Episode : Dalam Deraan Sesal Yang Mendalam (1)
Entah sudah keberapa kalinya Farah meneriakkan nama Shania. Ia sendiri sudah tak sanggup menghitungnya.
Yang jelas, tenggorokannya mulai terasa perih. Suaranya juga sudah tidak sebening tadi. Serak dan tersendat, seakan tenaganya habis di setiap teriakan yang tak pernah berbalas itu.
“Kak Shania! Kak Shaniaaa!”
Sunyi.
Yang menyahutinya hanya bunyi daun yang bergesekan di atas kepalanya.
Farah menyibak semak di sisi kanannya, lalu memutari batang pohon besar yang dahannya menjulur hingga ke atas permukaan air. Dulu, di bawah pohon inilah dia dan teman-temannya biasa duduk berdesakan sambil bertaruh siapa yang paling lama sanggup menahan napas di dalam air. Sekarang, akar-akar pohon itu tampak jauh lebih menonjol dan berbelit, seolah-olah tanah di sekitarnya menyusut, dimakan waktu.
Tidak ada Shania di sana.
Tidak ada bekas duduk. Tidak ada sandal yang tertinggal. Tidak ada apa pun.
Farah berbalik dan menatap ke permukaan danau.
Air danau Ariya siang itu tenang sekali. Terlalu tenang, malah. Bening dan rata, tanpa satu riak jua, seakan-akan tidak ada apa pun yang pernah jatuh atau tercebur ke sana sepanjang usianya.
Justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk Farah meremang.
Jangan-jangan Kak Shania...,
Farah cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Kuat-kuat. Sampai rambutnya berkibas ke muka.
Enggak! Enggak mungkin! Kak Shania itu Orang dewasa. Masa iya dia nyemplung tanpa suara? Aku kan cuma ketiduran sebentar. Kalau ada Orang tercebur, pasti kedengaran bunyinya. Pasti! Aku ini memang cepat tidur, tapi telingaku nggak tuli, sangkal Farah di dalam hatinya.
Meski begitu, kakinya justru melangkah mendekat ke tepian.
Ujung sandalnya sudah menyentuh tanah yang basah, ketika mendadak dirinya seperti ditarik mundur oleh sesuatu yang tak kasat mata. Farah tersentak dan melompat ke belakang. Napasnya memburu.
Lantas terngiang lagi di telinganya pantangan yang sudah dihafal seluruh Anak di desa itu semenjak mereka bisa berjalan. Jangan berada di danau selepas Maghrib. Jangan menjawab bila ada yang memanggil dari arah air. Dan yang paling sering diucapkan oleh para Tua-tua sambil menunjuk-nunjuk dengan telunjuk yang bergetar, jangan sekali-kali masuk ke dalam air kalau kamu tidak yakin akan keluar lagi.
Sekarang masih terang kok. Masih siang. Masih boleh, hibur Farah kepada dirinya sendiri.
Tetapi hiburan itu bahkan tidak sanggup menahan gemetar di lututnya.
Farah baru menyadari satu hal lagi. Semenjak tadi, dia tidak mendengar suara burung. Tidak satu pun. Padahal dulu, tempat ini berisik oleh suara burung yang saling bersahutan sampai telinga terasa penuh. Yang terdengar sekarang hanyalah angin, yang anehnya justru terasa dingin, padahal matahari masih menggantung cukup tinggi.
Gadis itu memeluk lengannya sendiri.
Sekilas terlintas di kepalanya untuk berlari saja ke jalan desa dan meminta tolong kepada siapa pun yang kebetulan lewat. Warga desa Watu Dasa itu baik-baik. Sudah pasti mereka akan langsung berhamburan menuju ke danau begitu mendengar ada Orang hilang, apalagi kalau tahu bahwa yang hilang adalah Menantu baru Pak Handara.
Tetapi justru itulah persoalannya.
Kalau aku minta tolong warga, seluruh desa bakal tahu dalam waktu setengah jam. Terus, mereka bakal tanya, kenapa Kak Shania sampai ada di danau? Siapa yang mengajaknya? Dan jawabannya cuma satu, aku, keluh Farah di dalam hati.
