Episode : Aura Romantis Yang Dirasa Kurang Sempurna (1)
Malam itu, Windy sama sekali tidak bisa tidur.
Bukan lantaran memikirkan pesan Yeslin yang beraroma peringatan tadi siang. Sama sekali bukan. Justru pesan itulah yang sekuat tenaga ia kubur dalam-dalam, ia timbun dengan segala hal yang menyenangkan, supaya tidak sempat mengusik malam yang menurutnya bersejarah ini.
Yang membuat Windy tidak bisa tidur adalah hal lain. Yakni sebuah lemari pakaian yang isinya mendadak terasa salah semua.
Sudah lebih dari sepuluh potong baju yang dikeluarkannya, ia tempelkan ke badannya di depan cermin, lalu ia lemparkan lagi ke atas kasur. Yang ini terlalu ketat. Yang itu terlalu ramai motifnya. Yang satunya lagi bagus sih, tapi warnanya seperti minta diperhatikan.
Duh! Aku ini kenapa sih? Kayak mau lamaran saja, dumal Windy pada dirinya sendiri.
Akhirnya, menjelang pukul dua dini hari, dipilihnya juga sebuah t-shirt lengan panjang berwarna lembut dan celana panjang yang paling nyaman untuk perjalanan jauh. Sederhana. Tidak berlebihan. Tidak terkesan berusaha keras.
Puas dengan keputusannya, Windy merebahkan tubuhnya. Tetapi matanya tetap saja enggan terpejam. Kepalanya sibuk membayangkan jalanan menuju Puncak, udara dingin, kebun bunga yang terhampar di lereng, dan Seorang Lelaki yang berjalan di sisinya sambil menyebutkan nama-nama tanaman yang tak satu pun ia hafal.
Windy baru benar-benar terlelap menjelang pukul tiga pagi.
Dan sebagaimana yang sudah dapat ditebak oleh siapa saja, alarm yang telah dipasangnya dengan penuh perhitungan itu berbunyi tanpa hasil.
“Astagaaaa!” pekik Windy ketika akhirnya membuka mata dan menyambar telepon genggamnya.
Gadis itu langsung melompat dari tempat tidur. Segala rencana indahnya pagi ini, mulai dari mandi dengan tenang, sarapan dengan tenang, sampai memakai riasan tipis dengan tenang, buyar seketika.
Windy menyambar handuknya dan berlari ke kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian, ia sudah menuruni tangga dengan rambut yang bahkan belum sepenuhnya kering.
“Kamu mau ke mana pagi-pagi begini?” tanya Sang Mama dari arah meja makan.
“Keluar, Ma. Sama Teman-teman,” sahut Windy tanpa menghentikan langkahnya.
“Teman-teman yang mana? Yeslin?”
“Eng..., iya. Pokoknya Teman-teman deh, Ma,” jawab Windy cepat.
Sang Mama menurunkan cangkirnya.
“Sarapan dulu, Windy. Mama sudah bikinin nasi goreng.”
“Nggak sempat, Ma. Nanti aku makan di jalan. Serius,” kata Windy sambil menyambar tasnya.
“Nanti sakit maag kamu.”
“Nggak akan. Aku pulangnya malam ya, Ma!” seru Windy, lantas menutup pintu sebelum Sang Mama sempat melancarkan pertanyaan berikutnya.
Di teras, Windy sempat menghela napas lega.
Untung Mama nggak nanya lebih jauh. Kalau sampai ketahuan aku pergi berdua sama Cowok yang belum pernah kukenalkan, bisa panjang urusannya. Nanti saja deh, kalau semuanya sudah jelas, kata Windy dalam hati.
Sesungguhnya bukan hanya Sang Mama yang membuatnya buru-buru menutup pintu.
Windy juga sedang menghindari kemungkinan Papanya keluar dari kamar dan ikut bertanya. Sebab kalau Sang Mama masih bisa dielaknya dengan jawaban yang berputar-putar, tidak demikian halnya dengan Sang Papa. Lelaki itu tidak banyak bicara, tetapi sekali bertanya, biasanya tepat mengenai bagian yang paling ingin ditutupi.
Aduh. Nanti saja deh. Kalau semuanya sudah pasti, aku sendiri yang bakal cerita. Sekarang belum. Masa iya aku kenalin Cowok yang statusnya saja belum jelas? kata Windy dalam hati.
Sepanjang perjalanan menuju toko bunga All Ocassion, Windy tak henti mengecek pantulan wajahnya di layar telepon genggamnya. Diusapnya poninya. Dibetulkannya kerah bajunya. Lalu diulanginya lagi semua itu dari awal.
