"Mereka akan segera menikah..."
Kalimat itu terus saja mendengung berulang-ulang di telinga Zaviest, membuatn seluruh inderanya lumpuh dan hanya mampu menatap kosong ke arah taman yang ada di luar jendela kamarnya. Harapan yang membumbung tinggi di hatinya itu runtuh setelah pijakannya tak lagi utuh.
Tak hanya ucapan itu yang terus membayangi Zaviest. Begitu melihat sosok Vizena yang begitu menawan dengan gaun putih menutup perutnya yang membuncit itu telah memerangkap seluruh jiwanya hingga tak bisa lepas dari angan semunya.
Seandainya dia bisa memutar waktu, dia ingin menyentuhnya, merasakan bahwa sosok itu benar-benar nyata bukan khayalannya semata dan membawa tubuh Vizena ke dalam dekap hangatnya, tak akan melepaskannya lagi apapun yang terjadi. Hanya saja, keberaniannya yang seb