Abel memandang halaman panti yang gelap gulita. Hujan masih turun dengan derasnya. Petir bahkan berulang kali masih terdengar di telinga. Rasa dingin semakin menusuk ke dalam kulitnya. Seolah memberitahu bahwa hujan tidak akan berhenti jika ia memintanya.
Tubuhnya dibalut pakaian milik Ardan. Berupa celana training dan kaos hitam polos. Jelas kebesaran di tubuh Abel yang lebih kecil dari Ardan, tapi Abel menyukainya. Berulang kali ia mencium aroma yang menguar dari kaos yang dikenakannya. Benar-benar aroma khas Ardan yang selama ini dicium olehnya.
"Jangan berdiri di depan pintu. Kalau kata orang tua zaman dulu nanti bisa dilamar balik lagi."
Ardan berjalan mendekati Abel yang tengah bersandar di kusen pintu sambil memperhatikan hujan. Ia hendak menarik tangan Abel sekaligus menutup pin