Episode : Kepingan Rahasia Kelam Masa Lalu (1)
Sekian lama tidak ada yang bersuara di dalam kamar itu.
Fina masih menelungkup dengan wajah terbenam di bantal. Sementara Farah tetap terpekur di sudut kamar, memeluk lututnya, dengan pandangan yang tak jelas tertuju ke mana.
Dari luar, suara-suara justru semakin ramai. Ada bunyi langkah kaki yang tergesa melintas di koridor. Ada suara Pekerja yang saling memanggil dari arah halaman. Sesekali terdengar suara Fabian, yang biasanya kalem, kini terdengar tinggi dan pendek-pendek, membagikan perintah kepada siapa saja yang kebetulan berada di dekatnya.
Setiap kali suara itu terdengar, tubuh Farah ikut menegang.
Fina menarik bantalnya lebih rapat ke wajahnya, seakan-akan dengan begitu suara di luar sana tidak akan sampai ke telinganya.
Farah mengerling ke arah Adiknya sesaat, lalu memalingkan wajahnya lagi.
Terserah kamu deh, Fina. Kamu boleh membela Bu Endah sepuas kamu. Yang jelas, sebentar lagi kita berdua sama-sama kena. Kamu pikir Bu Endah bakal membelamu kalau Kak Shania sampai kenapa-napa? Lihat saja nanti, batin Farah dengan hati yang perih.
Sekali waktu, terdengar suara Merna memanggil-manggil salah satu Pekerja di halaman. Suaranya tinggi, terburu-buru, dan sama sekali tidak seperti biasanya. Lalu terdengar bunyi pintu pagar yang dibuka lebar-lebar, disusul deru kendaraan yang keluar dari pelataran.
Farah menghitung. Sudah tiga kendaraan yang keluar semenjak tadi.
Berarti mereka sudah menyebar. Berarti Kak Fabian benar-benar mengerahkan semua orang, batin Farah.
Dan setiap kali kesadaran itu datang, dadanya kembali sesak.
Fina di atas tempat tidur bergeser sedikit, membalikkan badan hingga membelakangi Sang Kakak. Bantal itu masih dipeluknya.
Farah menyandarkan kepalanya ke dinding, lalu memejamkan matanya.
Ia sungguh-sungguh berharap dirinya dapat tertidur dan bangun-bangun semua ini sudah selesai. Sayangnya, yang datang menghampirinya justru bukan kantuk.
Sebab setiap kali dirinya memejamkan mata, yang muncul selalu wajah yang sama. Wajah Ibunya.
Selalu begitu. Semenjak dulu, setiap kali dirinya merasa terpojok, terancam, atau dituduh, ingatannya seakan-akan mempunyai jalannya sendiri. Jalan yang selalu bermuara ke satu tempat, yakni masa ketika Ibunya masih ada di rumah ini.
Farah tidak pernah tahu, apakah ingatan-ingatan itu datang untuk menghiburnya, ataukah justru untuk menghukumnya.
Yang jelas, ingatan-ingatan tersebut tidak pernah datang secara utuh. Selalu berupa potongan. Sepotong percakapan yang separuhnya tidak ia mengerti. Sepotong wajah. Sepotong bunyi. Dan seringkali, potongan-potongan itu justru berhenti tepat di bagian yang paling ingin ia ketahui.
Barangkali karena aku waktu itu masih terlalu kecil. Barangkali karena aku memang nggak pernah dikasih tahu apa-apa, gumam Farah di dalam hatinya.
...
Rumah besar itu, delapan tahun lampau, sesungguhnya jauh lebih sunyi daripada yang dibayangkan oleh siapa pun yang melihatnya dari luar pagar.
Betul bahwa Pekerjanya banyak. Betul bahwa dapurnya tidak pernah dingin. Betul bahwa lampu di beranda menyala hingga larut. Tetapi di antara para penghuninya sendiri, jarang sekali ada percakapan yang benar-benar mengalir.