Farah membayangkan bagaimana namanya akan disebut-sebut di setiap warung, di setiap sumur, di setiap dapur yang sedang menyiapkan hidangan untuk pesta malam nanti. Ia membayangkan bagaimana para Ibu akan saling bercerita sambil menutup mulut dengan ujung kerudung, dan bagaimana cerita itu akan sampai ke telinga Bapaknya bahkan sebelum Bapaknya sempat bertanya kepadanya.
Gadis itu menggigit bibirnya sampai terasa perih.
Enggak. Aku cari sendiri saja. Pasti ketemu. Kak Shania itu cuma sedang bercanda. Nanti juga dia keluar sendiri, hibur Farah, yang sesungguhnya sudah tidak percaya lagi kepada kalimatnya sendiri.
Diliriknya arloji di pergelangan tangan kanannya untuk kesekian kali. Jarum pendeknya sudah nyaris menyentuh angka empat.
Farah menelan ludah.
Mati aku. Jam segini Kak Shania mestinya sudah selesai mandi. Perias sudah datang dari kecamatan. Bu Endah pasti sudah mencari-cari. Terus baju yang sudah disiapkan itu bagaimana? Terus Tamu-tamu yang datang jam tujuh nanti mau disuruh melihat pelaminan kosong? batin Farah dengan hati mencelos.
Ia berjongkok, memeluk lututnya, dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lengannya.
Untuk pertama kalinya sepanjang siang itu, Farah menangis tanpa suara.
Bukan semata karena takut. Melainkan karena di dalam kepalanya, semua kemungkinan berbaris rapi dan bergantian menyiksanya. Dia membayangkan wajah Fabian yang memerah. Dia membayangkan Bapaknya yang biasanya diam, tetapi sekali marah membuat seisi rumah tidak berani bernapas. Dia membayangkan Bu Endah yang barangkali tidak akan memarahinya sama sekali, dan justru itulah yang paling menakutkan baginya.
Terus dia juga membayangkan sesuatu yang lebih buruk lagi. Diusir.
Kalau aku diusir dari rumah itu, aku mau ke mana? Ibuku sudah nggak ada. Nggak ada yang tahu di mana. Bapak pasti lebih membela Kak Fabian. Fina? Huh, Fina itu sudah dibeli sama Bu Endah. Nggak akan dia membelaku, keluh Farah di dalam hati.
Farah mengusap mukanya dengan punggung tangan.
Lantas, sebagaimana kebiasaannya sedari kecil, otaknya mulai bekerja mencari jalan keluar. Bukan jalan keluar untuk menemukan Shania, melainkan jalan keluar untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Aku bilang saja aku nggak tahu apa-apa. Aku bilang saja tadi aku ke taman bunga sendirian. Kan nggak ada yang melihat kami keluar berdua. Aku juga sudah hati-hati, lewat jalan rahasia, bukan pintu depan, rencana Farah kepada dirinya sendiri.
Ia bangkit berdiri, mengibaskan tanah yang menempel di roknya.
“Kak Shania! Ini yang terakhir ya! Kalau Kakak nggak keluar juga, aku pulang!” teriak Farah sekuat sisa tenaganya.
Ancaman yang ditujukan kepada seseorang yang bahkan tidak jelas berada di mana.
Dan tentu saja, tidak ada yang menyahut.
Farah menunggu sampai sepuluh hitungan, sebagaimana yang biasa dilakukannya kalau bermain petak umpet dulu. Setelah itu, Gadis itu berbalik dan mulai berlari.
Ia berlari menjauhi danau tanpa menoleh sekali pun ke belakang. Bukan lantaran tak ingin menoleh, melainkan lantaran tak berani. Ada perasaan aneh yang mengikutinya, seolah-olah ada sepasang mata yang mengawasi punggungnya sedari tadi, menunggu dirinya berbalik.
