BAB-4. TRANSACTIONAL SX.
Beberapa hari sebelumnya… tepatnya pukul 20.00 WIB.
Suasana kantor masih ramai. Semua staff merayakan ulang tahun Evron di rooftop. Pesta kecil-kecilan dengan sebuah kue ulang tahun, barbekyu, makan, dan tentu saja minum. Aku menguap lebar, masih menatap layar laptopku-membuat laporan.
Pekerjaan bulan ini hampir semuanya selesai. Hanya tersisa satu yang belum menyelesaikan tanggung jawabnya. Sekar. Aku melihat sekilas data nasabahku yang ini. Dia mengajukan pinjaman sekitar tiga bulan lalu dan hanya membayar satu kali. Bulan berikutnya dan berikutnya lagi sama sekali tidak membayar. Jika bulan depan dia tidak membayar, itu artinya dia akan masuk ke dalam daftar hitam.
Dua bulan lalu aku bergabung dengan koperasi milik keluarga Dante. Setelah kabur dari rumah, aku butuh uang untuk mencukupi biaya hidupku. Pekerjaan paling mudah yang bisa kulakukan saat ini adalah bekerja dengan sahabatku sendiri, Dante. Meskipun selama dua bulan ini aku lebih sering kehilangan uang daripada mendapatkannya.
Ponselku bergetar keras. Aku segera mengambil dari atas meja lalu melihat siapa yang mengirim pesan.
Evron: Bang, sini naik! Ada banyak makanan di sini.
Evron adalah adik kandung Dante. Dia tidak bekerja di sini, statusnya masih mahasiswa tapi di sini lah dunianya. Dia bisa bertemu dengan banyak orang baru dan punya banyak teman. Di banding Dante, Evron lebih banyak menghabiskan waktu di kantor ini.
Lima belas menit kemudian akhirnya pekerjaanku selesai. Aku menguap lagi. Entah suah berapa kali aku menguap satu jam terakhir. Akhir-akhir ini jam tidurku kacau. Setiap malam ada saja hal yang membuatku terjaga hingga dini hari. Aku bergegas menyusul Evron dan staff lainnya di rooftop. Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan Sekar. Wanita itu baru berusia dua puluh tahun, sudah menikah, dan sekarang terjerat hutang. Kira-kira apa yang terjadi padanya? Apakah suaminya redflag? Hobi judol dan membebankan hutangnya pada Sekar ini?
Mengusir jauh-jauh kepedulianku pada nasabah. Aku segera bergabung dengan staff lain.
“Bang!” Evron menepuk-nepuk bahuku. “Lama amat? Ngapain aja?”
“Kerja lah!” sahutku ketus. Ada sekitar lima belas orang yang bergabung di sini. Semuanya laki-laki, staff wanita telah pulang satu jam yang lalu. Staff yang sudah bekerluarga memilih untuk pulang lebih dulu setelah acara makan selesai. Mereka tidak mau diomeli istrinya gara-gara pesta kecil ini. “Dante nggak dateng?”
Evron menggeleng acuh. “Dia di rumah sakit. Sibuk katanya.”
“Oh…” Aku menyomot minuman bersoda. Beberapa karyawan menyapaku, lalu mereka sibuk melanjutkan obrolan dengan yang rekannya. “Kirain bakalan dateng.”
“Dante mana pernah ikut kumpul-kumpul di sini. Katanya di sini membosankan.”
Aku tertawa kecil mendengarnya. Aku tahu itu, sejak dulu Dante memang lebih menyukai rumah sakit dibanding dengan tempat lain. Baginya rumah sakit adalah syurga. Wajar kalau dia menolak datang ke sini.
“Bang Rama gimana? Nggak bosen apa tinggal di sini?”
“Tidak.” jawabku asal. “Kalau pun bosan, aku akan tetap di sini karena aku tidak punya tempat untuk pulang.”
“Pulang lah, Bang. Orang tua Bang Rama nyariin.”
“Kapan-kapan deh,” sahutku malas. Aku dan Evron memilih duduk agak jauh dari kerumunan staff lain. Kami mengambil kursi lalu bersandar pada tembok sambil mengunyah camilan dan menegak minuman bersoda.
