauh namun masih dipandangnya lekat-lekat wajah Oliver terutama mata bagian kiri.
"apakah masih sakit?" tanya Emma penuh kekuatiran
"sedikit" jawab Oliver
"apakah perlu dikompres?"
"I don't know! Coba saja" jawab Oliver.
Emma tergesa menyiapkan es batu kedalam wadah kantong kompres, dan kembali kepada Oliver, menuntunnya untuk duduk disofa dan menaruh kantong kompres air dingin dimata kiri Oliver. Emma duduk miring disebelah Oliver, dipandangi wajah Oliver sambil menunggu cemas berharap mata kiri Oliver segera membaik. Mata kanan Oliver berusaha memandang Emma, namun dengan sigap tangan Emma menekan dahi Oliver agar ia bersandar menghadap langit-langit plafon.
"diam Ollie" perintah Emma,
"yes, ma'am" jawab Oliver dengan nada hentakan khas prajurit.
Emma tidak ada selera menanggapi candaan Oliver.
"bagaimana matamu?"
"sepertinya mulai membaik" jawab Oliver, diangkatnya kantong kompres dari matanya, seolah mempersilakan Emma untuk mengecek keadaan mata Oliver agar kekuatiran Emma berkurang.
Mata kiri Oliver perlahan sudah dapat terbuka tanpa merasakan perih dan air mata tidak lagi keluar, perlahan Oliver membuka kedua mata, awalnya buram namun berangsur jelas. Tubuh Emma setengah beranjak dari sofa mendekatkan dirinya kehadapan Oliver, dilihatnya wajah Emma dekat didepan wajahnya, mata Emma memandang kedalam mata kiri Oliver berusaha mengecek apakah luka goresan oleh kertas soal tadi dapat dilihatnya dengan mata telanjang. Baru kali ini Oliver memandang begitu dekat wajah Emma, serasa hanya se-centi dekatnya. Begitu dekatnya hingga harum tubuh Emma dapat tercium, harum yang khas yang akan diingatnya seumur hidup. Dipandangnya wajah Emma yang cantik, dilirik bibir merah muda yang terbuka, hasratnya tak terbendung lagi. Tanpa disadari tangan kanan Oliver sudah berada dipipi Emma dan menariknya lebih dekat kewajahnya hingga bibir mereka saling bersentuhan. Emma tersentak, "Ollie.." wajah Emma menjauh namun tidak cukup jauh. Mata mereka bertemu, entah keberanian darimana datangnya, tangan Oliver kembali menarik wajah Emma untuk mendekat dan mereka berciuman dengan penuh hasrat.
Rasa penasaran Oliver akhirnya terpenuhi, bibir Emma yang nikmat, bibir yang penuh, dikulumnya dengan lembut saling beradu, ciuman yang basah tercium bau khas nafas Emma meningkatkan birahi Oliver, tangan kiri Oliver tanpa disadari-nya sudah memeluk pinggang Emma, seolah birahinya yang memerintakan tangannya untuk bergerak bukan otaknya, pikirannya menjadi tumpul, birahinya yang memegang kendali.
Kali ini 'amin' - nya kalah dalam pertarungan batin.
*Aku jatuh... *
Kriiiing... Kriiiing...
Bunyi suara telephone masuk dari handphone membawa mereka tersadar. Oliver segera meraih Handphone menjawab,
"Hallo!"
"baik saya segera turun ke lobby"
Emma bisa menebak bahwa supir Oliver yang baru saja menelepon.
"ehm, supir ku sudah tiba" ucap Oliver sedikit canggung, sambil membereskan kertas-kertas soal dan beberapa alat tulis.
"well ok" jawab Emma, tak kalah canggungnya.
"ehm, maaf soal matamu"
"kecelakaan tidak ada yang tau kapan datang" jawab Oliver sambil tersenyum.
Baru kali ini Emma melihat Oliver tersenyum manis, bukan senyum kikuk yang biasa menempel pada bibirnya.
"aku temani sampai lift, karena harus memakai sidik jariku untuk menekan tombol"
"tidah usah, 'kan bisa langsung pencet tombol lobby tanpa sidik jari " jawab Oliver.
"aah, benar juga" jawab Emma, karena jarang mendapat kunjungan hingga Emma lupa hal tersebut bisa di lakukan tanpa sidik jari.
"bye" ucap Oliver yang sudah berdiri didepan pintu,
"bye" balas Emma sambil melambaikan tangan.
Begitu pintu tertutup, Emma langsung menuju sofa menghempaskan diri terduduk, menutup wajah dengan kedua tangannya.
Emma.. Emma.. apa yang telah kau lakukan.
Batin Emma, tak percaya apa yang baru saja terjadi,
Apa kau sudah gila Emma.
Sementara Oliver didalam lift
Ollie.. Ollie... Ollie...