Sepanjang berlari, kepala Farah dipenuhi oleh potongan-potongan ingatan yang berjatuhan tanpa urutan.
Ia teringat wajah Shania tadi siang, yang begitu berbinar ketika dirinya menawarkan untuk menemani berjalan-jalan. Ia teringat bagaimana Shania menarik tangannya dengan penuh semangat, seakan-akan tak sabar lagi menunggu. Ia teringat pula bagaimana dirinya sempat berpesan, jangan jauh-jauh dari aku, Kak. Kalau mau apa-apa tanya aku dulu.
Dan yang paling menyakitkan, ia teringat bahwa yang pertama kali melanggar pesannya sendiri justru dirinya. Bukan Shania.
Aku yang ketiduran. Aku yang lengah. Padahal aku sendiri yang bilang, jangan jauh-jauh dari aku, sesal Farah dengan dada yang serasa dihimpit.
Napas Farah tersengal ketika akhirnya ia tiba kembali di taman bunga.
Kelopak mawar yang tadi diuraikannya masih berserakan di tanah, persis di tempat dia dan Shania duduk mengobrol. Melihat kelopak-kelopak itu, dada Farah kembali sesak.
Tadi kami masih ngobrol di sini. Tadi Kak Shania masih ketawa. Kok bisa jadi begini? gumam Farah lirih.
Ia menendang kelopak-kelopak tersebut, seakan-akan benda tak bernyawa itulah yang bersalah atas semuanya.
Kemudian Farah melanjutkan langkahnya menuju ke mulut jalan rahasia, sebuah celah sempit di antara pagar hidup yang rimbun, yang selama ini hanya diketahui oleh dirinya serta beberapa Anak desa yang seumuran dengannya. Jalan itulah yang biasa dipakainya untuk keluar masuk rumah tanpa perlu melewati pintu depan dan berpapasan dengan siapa pun.
Matahari sudah mulai condong. Bayangan pepohonan memanjang di tanah, melintang di depan kakinya seperti jeruji.
Anehnya, jalan rahasia yang biasanya ia lalui dalam hitungan puluhan langkah itu, sore ini terasa jauh lebih panjang. Setiap kali dirinya mengira sudah dekat ke ujung, ternyata masih ada belokan lagi. Setiap kali dirinya mengangkat kepala, yang terlihat hanyalah dedaunan yang saling menaungi, rapat sekali, sampai cahaya matahari cuma sanggup menerobos sedikit-sedikit.
Padahal seingat Farah, celah ini tidak pernah serimbun ini.
Perasaan Farah kian tidak enak. Bulu-bulu halus di lengannya berdiri. Ia pun mempercepat langkahnya, sambil menahan diri agar tidak berlari, sebab dirinya tahu benar bahwa berlari hanya akan membuat rasa takutnya semakin menjadi-jadi.
Sepanjang menyusuri jalan rahasia yang sempit dan berbau tanah lembap itu, Farah tak henti melatih dirinya sendiri.
Wajah biasa saja, Farah. Jangan pucat. Jangan gemetaran. Kalau ditanya, jawab santai. Kalau perlu, malah balik marah. Ibu dulu pernah bilang, kalau orang menuduhmu, jangan buru-buru membela diri. Balik bertanya. Nanti dia yang bingung sendiri, kata Farah membujuk dirinya sendiri.
Diaturnya napasnya. Diusapnya matanya yang masih sembap dengan ujung lengan bajunya, sampai terasa perih.
Beberapa langkah lagi, celah sempit itu akan berakhir di halaman samping rumah, tak jauh dari taman kesayangan Bu Endah.
Dan tepat ketika Farah mengangkat kepalanya untuk memastikan bahwa keadaan di ujung sana aman, langkahnya mendadak terhenti.
Di ujung jalan rahasia itu, membelakangi cahaya sore yang menerobos di antara dedaunan, ada sesosok tubuh yang berdiri diam.
Menghadap tepat ke arahnya.
Seakan-akan sudah menunggu di sana sedari tadi.
^ * Lucy Liestiyo * ^