Semenjak pertemuanku dengan lelaki bernama Julian itu, hari-hariku terasa begitu aneh. Aku tak tahu alasan mengapa aku memikirkannya sedalam itu. Maksudku, hey! Dia cuma orang yang kutemui di kosan kerabatku loh! Bisa dibilang dia hanya orang yang numpang lewat di dalam hidupku. Tapi aneh. Sungguh aneh. Aku tak menyangka, hanya karena aksennya yang lucu dan perkataan randomnya malam itu, aku jadi terus memikirkannya.
"Kak, tugas gue gimana?" Noah memasukkan buku ke dalam tasnya sambil mengunyah roti di depan kamarku. Dasi SMA nya belum terikat, dan baju seragamnya belum dimasukkan ke dalam celana abunya.
"Udah selesai, ambil tuh di meja," suruhku. Semalam Noah pulang hampir jam 11 malam. Ia memang sudah di tingkat akhir sekolah. Banyaknya les dan private yang diberikan Ibu membuatnya jadi tak begitu menghiraukan tugas sekolah. Jadi semalam ia memohon padaku untuk membantunya mengerjakan tugas sejarah yang padahal cuma mengharuskan ia merangkum apa yang ada di buku cetak.
"Thanks, Kak. Noah jalan ya," katanya setelah mengambil buku tulis beserta buku cetak tebalnya di meja belajarku. "Oh iya kak." Noah kembali lagi ke depan kamarku.
"Bibi bilang kalo kakak enggak sibuk, bantuin bibi jaga Sofia. Bibi ada rapat di sekolah Emily," lanjut Noah.
Emily adalah nama anak pertama Bibi—tadinya kupikir Emily adalah anak satu-satunya Bibi. Gadis itu berbeda 3 tahun dengan Noah, jadi Emily saat ini duduk di bangku kelas 3 SMP dan selama ini memang Emily tinggal di asrama sekolahnya karena itu kemarin kami tidak bertemu. Satu hal lagi tentang Emily. Gadis itu dari dulu selalu menyukai Noah. Sejak kecil hingga sekarang Emily masih saja suka mengirimi Noah pesan hingga Noah bilang ia mulai muak. Ya aku sih bisa maklum. Noah kan cinta monyetnya Emily. Mungkin jika sudah lebih besar lagi nanti, mana mungkin Emily masih tahan dengan sikap dingin Noah padanya.
"Kenapa nggak lo aja?" tanyaku.
"Gak mau, ada Emily."
Oh, jadi sekarang aku paham alasan Noah tidak mau menjaga Sofia. "Yaudah nanti gue yang ke rumah Bibi."
Lucu juga kalau dipikir-pikir. Bagaimana bisa anak kecil jatuh cinta sampai sebegitunya. Sungguh aneh.
***
Taehyung sudah hampir 3 jam berada di ruang tamu rumahku. Ia memang sengaja datang ke rumahku karena hari ini ia masuk siang, sedangkan aku libur. Sejak tadi ia tiduran di pahaku sambil memainkan ponselnya dan memeluk bantal sofa seolah-olah rumahku ini juga merupakan rumahnya. "Noona, nggak bisa ya kalo kita nikah sekarang?"
Aku menepuk pelan dahinya sebagai akibat dari pertanyaan konyolnya barusan. "Ngawur kamu Tae. Aku belum lulus. Kamu juga. Kita belum nabung buat beli rumah, buat kehidupan sehari-hari aja kan kita belum bisa urus sendiri."
"Hehe iya juga ya," katanya sambil terkekeh. Lalu ia menunjukkan sebuah postingan orang lain di media sosialnya yang berisi tentang pasangan suami istri yang berbahagia. "Aku iri lihat mereka. Kapan kita bisa kaya gini," katanya.
Aku terkekeh geli mendengar ucapannya yang terdengar kekanakan. "Sukses dulu yuk, baru mikir ke sana. Aku siap-siap dulu ya, Tae."
"Emang Noona mau kemana?"
"Rumah bibi."
"Oh, yang kemarin itu?" tanyanya. Aku mengangguk sambil mencoba mengangkat kepala Taehyung dari pahaku.
"Cium dulu," katanya manja.
Taehyung memang sangat suka bermanja-manja padaku. Dan aku sendiri memang suka memanjakannya seolah ia adikku sendiri. Tapi yang membedakan ia dengan Noah adalah, ia bisa meminta ciuman padaku sedangkan Noah tidak. Aku mengecup bibirnya sekali membuat Taehyung tersenyum. Lalu ia menarik kepalaku lagi dan melumat bibirku dengan lembut. Aku terkekeh lagi mendapat ciuman bonus darinya. "Sudah Tae. Aku mau siap-siap."
***
"Taehyung berangkat aja, aku nanti pulang dijemput Noah."
"Maaf ya Noona, tiba-tiba ada kating yang nyuruh aku urus sekret."
"Iya sayang, gapapa. Hati-hati ya."
Taehyung mengangguk, lalu mencium dahiku lembut. Aku dapat merasakan perasaan bersalahnya saat ini. "Nanti aku chat Noona kalo udah sampe kampus."
"Oke boss!" jawabku.
Tak berselang lama Taehyung pergi dengan motornya, aku membuka pagar besi rumah bibi dan menemukan perkarangan rumah bibi masihlah sepi. Pintu kamar kos juga tertutup. Eh? Lagipula kenapa aku peduli tentang kamar kos? Apa diam-diam aku memikirkan tentang Julian lagi?
