Brugh...
Davin yang terburu-buru menuju kelasnya tanpa sengaja menabrak seorang gadis hingga membuatnya terjatuh. "Sorry, gue buru-buru dan nggak merhatiin ada lo. Lo nggak apa-apa, kan?" tanya Davin pada gadis tersebut seraya mengulurkan tangannya berniat membantu berdiri.
"Gue nggak apa-apa, kok," ucap gadis itu sambil menunjukkan sebuah senyuman yang tak asing bagi Davin. "Terima kasih, ya!" lanjutnya yang kemudian langsung pergi begitu saja, meninggalkan Davin yang masih mematung berusaha mengingat pemilik senyuman tersebut.
Mata dan senyuman itu ..., batin Davin.
"Hei, lo anak baru ya? Nama lo siapa?" teriak Davin.
Gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik, "Nama gue, Putri," jawab gadis itu. Entah mengapa Gadis itu begitu senang melihat Davin, hatinya berbunga-bunga.
"Kiara Salsabila Putri," lanjutnya seraya langsung berlari meninggalkan Davin.
Cia, batin Davin.
Davin masih mematung di sana, dia bergeming. Ingatan masa kecilnya bersama Kiara, dan janji yang diucapkan di hadapan kedua orang tua mereka berputar begitu saja dalam pikirannya, membuat remaja laki-laki tanggung itu melupakan akan tugas yang harus segera dia selesaikan.
"Vin, lo ngapain di sini? Bengong lagi," tegur Shifa, seorang gadis cantik di sekolah itu.
Tentu saja teguran itu berhasil membuyarkan lamunan Davin tentang Kiara.
"Eh, Shifa, siapa yang bengong? Gue cuma lagi lihatin itu anak baru," elak Davin.
"Anak baru? Mana? Cewek apa cowok?" tanya Shifa.
"Cewek, namanya Cia, eh maksud gue Putri," jawab Davin sambil tersenyum simpul saat mengucapkan nama Kiara.
Melihat senyuman Davin yang dirasa berbeda, membuat hati Shifa seperti terbakar. Shifa selama ini memang bersahabat dengan Davin, tetapi persahabatan itu sebenarnya hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi perasaan Shifa yang sesungguhnya terhadap Davin.
Davin tidak hanya seorang siswa teladan dan berprestasi di bidang akademik di sekolah tersebut. Namun, parasnya yang tampan dan sifat yang humble membuat Davin disukai banyak gadis di sekolah itu, tidak terkecuali Shifa.
Banyak yang berusaha memikat hati Davin, tetapi tak ada satu pun di antara mereka yang berhasil meluluhkan hatinya. Dari sekian gadis di sekolah tersebut, hanya Shifalah yang berhasil menjadi orang terdekat Davin sejak awal masuk sekolah itu.
Shifa sempat beberapa kali mengutarakan perasaannya pada Davin. Namun, tak pernah sedikit pun Davin menggubrisnya. Davin selalu mengatakan jika dirinya tak ingin persahabatan di antara mereka berdua akan rusak jika terlibat hubungan yang lebih jauh.
"Vin, PR lo sudah selesai?" tanya Shifa mengalihkan fokus Davin dari murid baru bernama Putri itu.
"Eh iya, hampir aja lupa. Lo sudah selesai kan, Shif?" ujar Davin.
"Sudah, yuk ke kelas biar lo bisa cepet-cepet selesain PR-nya," ajak Shifa yang dijawab anggukan oleh Davin.
"Cuma Davin aja nih, Neng yang dikasih contekan? Bang Fajar enggak, nih?" ucap seseorang bernama Fajar yang tak lain merupakan sahabat Davin juga.
Fajar merangkul pundak Shifa, tetapi dengan segera gadis itu menepisnya.
Davin yang melihat tingkah konyol Fajar hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, mengingat perjuangan Fajar untuk mendapatkan hati Shifa belum juga membuahkan hasil.
Semua anak di kelas Davin sedang sibuk mengerjakan PR yang harus dikumpulkan di jam pertama, tanpa terkecuali Davin dan Fajar. Sedangkan Shifa yang memang menjadi pusat contekan kini hanya duduk tenang di samping Davin, memperhatikan setiap inci wajah tampan Davin yang terlihat semakin seksi di matanya saat mengerjakan tugas sambil terburu-buru seperti sekarang ini.
"Lo tuh, ya, Vin, kan orangnya pinter, sering dipilih ikut olimpiade pula, tapi masih aja nyontek ke Shifa," celetuk Fajar di tengah kesibukannya menyalin PR.