Ini gara-gara si Nenek Yeslin sih. Coba dia nggak ngomong yang aneh-aneh kemarin. Sekarang jadi ada yang mengganjal begini di kepala, gerutu Windy dalam hati.
Buru-buru ditepisnya pemikiran itu.
Sesampainya di pelataran parkir toko bunga tersebut, jam baru menunjukkan pukul delapan lewat sedikit. Rolling door toko masih dibuka setengah. Seorang Pegawai tampak sedang menyapu daun-daun kering di sudut pelataran, dan langsung membungkukkan badannya dengan sopan begitu melihat Windy turun dari kendaraan.
Windy membalasnya dengan senyum kikuk.
Aduh. Kenapa Pegawai di sini pada sopan begini sih? Jadi salah tingkah, pikir Windy.
Belum sempat ia memutuskan hendak menunggu di mana, pintu kaca di sisi toko terbuka.
Dan di sanalah Bagas berdiri.
Lelaki itu mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, celana panjang berwarna gelap, dan sepatu yang bersih tetapi jelas bukan sepatu baru. Sederhana sekali. Namun entah bagaimana caranya, kesederhanaan itu justru yang membuat Windy selalu kehilangan sebagian kosakatanya.
“Pagi, Win. Maaf ya, aku nggak sempat jemput kamu,” sapa Bagas.
“Eh, nggak apa-apa. Aku juga nggak enak kalau harus dijemput,” sahut Windy cepat.
Bagas tersenyum, lalu mengulurkan sesuatu yang sedari tadi disembunyikannya di balik punggungnya.
Sebuah buket bunga.
Windy terpana. Bukan buket yang besar dan mencolok, melainkan rangkaian sederhana dengan bunga-bunga berwarna lembut yang justru terlihat mahal karena penataannya yang rapi.
“Ini..., buat aku?” tanya Windy, yang seketika merasa pertanyaannya sendiri terdengar bodoh.
“Ya iyalah. Masa buat Pak Satpam,” sahut Bagas.
Windy tertawa. Diterimanya buket tersebut dengan kedua tangan.
Ya ampun. Bagas! Kamu tuh kalau begini bikin aku susah tidur lagi nanti malam, jerit hati Windy penuh suka cita.
“Makasih ya. Aku suka banget. Ini bunga apa sih?” tanya Windy.
“Nanti aku ceritain di jalan. Panjang soalnya,” jawab Bagas.
Windy mengangguk-angguk. Dipeluknya buket itu ke dada. Hatinya berbunga-bunga.
Ya ampun. Coba si Nenek Yeslin ada di sini sekarang. Pasti dia langsung berhenti ngomong yang aneh-aneh soal Bagas. Mana ada Cowok yang punya niat jelek, terus repot-repot bikin buket sendiri buat Cewek yang mau diajak jalan? sorak hati Windy.
Diam-diam, Windy sempat memotret buket tersebut dengan telepon genggamnya. Bukan untuk dikirimkan kepada siapa pun. Sekadar untuk disimpan sendiri, dan dilihatnya lagi nanti malam sebelum tidur.
Kemudian dilihatnya Bagas menoleh ke arah pintu toko, memberikan isyarat kepada Pegawai yang tadi menyapu, agar melanjutkan pekerjaannya saja. Pegawai itu langsung membungkuk sedikit dan berlalu.
Windy memperhatikannya dengan takjub.
Dia ini kalau sama Pegawainya nggak pernah pakai suara tinggi, ya. Cukup pakai tangan sama pandangan mata, semuanya langsung ngerti. Wibawa banget, batin Windy.
Sampai kemudian, Bagas berdeham.
Deheman kecil yang entah mengapa langsung menerbitkan rasa waspada di hati Windy.
“Win, ada yang mau aku bilang dulu sebelum kita berangkat,” kata Bagas.
“Apa?” tanya Windy.
Bagas menggaruk belakang telinganya sebentar. Gerakan yang belum pernah dilihat Windy sebelumnya, dan langsung dibaca oleh Windy sebagai pertanda bahwa yang akan disampaikan bukanlah kabar yang menyenangkan.
“Kita nggak jadi ke Puncak,” ucap Bagas akhirnya.
Windy mengerjap.
“Hah?”
“Kita ke Bogor saja ya. Kebunku yang di sana juga bagus, kok. Malah lebih luas,” tambah Bagas.
Untuk beberapa detik, