Mata Nada dan Agam bersirobok. Keduanya saling melempar pandang untuk mengkode jika salah satunya harus memulai pembicaraan malam ini agar bu Silla mau diajak pulang. Pasalnya lagi, bu Silla dari tadi senyam-senyum sendiri sudah seperti barusan diajak keliling Birmingham oleh Cillian Murphy.
Entah, melihat Agam dan Nada yang duduk bersisian seperti itu nyatanya dapat membuat relung hati bu Silla menjadi se-adem puncak Bogor. Lihat, meski memang tinggi Agam dan Nada agak jomplang, namun mereka berdua benar-benar serasi jika berdekatan.
Sudah sejak pukul 7 malam sebenarnya, bu Silla bertamu di rumah Nada. Ini sebenarnya bukan lagi pemandangan baru, namun Nada tentu cukup terganggu jika tujuan terselebung-nya tetaplah untuk mencari mantu.
Nada juga sebenarnya tak habis pikir pada ibunya Agam. Padahal sudah berapa kali kena tolakan halus, namun sepertinya wanita paruh baya itu masih berambisi untuk menjadikan Nada sebagai kandidat mantu keluarga Wikranegara.
Lagi pula, sebenarnya apa yang istimewa dari Nada di mata bu Silla? Menurut Nada, dia hanyalah gadis biasa yang kebetulan bisa masak dan mengurus keuangan dengan baik.
Jika dibilang masuk ke kelas sosial mana, mungkin Nada masuk ke kelas menengah ke atas. Sebelum ke Swedia, ibunya dulu berprofesi sebagai Pengacara. Dan mendiang ayahnya adalah seorang Komisaris Besar Polisi. Namun, tetap saja, keluarganya masih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keluarga Wikranegara.
Jadi, kesimpulannya, Nada relatif tidak cocok dengan Agam secara garis kasta.
"Kenapa diem-dieman? Nada biasanya banyak ngomong?" Timpalan bu Silla itu benar-benar menginterupsi.
Dulu, terkadang bu Silla suka menengok Agam di kantor. Lalu bu Silla langsung cinta pada pandangan pertama tatkala melihat Nada yang membuatkan kopi untuk Agam. Masalahnya, cukup susah menyesuaikan selera Agam. Namun, Nada bahkan tidak pernah remidi untuk itu!
Seakan, dari sekian gadis yang pernah bersisian dengan Agam, hanya Nada yang paling bisa melunakan pria itu. Bahkan, mungkin bisa dibilang Nada adalah satu-satunya gadis yang paling bisa mengerti plus minus seorang Agam. Itulah kenapa Nada bisa mengimbangi saat Agam keluar taringnya, atau saat Agam lagi mode malaikat.
Lagi pula, Nada ini seperti memiliki dua perpaduan tipe ideal menantu yang diinginkan bu Silla. Kepintaran-nya dalam mengkalkulasi serta me-managing banyak hal pasti disukai pria perfeksionis seperti Agam, dan attitude-nya yang bagus tentu dicari pria berkualitas tinggi sekelas Agam juga.
Bonus, wajah cantik Nada yang tak pernah membosankan itu pasti akan disukai pria normal semacam Agam. Sudah, bagi bu Silla, Nada itu pokoknya ibarat paket komplit jerit.
"Tadi kamu ke PIK ngapain? Jangan bilang ketemu Adnan,"
"Agam ke Holy Wings, lagi capek," Agam tak menyangka jika kebohongan nyatanya dapat meluncur begitu saja dari mulutnya.
Meski memang seperti itu ketusnya Agam, namun kadang Nada masih saja berkedip tak percaya jika Agam bahkan juga menjawab ibunya sendiri dengan nada monoton. Dan muka juteknya itu benar-benar tidak bisa diajak kompromi oleh siapapun.
Bu Silla menaikkan kedua alisnya sambil manggut-manggut, "Good. Jadi, kapan?"
"Kapan?" Agam membeo.
"Kapan kamu lamar Nada?"
Nada yang barusan mendengarnya langsung melongo. Bahkan molekul udara seolah kontan mogok. Spontan Nada menjatuhkan matanya pada Agam.
Ini lamar-lamar gimana maksudnya? Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba petir menghujam. Dengan santai setelah menyesap teh hangat nya itu, bu Silla mendadak berbicara masalah lamaran. Sebenarnya Agam dan ibunya ini sedang ada masalah apa?
"Lamar Nada gimana maksud mama?"
Bu Silla berdecak. Kadang dia memang capek karena Agam seakan tak pernah tau dan peka akan kemauannya. Agam terlalu cuek dan lebih mementingkan masalah kerjaan, sampai pria itu mungkin juga lupa jika sudah kepala tiga. Memangnya dulu bu Silla ngidam apa sih, sampai keluarnya anak model begini?
"Kamu ijinin Nada resign karena kamu bakal nikahin Nada, 'kan?" jelas bu Silla.
Agam memejamkan matanya sejenak. Ia memijat pelipisnya seiringan dengan sebuah hembusan napas panjang. Agam memang tak suka jika ibunya selalu mengambil kesimpulan sendiri dengan hanya berlandaskan sebuah asumsi. Nahasnya, ibunya sudah cukup terbiasa seperti itu.