Ada aturan tak tertulis di rumah tersebut, yang bahkan tidak pernah diucapkan oleh siapa pun secara terang-terangan, namun dipatuhi oleh semua orang. Bu Endah mempunyai sayapnya sendiri, di sebelah timur, berikut taman samping yang sengaja dibuatkan oleh Pak Handara khusus untuknya. Sedangkan Bu Fatin mempunyai kamarnya sendiri di sisi yang berlawanan, lengkap dengan perabotan yang serba baru.
Kedua Wanita itu jarang berpapasan. Dan kalaupun berpapasan, salah satunya pasti menemukan alasan untuk berbelok.
Hanya ada satu waktu dalam sehari, di mana seluruh penghuni rumah itu terpaksa berada di dalam satu ruangan yang sama. Yakni pada waktu makan malam.
Pak Handara yang menghendaki demikian. Baginya, sebesar apa pun rumah, sebanyak apa pun kamar, satu keluarga harus tetap duduk mengelilingi satu meja. Setidaknya sekali dalam sehari.
Barangkali Pak Handara berpikir, dengan cara itu dirinya sedang merawat sebuah keluarga.
Padahal yang dilakukannya sesungguhnya adalah mengumpulkan bara di dalam satu tempurung.
Ruang makan di rumah itu terlalu besar untuk jumlah penghuninya. Meja kayu panjang yang ada di tengahnya sanggup menampung dua belas Orang, padahal yang duduk di sana tak pernah lebih dari lima. Di atasnya selalu tergelar taplak berwarna terang, dan di tengah taplak itu selalu ada satu vas berisi bunga segar yang dipetik sendiri oleh Bu Endah dari taman samping.
Setiap sore, sebelum lampu gantung di ruangan tersebut dinyalakan, aroma masakan sudah lebih dahulu memenuhi rumah. Aroma yang seharusnya menghadirkan rasa hangat, tetapi entah mengapa, bagi Farah kecil justru selalu menandakan bahwa sebentar lagi dirinya harus duduk diam dan berhati-hati.
Farah kecil selalu duduk di sebelah Ibunya. Fina kecil di sebelah Farah, dengan bantal tambahan supaya dagunya sampai ke meja. Fabian duduk di seberang mereka, di sebelah Bu Endah. Sementara Pak Handara di kepala meja, seorang diri.
Dan hampir setiap malam, urutan kejadiannya juga selalu sama.
Bu Endah datang paling awal. Wanita itu yang memastikan tudung saji telah dibuka, memastikan air minum telah dituang, memastikan nasi masih panas. Bahkan tak jarang, Bu Endah sendiri yang memotong-motong lauk di piring Fabian menjadi kecil-kecil, sebelum menyendokkan makanan untuk dirinya sendiri.
Sedangkan Bu Fatin selalu datang paling akhir. Selalu. Seakan-akan itu adalah satu-satunya bentuk perlawanan yang masih diperbolehkan baginya.
Malam itu pun demikian.
“Kok Ibumu belum datang, Farah?” tanya Pak Handara sambil mengusap kepala Putri sulungnya.
“Ibu masih di kamar, Pak. Katanya lagi cari kerudung,” sahut Farah kecil sekenanya.
Pak Handara mengangguk saja. Ia sudah cukup lama berhenti bertanya lebih jauh.
Tak lama, Bu Fatin muncul dari arah lorong dan duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ditariknya piring Fina dan mulai menyendokkan nasi ke sana, tanpa menoleh ke siapa pun.
“Fatin, makan yang banyak. Kamu kelihatan kurus akhir-akhir ini,” ujar Pak Handara.
“Nggak nafsu makan, Mas,” sahut Bu Fatin pendek.
Bu Endah, yang duduk di seberangnya, mengangkat wajahnya sesaat. Wanita itu tersenyum tipis, lantas kembali menunduk.
