Episode pertama itu kini telah menemui episode terakhirnya. Walau kalau diteliti lagi sebenarnya tak pernah ada episode pertama. Bahkan satu-satunya orang yang menyakitiku didalam cerita ini adalah diriku sendiri.
Yang menakutkan dari pergi itu bukan pada perpisahan. Tapi, pada rasa sepi yang di tinggalkan. Ketika setiap hari melakukan kebersamaan namun sekarang semua nya hanya tinggal bayangan. Tak ada lagi bertukar kabar, tak ada lagi dua tangan yang saling menggenggam erat dan tak ada lagi pelukan hangat. Sekarang yang tersisa hanya sekat untuk cinta yang begitu singkat.
Bila memang pilihan mu adalah pergi. Silahkan... aku tidak berhak untuk menahan seseorang untuk tetap tinggal. Aku tidak berhak menghentikan langkah seseorang untuk mengejar kebahagiaan nya. Hati-hati... semoga lekas menemukan apa yang selama ini kamu cari. Tentang hatiku biarlah, aku sudah terbiasa merasakan patah. Tak perlu khawatir lagi tak perlu peduli lagi, perihal luka ini nanti juga akan sembuh dengan sendirinya.
Dimana pun kini kamu berada.
Berbahagia ataupun tidak itu sudah bukan lagi menjadi urusanku. Nikmatilah kebebasan yang selalu kamu inginkan. Dan tolong jangan mencariku lagi di tempat yang sama karena tentangmu dan segunung kenangan itu telah ku tinggalkan disana di tempatmu meninggalkanku.
Kamu telah berada pada jalur perjodohan yang pasti. Lantas, mengapa masih berharap dengan orang yang bahkan tak tahu dimana keberadaannya? Kamu sadar cintamu bertepuk sebelah tangan tapi mengapa tak berhenti saja memperjuangkannya? Di depan matamu sudah ada yang pasti. Jika kamu tak menyukai orang itu, jalani saja dulu. Karena cinta datang karena terbiasa, karena rasa tumbuh tanpa disengaja. Lalu kenapa tak dicoba mulai dari sekarang untuk mengikhlaskan yang telah lalu dan mencoba memperjuangkan yang baru?