Batin Oliver sambil menggelangkan kepalanya sendiri,
darimana keberanianmu datang
Mengingat kembali ciuman pertamanya dengan Emma, membuat Oliver tidak dapat menahan untuk tersenyum sendiri.
Ia bersyukur didalam lift hanya ia seorang diri, bila ada orang melihat siapapun akan tau bahwa ia sedang jatuh cinta.
Setibanya Oliver di lobby, bergegas ia masuk kedalam mobil
"sudah lama menunggu Pak?" tanya Oliver kepada sang supir.
"belum lama, Kebetulan lobby sedang sepi jadi bisa 'nge-tem'." jawab sang supir, sambil memandang Oliver melalui kaca spion tengah.
"oh" ucap Oliver, sambil memandang hiruk pikuk jalan melalui kaca jendela disampingnya.
Setelah sang supir melaju kendaraan pada jalur kiri, dilihatnya Oliver kembali oleh sang supir. Tertangkap oleh-nya senyuman Oliver melalui kaca spion,
Sepertinya hari ini hari yang baik
Batin sang supir, ungkapan kepeduliannya kepada anak sang majikan yang sudah ia layani bertahun-tahun lamanya.
Perjalanan pulang Oliver terasa singkat, diputarnya terus memori "ciuman maut" dalam otaknya seperti kaset pita gulungan tahun 90-an, seolah takut hilang dari ingatannya. Senyuman Oliver sepanjang perjalanan seperti riasan makeup Joker yang tidak dapat luntur karena sudah waterproof, senyuman lebar seperti mulut yang sobek. Langkahnya terasa ringan, lenggok-nya seolah-olah ia telah terlahir menjadi pria seutuhnya sejak dari rahim Ibu-nya.
Ah, Cinta pertama, Cinta monyet
Cinta yang tak lekang oleh waktu
"Oll, telat sekali hari ini kamu pulang." tanya Ibu Oliver, Sesampainya Oliver didalam rumah.
"lapar?!" lanjutnya
"sedikit!" jawab Oliver
"sebaiknya kamu bersihkan diri lalu cepat makan, daddy sudah lapar"
Perintah Ibu Oliver.
"Ok".
Tidak lama kemudian Oliver sudah duduk di meja makan, Ibunya sibuk menyiapkan makan malam untuk suami dan anaknya.
"Oll, bagaimana persiapan ujianmu? Apakah begitu sulit sampai-sampai hari ini pulang lebih telat!" tanya Sang Ayah.
"yah sedikit, karena ada beberapa soal yang masih belum paham, Dad"
"so, sudah bisa? Ingat kamu harus mempersiapkan diri masuk Uni. Jangan terlalu banyak bergaul dengan buku, Oll. Bagaimana kegiatan organisasi-mu? Penting Oll, sebagai referensi kampus tujuanmu, cari pengalaman diluar sana jangan selalu berkutat dengan academic-mu." ceramah Ayah Oliver
" yes Dad, ujian tinggal satu minggu lagi, kami masih mempunyai waktu, aku sudah punya rencana. Kami mencoba ikut bazaar suitable product, mencari pengalaman bagaimana manage bisnis dan pengolahan lingkungan" jawab Oliver
"That's great. Daddy percaya kemampuanmu. Well, Good Luck. Oll" support sang Ayah.
"Thanks, Dad."
Hubungan Oliver dengan orang tuanya sangat terbuka, anak semata wayang kebanggaan mereka. Namun untuk urusan yang menurut Oliver adalah privacy, lebih baik ia simpan sendiri. Terutama pengalamannya dengan Emma bukan hal yang dapat ia ceritakan terbuka kepada kedua orang tuanya.
*The last two weeks*
Keesok harinya, ketika Oliver tiba di sekolah, matanya mencari sosok Emma. Disepanjang lorong koridor kelas hanya ada anak-anak murid yang bersiap memasuki ruang kelas, lalu dilihatnya di ujung lorong sesaat Emma berbelok, tepat lurus dihadapannya selangkah demi selangkah kian dekat.
"morning " Sapa Oliver
"morning " jawab Emma, berjalan melewati Oliver dan membelakangi. Oliver terpukau terhenti langkahnya, dan yang terdengar sekarang hanyalah suara heels Emma dan wangi parfum yang tertinggal di udara. Oliver membalikan badan dan melihat punggung Emma yang kian menjauh.
Saat break makan siang, Oliver tidak menyerah, ia masih berusaha untuk berbicara dengan Emma, seperti ingin menjelaskan bahwa semua baik-baik saja diantara mereka. Lalu didapatinya Emma sedang berjalan melintasi kantin, dan Oliver segera bergegas menghampiri Emma.
"apakah diantara kita baik-baik saja saja?" tanya Oliver
Emma terkejut dan menoleh.