Davin hanya tersenyum seraya melanjutkan pekerjaannya. Memang benar apa yang dikatakan Fajar, tetapi bukan berarti dia tidak bisa mengerjakan PR tersebut. Baginya, sudah cukup berat beban yang dia pikul untuk mempelajari soal-soal olimpiade, maka dari itu, dia selalu memanfaatkan kebaikan Shifa untuknya bisa bermalas-malasan dalam hal PR.
Bel sekolah sudah berbunyi menandakan pelajaran akan segera dimulai. Beruntungnya PR itu bisa terselesaikan tepat pada waktunya.
"Selamat pagi, Anak-anak," sapa pak Juna, guru pengampu pelajaran Fisika yang terkenal dengan kegalakannya.
Seketika itu juga, kelas yang semula riuh akibat PR yang menjadi bintang ricuh di kelas itu langsung mendadak menjadi tenang seolah tak pernah ada kehebohan sebelumnya.
"Sebelum kita mulai pelajaran hari ini, bapak akan memperkenalkan murid baru pada kalian. Putri, silakan masuk," ucap pak Juna seraya mempersilakan Kiara untuk masuk dan mengenalkan diri pada teman-teman barunya di kelas itu.
Kiara melangkahkan kakinya masuk ke kelas itu dan entah mengapa jantungnya langsung berdegup kencang, seolah akan melompat keluar.
Kini Kiara sudah berada di depan kelas, matanya tak henti menatap sekeliling ruang kelas seolah sedang ingin menenangkan perasaan yang tengah tak menentu, hingga sepasang mata yang selama ini sangat dia rindukan didapati tengah menatapnya intens. Keduanya beradu pandang sejenak sebelum suara Pak Juna berhasil mengalihkan perhatian keduanya.
Kiara mengenalkan diri dan asal sekolahnya kepada seluruh penghuni kelas tersebut, tetapi arah pandang Kiara tak pernah beralih dari Davin. Begitu juga dengan Davin yang tak pernah melunturkan senyuman dari bibirnya.
Melihat pemandangan itu, hati Shifa terasa semakin panas, gadis itu merasa posisinya kini terancam dengan kehadiran Kiara. Bagaimana pun juga, Shifa telah berjuang untuk memiliki hati Davin. Tidak adil bagi Shifa jika nantinya Davin berpaling pada murid baru itu.
"Putri, silakan kamu duduk di sebelah Davin. Kebetulan Davin memang duduk sendiri, dan kalau ada kesulitan, kamu bisa tanya langsung sama dia," ucap Pak Juna yang langsung dituruti oleh Kiara.
Perlahan Kiara menuju bangku yang ditunjuk oleh Pak Juna. Perasaannya semakin tak menentu saat langkahnya semakin mendekati bangku tersebut. Terlebih saat dirinya melihat Davin yang tengah tersenyum padanya.
"Hai! Kita ketemu lagi," ucap Davin berbisik saat Kiara sudah duduk di sebelah bangkunya.
Kiara tak mampu membalas sapaan Davin, gadis cantik dengan rambut tergerai itu hanya mampu membalas sapaan tersebut dengan senyuman. Lidahnya terasa keluh, kalimatnya seolah tertahan di tenggorokannya.
"Buat kalian murid lama, tolong kumpulkan segera PR minggu lalu. Dan Davin, nanti kamu antar ke ruang guru dan taruh di meja saya. Hari ini akan ada rapat guru, jadi kalian saya beri tugas di halaman 78. Tidak dikumpulkan, tetapi di pertemuan selanjutnya saya akan menunjuk beberapa di antara kalian untuk menjelaskan di depan," ucap Pak Juna tegas.
Semua murid di kelas itu langsung bersorak sorai setelah kepergian Pak Juna. Tak ada satu pun di antara mereka yang mengerjakan tugas, hanya sibuk membicarakan tentang murid baru itu.
"Vin, kantin, yuk! Laper gue," ajak Shifa. Bukan karena benar-benar lapar, melainkan Shifa ingin mengalihkan Davin dari murid baru yang berhasil mencuri perhatian kelasnya tanpa terkecuali.
Shifa terlihat begitu kesal saat Davin menolak ajakannya dengan halus. Namun, dia tak patah arang, dengan segera Shifa mengambil bangku lain dan meletakkannya di sebelah Davin untuk mengajaknya mengobrol. Akan tetapi, sepertinya usaha Shifa sia-sia, karena Davin tetap memfokuskan arah pandangnya pada Kiara yang terlihat cuek di sebelahnya.