Pagi harinya Rara langsung berangkat bekerja dan banyak gosip dirumah sakit yang mengatakan bahwa Direktur rumah sakit akan memantau langsung rumah sakit selama beberapa bulan. Membuat dokter dan perawat yang belum pernah bertemu dengan direktur itu merasa takut, takut direktur tersebut galak dan lain sebagainya.
"Dokter Rara, nanti jam 10 dokter keruangan direktur ya." ucap perawat sekaligus asisten Rara kepada Rara yang sedang membaca data kesehatan pasien.
"Ngapain Lia?" tanya Rara dengan mata yang fokus membaca.
"Direktur ingin ketemu dokter."
"Saya?" Rara menunjuk dirinya sendiri bingung, ada apa direktur itu ingin bertemu dengannya, sedangkan ia hanya dokter baru dirumah sakit itu.
"Dokter Rara kan dokter kepala bagian bedah yang baru." gemas perawat itu, karena Rara yang sudah lupa sekitar jika sudah membaca data-data pasiennya.
Rara menepuk keningnya, "Oh iya aku lupa, tapi untuk apa?"
"Saya tidak tahu Dok."
"Ya sudah deh, terima kasih ya." ucap Rara yang diangguki perawat itu.
Setelah jam menunjukkan pukul 09.50, Rara langsung menuju ruangan Direktur yang berada dilantai 10.
TOK...TOK...TOK...
"Masuk," ucap suara dari dalam ruangan.
"Permisi, Sir. Anda manggil saya?"
"Kamu?" "Kamu?" ucap Rara dan direktur rumah sakit bersamaan karena terkejut.
"Kamu yang disupermarket waktu itu kan?"
"Iya, Sir." Rara menundukkan kepalanya saat menjawab pertanyaan direktur itu sebagai tanda sopannya.
"Oh iya silahkan duduk dulu,"
Rara langsung mengambil duduk didepan meja direktur tersebut.
"Perkenalkan nama saya Revanio Arson," Revan mengulurkan tangan ke arah Rara.
"Saya Reviera Levinata, Sir." Rara mejabat tangan Revan sambil tersenyum manis.
Saat tangan mereka bersentuhan entah kenapa seperti ada aliran listrik yang mengalir ditubuh mereka dan membuat jantung mereka berdegub kencang.
"Kamu kepala bagian dokter bedah yang baru?"
"Iya, Sir."
"Kamu pasti sudah tau kan, saya akan berada di rumah sakit cabang ini untuk beberapa bulan, dan karena saya juga kebetulan seorang dokter bedah, saya akan membantu bagian bedah dirumah sakit ini. Tidak keberatan kan?"
"Tentu tidak, Sir. suatu kehormatan untuk saya bisa bekerja sama dengan anda, Sir."
"Baiklah kalau gitu kamu boleh kembali ke ruangan kamu, selamat bekerja." Revan tersenyum manis kearah Rara.
"Baik, Sir. Kalau gitu, saya permisi dulu. Selamat Pagi." Revan menganggukkan kepalanya sambal tersenyum.
Rasanya aku ingin selalu dekat terus sama kamu. Senyum kamu membuat aku tenang – batin Revan.
Revan langsung menelpon orang kepercayaannya untuk mencari tahu apapun itu tentang Rara, karena ia ingin selengkap-lengkapnya.
"Jio, carikan data Reviera Levinata selengkapnya, secepatnya sudah harus ada, lalu berikan kepada saya."
'.....'
"Oke saya tunggu."
TUT
Kamu berhasil membuatku penasaran Ra – batin Revan.
Dua jam kemudian...
"Ini Tuan data Nona Reviera," ujar Jio sambil menyerahkan dokemennya kepada Revan.
"Oke silahkan kamu bisa pergi." ucap Revan.
Revan mulai membaca tentang diri Rara dari awal sampai akhir dari yang ia dapatkan dari Jio, Revan membaca dengan serius tanpa ada satu katapun yang terlewat, satu persatu kata ia baca dengan teliti.
"Aku janji akan membuat kamu bahagia setelah ini Ra, tidak ada kesedihan lagi yang akan kamu alami seperti dulu." gumam Revan sambil menatap foto Rara yang berada didalam berkas yang diberikan oleh Jio.