Agam menghela kembali. "Ma, lain kali mending mama tanya dulu langsung ke Agam atau Adisty. Jangan suka kayak gitu,"
"Padahal mama sudah bilang ke hampir semua kolega dan temen-temen mama kalau bentar lagi kamu nikah,"
Agam memencet pangkal hidungnya agak frustrasi. "Seriously?"
"Of course I am. Gam, dari 4 anak mama, yang masih keluyuran ke sana sini sendiri tuh kamu. Betah banget perasaan jadi tuyul terus," tukas bu Silla sambil melotot untuk memberikan penegasan pada Agam.
Agam menahan gemuruh pada otaknya itu yang sebentar lagi akan meleduk. "Come on, Ma, I don't even have a special relationship with her. You got me wrong,"
"Yes, you both have!"
"No we don't,"
"Loh, memangnya kalian selama ini gak diem-diem pacaran?" Jari telunjuk bu Silla mengarah pada Agam dan Nada bergantian.
"Mama makanya gak usah sering-sering nonton drama Korea, hasilnya mama selau punya ekspetasi tinggi di real life. Mama jangan samain roman real life sama drama. Lagian Agam bukan ... siapa itu namanya? Yang mama suka itu? Pak siapa?"
"Pak yang mana?" Sebuah garis kerut terlihat kentara di antara kedua alis bu Silla.
Agam berdecak, mencoba juga untuk mengingat. "Itu, yang suka bikin senewen, yang akhirnya demen sama sekretarisnya sendiri terus dinikahin,"
"Oalah, itu Park, Agam. Park, bukan Pak! Itu Park Seo Jun!" Bu Silla mengibaskan tangannya sekali pada Agam. Bu Silla ingat jika belum lama ini dia menyelesaikan drama Korea yang dibintangi aktor tampan usia 30-an itu.
Bu Silla lebih memilih curcol tentang unek-uneknya kala melihat drakor pada Agam ketimbang suaminya sendiri. Mau begini begitu, Agam itu sebenarnya pendengar yang baik. Makanya, sebenarnya Agam sedikit banyak tahu nama-nama aktor Korea meski suka lupa.
Bu Silla terkekeh pelan pada ingatan Agam yang boleh diakui super tajam. Namun, bu Silla tak menuntaskan tawanya sebelum kembali mengerutkan kening. "Eh, lah itu karakter Park Seo Jun di situ tuh representasinya kamu loh, Gam,"
Agam berdecak kembali tanda tak terima. "Gak ada. Bagusan juga mukanya Agam,"
Nada menggaruk belakang kepalanya kikuk. Ini ibu anak memang sebenarnya ada masalah apa sih kok pada senewen begini? Tadi bahas lamaran, sekarang bahas Park Seo Jun. Nada yakin jika perdebatan ini masih berlanjut, sepersekian menit lagi keduanya pasti akan membahas juga perihal hutang Negara.
Lagi pula kenapa sasarannya juga harus rumah Nada! Sekarang sudah hampir jam sembilan, Natan akan pulang dari bimbingan belajar namun masakan Nada belum selesai karena terjeda dengan kedatangan si Maharaja Agam. Tadinya sih mau ajak ibunya itu pulang, namun pria itu nyatanya malah tak berdaya dan ikut terpenjara di dalam apartemen Nada.
Namun, Agam memang begitu. Satu-satunya wanita yang bisa membuat Agam berbicara bahkan lebih dari satu paragraf seperti tadi hanyalah ibunya sendiri. Nada bersumpah, bu Silla memang sehebat itu dapat hidup bersisian dengan manusia sejenis Agam selama 34 tahun.
"Permisi bu Silla, Nada tinggal lanjutin masak dulu, ya. Soalnya Natan bentar lagi mau pulang," pamit Nada seraya mengambil kuda-kuda untuk beranjak.
"CV pelamar jangan lupa, Adisty. Saya tunggu besok pagi,"
Bukan bu Silla yang menjawab, Nada malah mendapat sahutan dari Agam. Jika tak ada bu Silla, Nada benar-benar akan menendang tulang kering Agam secara bar-bar, dan mengacak-acak rambutnya yang anti badai itu.
Bu Silla memandang Agam tak terima. "Sudah resign kok kamu masih kasih kerjaan sih, Gam. You're pretty ridiculous,"
"Mama gak tau masalahnya, you better silent," Agam menjawab setelah kembali meletakan cangkir tehnya yang sudah kosong di atas meja.
"Gam, gak ada sejarahnya orang resign masih dikasih kerja begini. Baru kamu kayaknya. Mama heran,"
"Ya bagus berarti. Agam mencetak sejarah baru,"
"Kalau kamu ya masuknya sejarah tragis peradaban, bener 'kan, Nada?"
"Gak ada. Tragis kalau Agam suruh Nada beli orang di dark web,"
"Kalau itu bukan tragis, Agam, itu sadis. Agak ngeri kamu ya akhir-akhir ini. Kayaknya memang bener genre hidup kamu itu masuk ke thriller angst,"
"Mama ini kayak tau-tau aja genre angst,"
Nada menghela gusar. Ibu anak itu tak akan pernah selesai jika Nada belum tutup warung. Ia berharap Natan benar-benar akan segera pulang, jadi Nada bisa mengusir keduanya secara halus secepatnya!
Oh God! Tak cukup dengan Agam saja, kenapa Nada juga harus masih bersandingan dengan ibunya Agam!