Usia Evron empat tahun lebih muda dariku. Dia adalah teman yang asyik meskipun kadang menyebalkan juga. Samar-sama kami mendengar pembicaraan dari staff yang sedang berkerumun. Aku dan Evron saling tatap, tidak begitu mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
“Oh…” Akhirnya Evron membuka suara. “Aku tahu maksudnya,”
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Jadi gini, Bang. Bulan lalu ada nasabah yang menunggak lama. Saat ditagih dia justru kirim voice note ke staff kita. Bang Rama tahu nggak apa isinya?”
Aku menggeleng. Bagaimana aku bisa tahu kalau Evron tidak bilang?
“Isinya kurang lebih gini, Bang.” Evron bersiap meniru suara wanita dengan nada centil. “Mas, saya nggak punya uang. Nih kalau mau saya ganti pakai miumiu…”
“Miumiu?” aku bertanya setelah Evron selesai bicara.
Evron menepuk jidatnya. Kesal. “Itu loh, Bang…”
“Itu apa?” tanyaku masih tidak mengerti.
“Astaga!” kali ini Evron menepuk jidatnya lebih dari tiga kali. “Primitf sekali orang ini.” gerutunya.
“Heh!” aku menempeleng kepalanya. “Apa lo bilang, Bocah?”
“Apa lagi kalau bukan primitif? Bodoh?” sewot Evron.
“Buruan bilang!”
Sambil memutar bola matanya, Evron berkata pelan. “Transactional sex.”
Ah… begitu kata itu terucap, aku langsung paham maksudnya. Istilah ini sering kudengar sejak aku bekerja di sini. Tapi setahuku tidak ada satu staff pun yang pernah mempraktikkannya. Mereka terlalu takut dengan hukum dan peraturan perusahaan.
“Tapi biasanya itu cuma bercanda, Bang. Pernah ada staff kita yang ngancem nasabahnya dengan itu. Eh besoknya si nasabah langsung mau bayar.” Jelas Evron santai. “Bang Rama punya nasabah yang masih punya tunggakan?”
Aku mengangguk. “Ada satu.”
“Coba cara itu deh, Bang.”
“Cara apa?”
“Bilang aja, kalau dia nggak mau bayar suruh bayar pakai satu sesi percintaan. Ancam besok Bang Rama akan datang. Sudah bisa dipastikan saat Bang Rama ke sana, dia pasti punya uang buat bayar.”
“Kamu serius?” tanyaku penasaran. Kalau dengan cara itu berhasil, aku tidak akan kehilangan uang lagi mulai sekarang. Akhirnya setelah dua bulan, aku mungkin bisa menikmati gajiku selama bekerja di sini. Ide Evron membuatku langsung terbayang akan rekeningku yang kembali menggendut setelah kurus berbulan-bulan.
“Iya, Bang. Coba aja. Kalau bandel ya coba lagi. Biasanya dua atau tiga kali ancaman cukup kok.” Pemuda itu memandang jauh ke depan. “Dante… Dante… hidup seindah ini tapi dia malah sibuk di rumah sakit.”
“Heh!” aku menimpuk kepala Evron dengan kulit kacang. “Dia juga sedang menikmati hidupnya, tapi dengan cara lain. Bagi Dante itulah keindahan hidup yang sesungguhnya.”
Satu jam kemudian aku berpamitan pada Evron dan yang lainnya untuk kembali ke kamar. Setibanya di dalam, aku bergegas melepa sandal dan merebahkan tubuhku di atas kasur. Rasa nyaman segera menjalar di seluruh tubuhku. Akhir-akhir ini rebahan menjadi salah sati kegiatan favoritku setelah seharian lelah bekerja.
Lima menit kemudian aku teringat dengan pesan yang kukirim pada nasabah bernama Sekar itu. Sampai detik ini dia masih belum membalas pesanku. Aku menatap sekilas ponselku lalu iseng mengirim pesan sesuai saran Evron. Chat itu langsung terkirim, belum dibaca. Semoga besok, setelah dia bangun dan membaca chatku, dia sudah menyiapkan sejumlah uang untuk membayar tunggakan dan angsurannya. Jadi aku tidak perlu repot-repot menghubunginya lagi.
Sialnya… Sekar tidak menyiapkan uang sesuai permintaanku. Dia justru menganggap serius chat yang kukirim. Membuat kami terlibat ke dalam hubungan yang lebih jauh lagi.
Seharusnya sejak awal aku mempertimbangkan ide gila Evron. Bukan malah mengeksekusinya tanpa pikir panjang.