Episode : Pernikahan Fabian dan Shania (1)
Pagi belum lagi benar-benar tua, ketika halaman rumah Pak Handara di desa Watu Dasa telah berubah menjadi arena kesibukan yang seakan tiada habisnya.
Belasan Lelaki desa sibuk menancapkan pasak-pasak tenda ke tanah yang masih lembap oleh embun semalam. Sebagian yang lain mengangkuti kursi-kursi lipat yang sengaja didatangkan dari kecamatan semenjak dua hari lalu. Di dapur belakang, bunyi talenan beradu dengan bunyi wajan, ditingkahi celoteh para Ibu yang datang membantu tanpa diminta dan tanpa mengharapkan upah. Begitulah kebiasaan yang berlaku di desa itu. Bila ada hajatan, seisi kampung merasa ikut mempunyai hajat.
Rumah Pak Handara memang bukan rumah biasa di mata warga Watu Dasa. Bangunannya paling besar, paling terang, dan satu-satunya yang berpagar tinggi. Sawah serta perkebunan yang membentang di lereng sebelah utara desa itu juga miliknya. Belum lagi penggilingan padi dan peternakan di ujung jalan desa. Nyaris di setiap rumah di desa itu, ada saja satu dua Orang yang pernah atau sedang makan dari usaha Pak Handara. Maka wajar saja, kalau kabar bahwa Putra sulung Pak Handara akan menggelar perayaan pernikahan di rumah tersebut, sudah bergulir dari mulut ke mulut jauh hari sebelumnya.
“Bu, ini karangan bunga yang datang subuh tadi, ditaruh di mana?” tanya Merna sambil menahan langkahnya di ambang pintu.
Bu Endah menoleh. Wanita itu tengah menghitung tumpukan piring dengan telunjuknya yang bergerak pelan.
“Sandarkan saja di dinding pagar sebelah kiri, Merna. Jangan di kanan, nanti menghalangi jalan Orang masuk. Kasih jarak sedikit satu sama lain, ya,” sahut Bu Endah tenang.
“Baik, Bu,” Merna menganggukinya.
“Oh, iya. Kalau ada karangan bunga yang datang lagi nanti siang, jangan lupa dicatat siapa pengirimnya. Bapak biasanya mau tahu,” tambah Bu Endah.
Merna mengangguk lagi lalu bergegas keluar.
Sudah begitulah Bu Endah. Betapapun banyak Pekerja di rumah itu, dan betapapun mudahnya baginya untuk sekadar duduk sambil menunjuk-nunjuk, tetap saja Wanita itu turun tangan sendiri untuk urusan-urusan kecil. Menghitung piring, mencicipi kuah, membetulkan letak taplak. Para Pekerja sudah hafal. Mereka bahkan diam-diam merasa segan bila melihat Majikan Perempuannya mengerjakan hal yang semestinya menjadi bagian mereka.
Di sudut beranda, dua Gadis duduk berdampingan di atas kursi rotan.
“Kak Farah, itu tenda yang di depan kok miring, ya?” tanya Fina sambil menunjuk dengan dagunya.
Farah melirik sekilas, lalu kembali memainkan ujung rambutnya.
“Ya biar saja. Memangnya kamu mau membetulkan sendiri? Nanti kalau kamu jatuh, aku juga yang disalahkan sama Bapak,” sahut Farah malas.
Fina mengerucutkan bibirnya. Ia sudah terbiasa dengan jawaban Sang Kakak yang macam itu, jadi tak lagi merasa perlu untuk sakit hati.
“Aku cuma bilang, kok,” gumam Fina.
Farah tidak menyahut. Matanya justru terarah ke jalan setapak yang menurun ke arah gerbang. Ada perasaan yang tidak dapat dijelaskannya, yang semenjak tadi mengusik dirinya. Perasaan seperti tengah menanti sesuatu, tetapi ia sendiri tidak tahu, sesuatu itu apa.
Sementara di sisi lain beranda, Pak Handara menerima uluran tangan dua Orang perangkat desa yang datang pagi-pagi sekali.
“Wah, ramai sekali rumah Bapak. Selamat ya Pak, akhirnya mantu juga,” ucap salah satu dari mereka.
Pak Handara tertawa pendek.
“Terima kasih. Nanti malam datang, ya. Ajak semuanya. Jangan sampai ada yang tidak diundang di desa ini. Saya nggak mau ada yang merasa ditinggalkan,” pesan Pak Handara.
“Siap, Pak. Pasti kami sampaikan.”
Lelaki itu mengangguk-angguk puas. Bagi Pak Handara, hajatan bukan semata urusan menikahkan Anak. Ada hal lain yang jauh lebih penting baginya, yakni memperlihatkan kepada seisi desa bahwa keluarganya baik-baik saja. Utuh. Tidak kurang suatu apa pun.
*
Di saat yang sama, sebuah mobil van berwarna gelap tengah membelah jalanan panjang yang membosankan, jauh di luar desa Watu Dasa.
Mang Didu memegang kemudi dengan tenang. Sesekali ia melirik ke kaca spion tengah, memastikan penumpang di jok belakang tetap nyaman. Di sana, Shania tertidur dengan kepala miring bersandar ke bahu Fabian. Wajah Wanita itu terlihat lelah, tetapi ada senyum tipis yang tidak sepenuhnya hilang dari bibirnya.
Fabian tidak berani banyak bergerak. Ia takut membangunkan Sang Istri.
“Masih jauh, Mang?” tanya Fabian pelan, nyaris berbisik.
“Sekitar satu jam lagi, Mas. Nanti kita berhenti di pinggir jalan besar, sebelum belokan ke arah pasar. Kata Pak Zacky tadi, bisnya berhenti di situ,” sahut Mang Didu, ikut merendahkan suaranya.