"Oliver Lewis, kejadian kemarin adalah sebuah kesalahan. Aku tak seharusnya membiarkan itu terjadi" ucap Emma sambil berjalan, Oliver menyesuaikan langkah Emma.
"bagiku bukan kesalahan dan aku tidak menyesal" tegas Oliver.
Emma kembali terkejut oleh pernyataan Oliver, langkah Emma terhenti memandang serius kepada Oliver serta memperhatikan sekeliling mereka memastikan jangan sampai ada orang lain mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Ollie, aku sibuk sekarang. Kau tau minggu depan sudah masuk masa ujian. Lebih baik kau berkonsentrasi dengan latihan soal mu daripada memikirkan kejadian kemarin. Aku tidak ingin upaya kerasmu selama ini menjadi sia-sia." ucap Emma dengan raut wajah serius.
"Akan ku buktikan padamu, bahwa kejadian aku menciummu tidak akan berpengaruh pada ujianku, bahkan mungkin akan menjadi penyemangatku. Berjanjilah padaku, setelah ujian selesai kita akan bicarakan perilah ini" tegas Oliver tak kalah seriusnya dengan Emma.
Emma terkesima oleh semua ke-ngotot-an Oliver, Oliver yang ia kenal seakan berbeda dengan Oliver yang dihadapannya sekarang.
"Berjanjilah padaku! " ucap Oliver kembali, dipandangnya Emma lekat-lekat menunggu jawaban.
"Emm..." sebelum Oliver menyelesaikan kata-katanya, Emma langsung memotong
"Ok, Ok.. Aku janji. Ingat janjimu juga Ollie"
"aku tak akan mengecewakanmu"
Oliver berusaha meyakinkan Emma.
Emma terdiam, dan berbalik. Kembali melangkah dan meninggalkan Oliver.
Oliver masih terdiam berdiri, mencerna setiap pembicaraan yang baru saja terjadi.
Dikejauhan Sora memperhatikan Oliver dan Emma seperti terjadi pembicaraan serius, namun ia tidak dapat menerka apa yang mereka bicarakan.
Lalu mata Oliver dan Sora bertemu, Sora mengganggukan kepalanya seolah dengan isyarat kepalanya menanyakan kepada Oliver apa yang baru saja terjadi, dan Oliver hanya tersenyum menggelengkan kepala kepada Sora.
Dengan penuh tekad Oliver ingin memenuhi janjinya kepada Emma, ia berusaha dengan serius disisa satu minggu menjelang ujian.
Pelajaran tambahan tidak lagi diberikan, karena para guru sibuk mempersiapkan minggu masa ujian.
Ketika jam kelas Emma tiba, Oliver menanti dimejanya.
"Ok Guys, ujian akhir tinggal minggu depan. Aku harap kalian semua menggunakan waktu kalian dengan baik, karena aku tidak mau ada yang tertinggal di kelas ini, paham?!"
Ucap Emma begitu lantang, ketika memasuki ruang kelas.
Emma hanya berfokus kepada tugasnya, agar setiap murid mendapat nilai yang baik pada ujian akhir. Begitu tegas dan killer - nya Emma, membawa suasana kelas begitu tegang, sangat kontras dengan beberapa hari lalu Emma masih dapat bersenda gurau dan lebih relax.
Disepanjang satu minggu yang tersisa, Oliver begitu seriusnya mempelajari setiap subject pelajaran, janjinya pada Emma menjadi penyemangatnya. Ia memahami sikap Emma yang begitu tegang, Selain yang telah terjadi diantara mereka juga minggu tegang menjelang ujian akhir.
*This is it*
Pada minggu ujian tiba, terlihat wajah horror aura stress bagi sebagian murid, namun tetap saja masih ada murid yang terlihat santai, murid yang tidak ada niat untuk memperjuangkan nilai dan academic, bagi mereka sekolah hanya melewati masa remaja.
Begitu hari terakhir ujian, semua murid begitu senang. Mulai terdengar candaan senda gurau disepanjang lorong, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang terdengar hanya suara grasak grusuk bisikan seolah menghafal matra, sebagian berdiskusi, sebagian fokus pada buku yang dibawa kesana kemari.
"Aarhg..." direnggangkannya tubuh Emma dalam posisi duduk, diruang guru. Diperiksanya kembali kertas-kertas jawaban ujian bertumpuk dimejanya.
Didapatinya nama Oliver pada lembar kertas jawaban yang hendak diperiksanya, kembali ia teringat pembicaraan terakhir mereka.
Aaah Ollie, kau membuatku pusing
Batin Emma, lalu diperiksanya setiap jawaban dalam lembar kertas tersebut, ditandainya dengan tinta merah.
Rupanya kau menepati janjimu, Ollie.
Batin Emma.