BAB-22. PRIA BAIK-BAIK.
“Bang Rama nggak punya otak?” ia berdiri sambil meletakkan kedua tangan di pinggang. “Kok bisa-bisanya Bang Rama…” Evron kehabisan kata-kata.
“Itu kecelakaan, Vron. Aku juga nggak bermaksud…” Aku kehilangan kata-kata. Sial! “Sumpah! Kalau bukan karena ide bodohmu itu, aku juga nggak akan kayak gini!” kataku membela diri.
“Sial!” Evron menampar keras pipiku. “b******n!” ia kembali menamparku. “b******k!”
Aku bangkit, menahan tangannya. “Diam, Bocah!”
“Aku nggak masalah kalau dia istri orang, Bang. Tapi dia masih…”
“Sudah kubilang itu kecelakaan! Aku tidak bermaksud menghinanya atau apa pun. Aku juga nggak mau merendahkannya-”
Sial! Pembicaraan ini rumit. Bagaimana bisa aku mengatakan hal seperti ini dengan anak seperti Evron? Privasiku terganggu karena ocehan