Fabian mengangguk.
“Busnya sudah jalan?” tanya Fabian lagi.
“Sudah, Mas. Sopirnya tadi sudah mengabari saya. Katanya lancar. Keluarga dua Kakaknya Mbak Shania semuanya sudah naik. Anak-anaknya juga. Rombongan yang lain menyusul besok pagi,” terang Mang Didu.
“Bagus. Nanti tolong pastikan mereka langsung diantar ke rumah ya, Mang. Jangan disuruh menunggu di jalan. Kasihan, mereka bawa Anak kecil semua,” pesan Fabian.
“Beres, Mas.”
Fabian mengembuskan napasnya perlahan. Diliriknya wajah Shania sesaat, lalu ia memalingkan pandangannya ke luar jendela. Pohon-pohon berlarian ke belakang. Sawah. Warung. Sawah lagi.
Dan entah bagaimana mulanya, pemandangan yang berulang-ulang itu justru menyeret ingatannya jauh ke belakang.
Fabian ingat betul, bertahun lampau dirinya pernah berdebat cukup panjang dengan Sang Ayah hanya lantaran satu keinginan. Merantau. Pak Handara kala itu tidak dapat memahami, mengapa Anak Lelakinya justru memilih pergi ke kota dan memulai segalanya dari nol, padahal di desa ini ada sawah, ada kebun, ada peternakan yang tinggal dilanjutkan saja. Butuh waktu lama bagi Fabian untuk meyakinkan Ayahnya. Dan yang akhirnya memuluskan jalannya, justru bukan argumennya sendiri, melainkan satu kalimat pendek dari Ibunya, “Sudah, Pak. Biarkan dia pergi. Anak Lelaki itu harus tahu rasanya kalah dulu, sebelum tahu rasanya menang.”
Fabian tersenyum tipis mengenangnya.
Dan di kota itu pulalah, di sebuah acara yang bahkan tidak begitu penting, dirinya bertemu dengan Shania. Gadis yang sederhana, yang tertawanya lepas, yang sama sekali tidak tahu bahwa Lelaki yang mengajaknya berkenalan waktu itu tengah menahan diri mati-matian agar tidak terlihat terlampau antusias.
Perjalanan mereka tidak mudah. Fabian tahu benar, ada beberapa Lelaki lain yang mendekati Shania dengan penawaran yang jauh lebih menggiurkan di mata Bu Asnah. Tetapi Shania bertahan. Dan lantaran Shania bertahan, Fabian pun merasa wajib untuk bertahan lebih keras lagi.
Sekarang, Wanita itu tertidur di bahunya, dalam perjalanan menuju desa tempat dirinya dilahirkan.
Semestinya aku merasa lega. Tapi kenapa ada yang mengganjal begini di dada aku? bisik hati Fabian.
Ia menggeleng pelan, seakan hendak mengusir pemikiran tersebut.
Sesungguhnya Fabian tahu apa yang mengganjal. Dia hanya tak mau mengakuinya.
Sebab desa Watu Dasa bukan sekadar desa yang teduh dengan danau yang bening serta sawah yang menghijau, sebagaimana yang selalu ia ceritakan kepada Shania. Ada bagian-bagian dari desa itu yang sengaja tidak pernah ia ceritakan. Bukan lantaran ia hendak berbohong, melainkan lantaran ia sendiri tidak pernah benar-benar memahaminya.
Ia ingat, semasa kecil dirinya sempat bertanya-tanya, mengapa di rumah sebesar itu ada dua Ibu.
Warga desa juga pernah bertanya-tanya. Bahkan jauh lebih ramai. Fabian masih ingat betul, bagaimana dulu, sepulang dari mengaji, dirinya kerap mendengar bisik-bisik yang berhenti mendadak begitu dirinya lewat. Orang-orang desa memang tidak berani berkata apa pun di depan Pak Handara. Tetapi di belakang, mulut mereka tidak dapat dijaga oleh siapa pun.
Mereka membicarakan bagaimana Pak Handara, Lelaki paling terpandang di Watu Dasa, Lelaki yang selama ini dijadikan contoh oleh para Orang tua kepada Anak-anak mereka, tiba-tiba pulang dari kota dengan membawa Seorang Wanita muda yang tengah mengandung. Mereka membicarakan bagaimana Wanita itu turun dari mobil sambil mencekal erat lengan Pak Handara, dengan wajah yang seolah minta dikasihani. Mereka membicarakan bahwa Wanita tersebut bernama Fatin, dan bahwa mulai hari itu, Bu Fatin tinggal di bawah satu atap dengan Bu Endah.
Yang paling banyak dibicarakan justru bukan Bu Fatin, melainkan Bu Endah.
Sebab hingga hari ini, tak seorang jua di desa itu yang pernah melihat Bu Endah menangis di depan umum, mengomel, apalagi mengusir madunya. Yang mereka lihat hanyalah Bu Endah yang tetap tenang, tetap ramah, tetap menyapa siapa saja yang lewat di depan pagar. Beberapa Ibu di desa itu sampai berkata terus terang kepada Suami mereka, “Kalau aku yang jadi Bu Endah, sudah kubakar rumah itu.”
Lambat laun, gunjingan pun surut dengan sendirinya. Bukan lantaran warga menemukan jawaban, melainkan lantaran mereka kehabisan bahan. Farah lahir, disusul Fina dua tahun kemudian. Kedua Bocah itu tumbuh dan berlarian di halaman yang sama dengan Fabian. Dan bagi desa, itu sudah cukup untuk dianggap sebagai akhir cerita.
Padahal, bagi orang-orang yang tinggal di dalam rumah tersebut, cerita itu bahkan belum sampai ke tengah.
^ * Lucy Liestiyo * ^