BAB-28. PUTRA MAHKOTA.
“Mama belum pulang?” Aku menyuap nasi dan daging ke dalam mulut bersamaan. Meja makan ini biasanya ramai dengan celoteh Mama. Sejak beberapa bulan lalu, saat gadis itu datang, semua berubah. Meja ini sepi, hanya ada aku dan Papa yang makan dalam situasi canggung.
“Belum. Papa sudah berkali-kali membujuknya. Mama entah di mana sekarang.”
“Swiss.” Aku menjawab singkat. Minggu lalu Mama terbang ke Swiss setelah bosan tinggal di Rusia. Minggu depan, dia pasti pindah lagi demi menghindari kejaran Papa.
Papa membuang napas panjang. “Maafkan Papa.”
“Permintaan maaf Papa tidak bisa mengembalikan keluarga kita seperti sedia kala. Mama juga tidak akan pulang sebelum Papa mengusir dia.”
“Dia masih muda, Ram. Tidak punya keluarga selain kita, bagaimana mungkin Papa membiar