Setelah bekerja cukup lama dirumah sakit, saat ini sudah waktunya bagi Rara untuk pulang kerja karena sudah sore karena ia hari ini sedang shift pagi, selama sehari ini ia belum menangani pasien bersama Revan karena tidak ada pasien yang gawat. Revan hanya akan membantu jika ada keadaan pasien yang gawat atau ada pasien saat dokter-dokter bedah yang ada tidak dapat menanganinya karena banyaknya pasien.
"Sore Ra," sapa Revan saat melihat Rara sudah siap dengan tas dan juga jaket ditangannya.
"Sore, Sir." Rara tersenyum lembut kearah Revan yang juga sudah melepas jas kedokterannya.
"Sudah mau pulang Ra?"
"Iya, Sir. saya mau pulang karena shift saya sudah selesai. Sir juga mau pulang?"
"Iya saya juga mau pulang, sudah waktunya." ucap Revan sambil mengetuk-ngetuk jamnya membuat Rara hanya tersenyum menanggapinya.
"Kalau begitu saya pamit pulang terlebih dahulu, Sir. Permisi," Revan menggenggam tangan Rara.
"Tunggu Ra, kamu pulang naik apa?"
"Saya bawa mobil sendiri, Sir. Kalau begitu saya permisi dulu, Sir. Selamat sore," Rara melepas pelan tangan Revan yang belum juga melepaskan tangannya.
"Sore Ra," Revan tersenyum menatap punggung Rara yang menjauh.
Rara langsung mengendarai mobilnya menuju rumahnya yang cukup jauh jaraknya dari rumah sakit. Setelah sampai rumah, Rara pun langsung membersihkan diri dan memasak untuk makan malamnya dan juga adik tercintanya.
"DEKK MAKAN DULU, SUDAH JADI MAKANANNYA." teriak Rara, karena sang adik yang sedang berada dikamarnya.
"Iya kak, tunggu sebentar, aku turun." Ryan langsung menuju meja makan setelah mendengar kakaknya yang berteriak untuk makan bersama.
Rara langsung mengambilkan makan untuk Ryan "Makan yang banyak ya." Rara mengusap lembut kepala Ryan dan senyum yang terpatri diwajahnya.
"Siap kak." Ryan langsung memakan makanan yang dimasak sang kakak dengan lahapnya.
Mereka makan malam dalam hening, setelah selesai makan mereka ke kamar Rara untuk mengobrol.
"Gimana sekolah kamu dek? Lancar?" Rara mengusap kepala Ryan yang berada dipangkuannya.
"Lancar kak, kakak tenang aja kakak tidak perlu khawatir oke, Ryan tidak akan mengecewakan kakak. Gimana kerjaan kakak dirumah sakit?" Ryan mengambil tangan sang kakak untuk ia pijat-pijat, karena ia tahu, pekerjaan sang kakak sangat berat.
"Ya lancar dek, walaupun kadang lelah karena harus melakukan operasi yang lama."
"Kakak jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit." pesan Ryan menciumi punggung tangan sang kakak.
"Iya kamu juga oke, jangan sampai sakit. Kakak tidak mau kamu kelelahan karena belajar terus." Rara menundukkan kepalanya mencium kening adiknya.
"Siap kak, kak aku ngantuk boleh ya tidur disini, sama kakak." mohon Ryan dengan wajah memelasnya.
Rara terkekeh dan menoel hidung Ryan, "Tentu adik kecilku."
Ryan langsung mengubah posisinya dengan benar dan menghadap ke arah Rara, Rara langsung mengambil posisi berbaring disebelah sang adik.
"Good night kak. I love you." Ryan mengecup pipi Rara.
"Good night Ryan, I love you too." Rarapun mencium seluruh wajah sang adik, membuat adiknya tersenyum, karena merasa sangat disayangi oleh sang kakak.
Ryan langsung memeluk tubuh kakaknya dengan erat dan Rara menenggelamkan wajahnya di d**a Ryan. Perbedaan besar tubuh yang cukup banyak, membuat Rara tenggelam dalam pelukan adiknya. Bukannya Ryan yang tenggelam dalam pelukkan Rara.
Semoga kakak bahagia dan sehat selalu, walaupun nanti tidak ada aku disekitar kakak – batin Ryan.
Melihat kakaknya yang sudah tertidur pulas, membuat Ryan mencium kening sang kakak sebelum menyusul untuk tidur. Pekerjaan yang cukup memakan waktu, yang dilakukan sang kakak, membuat Ryan paham kalau sang kakak akan mudah tertidur karena lelah dengan pekerjaannya.