Senyum yang tidak dibalas, dan justru dibaca sebagai sesuatu yang lain oleh Bu Fatin.
“Ada apa, Mbak Endah? Ada yang lucu?” tanya Bu Fatin dengan nada yang sengaja dibuat datar.
“Nggak ada apa-apa, Fatin. Aku cuma senang kamu ikut makan malam ini,” jawab Bu Endah tenang.
Bu Fatin mendengkus pelan. Cukup pelan untuk tidak terdengar oleh Pak Handara, tetapi cukup jelas untuk terdengar oleh Farah kecil yang duduk persis di sebelahnya.
Dan sudah menjadi kebiasaan Farah kecil untuk merekam segala hal semacam itu di dalam kepalanya, kemudian menyimpannya rapat-rapat, dan mengeluarkannya kembali entah kapan.
Pak Handara berdeham.
“Fabian, minggu depan Bapak mau bawa kamu ke kota. Ada beberapa hal yang mau Bapak urus di sana,” kata Pak Handara.
“Iya, Pak,” sahut Fabian singkat.
“Wah, enak sekali ya, yang dibawa-bawa ke kota,” celetuk Bu Fatin.
Pak Handara meletakkan sendoknya.
“Fatin.”
Cuma satu kata. Namun cukup untuk membuat Bu Fatin memilih untuk menutup mulutnya dan pura-pura sibuk meniupi sesendok kuah untuk Fina.
Suasana kembali sunyi. Yang terdengar hanyalah bunyi sendok yang beradu dengan piring.
Farah kecil mengunyah pelan-pelan sambil melirik ke kanan dan ke kiri secara bergantian.
Ia melirik ke arah Bu Endah, yang makan dengan tenang dan tak pernah sekali pun bersuara ketika mengunyah. Ia melirik ke arah Fabian, yang sesekali mengangkat wajahnya untuk memastikan keadaan Ibunya. Lalu ia melirik ke arah Ibunya sendiri, yang sedari tadi hanya memindah-mindahkan nasi di piringnya dari sisi yang satu ke sisi yang lain, tanpa satu suap pun masuk ke mulutnya.
Kenapa sih Ibu nggak makan? Nanti Ibu sakit. Kalau Ibu sakit, terus siapa yang jagain aku sama Fina? pikir Farah kecil dengan hati yang tidak enak.
Bocah itu ingin sekali bertanya. Namun ia sudah cukup hafal, bahwa bertanya di meja makan adalah salah satu hal yang paling tidak disukai oleh Ibunya.
Sampai kemudian, Bu Endah meletakkan sendoknya, menutup mulutnya dengan punggung tangan, dan menunduk dalam-dalam.
“Endah?” Pak Handara langsung menoleh.
Bu Endah menggeleng dan mencoba tersenyum, tetapi wajahnya sudah kelewat pucat untuk dapat menipu siapa pun di meja itu.
“Nggak apa-apa, Pak. Cuma..., aromanya saja,” ucap Bu Endah dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Belum selesai kalimatnya, Wanita itu sudah bangkit dan bergegas menuju ke arah kamar mandi.
Pak Handara langsung menyusul, meninggalkan piringnya yang bahkan belum tersentuh setengahnya.
Kini di meja makan itu hanya tersisa empat orang. Fabian yang menatap ke arah perginya Ibunya dengan kening berkerut, Fina kecil yang justru asyik memainkan sendoknya, Farah kecil yang diam-diam mengamati semuanya, serta Seorang Wanita dewasa yang sedari tadi tidak menyentuh makanannya sama sekali.
Wanita dewasa itu tidak menoleh ke arah kamar mandi. Sedikit pun tidak.
Ia justru menatap lurus ke depan, ke kursi kosong yang baru saja ditinggalkan oleh madunya, dengan tatapan yang tidak dapat dijelaskan oleh Anak seusia Farah kala itu.
$ $ Lucy Liestiyo $ $