Ah untuk sementara, aku akan memikirkan Sofia dulu.
"Sofia, Kakak Rain dateng!!" seruku dengan mengikuti nada anak kecil, ketika masuk ke dalam rumah.
Tapi, aku terkejut. Sofia memang berada di sana, tapi Sofia tidak sendirian. Ada Julian di sana, sedang memangku Sofia sambil menatapku yang bersuara memalukan saat baru datang tadi.
Aduh, aku malu sekali. Mengapa aku tadi melakukan hal itu sih. "Tataa!" seru Sofia sambil mencoba merangkak melepaskan diri dari Julian ke arahku.
Gadis kecil itu berlari dan memintaku menggendongnya. Aku pun menggendong Sofi, dan kulihat Julian ikut berdiri dan mendatangiku. "Hilmi menyuruh aku untuk jaga Sofia," ujar Julian sambil tersenyum.
"Emang bibi udah pergi?"
Julian mengangguk sambil mencoba mengambil Sofia dariku. "Kakak Rain lelah nak, baru saja datang. Sofi sama daddy dulu oke?"
Dadaku bergetar ketika ia memanggil dirinya sendiri dengan sebutan 'Daddy' kepada Sofia. Seolah-olah, Sofia memang benar-benar anaknya. Lucu sih, apa mungkin ya orang ini kebelet ingin punya anak? "Kak Rain?"
Aku mendengar suara Emily dari arah lain. Ketika aku berbalik, Emily benar-benar ada di sana. Tapi ....
"Astaga! Ini Emily beneran?"
Emily lari ke arahku dan memelukku erat. "Masa bohong sih kak. Kenapa kak? Pangling ya?"
"Perasaan terakhir liat, kamu masih bocah. Kenapa tiba-tiba udah gede gini sih?"
Sumpah, saat ini aku merasa seperti orang yang masuk ke quantum waktu. Seolah-olah hanya aku sendiri yang tidak tumbuh dan berkembang. Seolah-olah aku ditinggalkan tumbuh sendirian. Terkadang aku sedih memikirkan aku yang dulu pernah kecelakaan dan koma selama dua tahun, tapi aku juga bersyukur bahwa pada akhirnya aku bisa bangkit dari koma tersebut.
"Kak Rain kok bengong?"
"Eh? Gapapa kok." Aku menggelengkan kepalaku sendiri kemudian menatap Julian yang menggendong Sofia. Tadinya ia juga menatapku namun ia langsung mengalihkan tatapannya. "Sofia udah makan?" tanyaku.
"Mamih belom masak Kak." Emily yang menjawab.
"Ya sudah, makan di luar ya? Aku yang bayar," ujar Julian langsung.
"Eh kamu serius?" tanyaku. Julian mengangguk sambil tersenyum.
Baru kali ini aku merasa ada orang yang notabenenya belum begitu kenal tapi sudah mau membayari makanan untuk orang lain. Kalian tahu kan tipikal orang zaman sekarang? Jangankan membayari makan, membayari uang parkir saja aku jamin tidak akan mau. "Aku siapkan mobilku dulu. Kamu gendong Sofi dan bawa Emily keluar."
Julian menyerahkan Sofia padaku, lalu ia keluar dari rumah bibi untuk 'katanya' mengambil mobil. Aneh. Untuk apa orang yang sudah memiliki mobil malah tinggal di sebuah kosan? Bukannya tinggal di apartemen akan lebih memudahkannya karena di apartemen biasanya ada garasi khusus penyewa apartemen? Tapi, itu kan bukan urusanku. Jadi aku saat ini berjalan keluar menggendong Sofi dan menenteng tangan Emily sambil menunggunya di depan gerbang rumah bibi.
***
"Duduk saja lebih dulu."
Julian berujar saat kami baru saja masuk ke tempat makan cepat saji. Antrian memang terlihat panjang karena saat ini memasuki jam makan siang. Biasanya aku pun paling malas datang ke restoran makanan cepat saji saat jam makan siang dikarenakan hal ini, dan Taehyung akan memilih mengajakku makan di restoran milik orangtuanya. Entah karena ingin menghemat atau karena dia memang hanya makan makanan korea.
Tak lama, Julian datang sambil membawa satu nampan besar berisi penuh makanan. Sebetulnya, aku tak ingin dengar, namun suara para ibu-ibu dan anak-anak perempuan di sekelilingku terdengar sangat jelas. Semuanya mengagumi betapa indahnya Julian yang sedang berjalan santai dengan wajah tampannya membawa nampan makanan. Aku sendiri juga sedang menikmati wajah tampannya itu. "Maaf ya lama."
Aku tersadar begitu Julian sampai di meja kami. Ia membagikan makanan. 1 mangkuk nasi, dan salad serta teriyaki ditaruh ke hadapanku. Ia juga menaruh satu mangkuk lagi hanya salad ke hadapanku dan kembali membagikan makanan ke Emily.
Bagaimana ia tahu aku suka ekstra salad?
"Kamu makan dulu, biar aku yang jaga Sofi," kata Julian.
"Eh gausah. Biar aku suapin Sofi dulu, kamu makan duluan aja sama Emily," cegahku.
Julian kemudian mengangguk. Ia tak mengatakan sepatah katapun saat makan, bahkan saat aku secara terang-terangan menatapnya. Bagaimana ya? Aku merasa seperti dejavu.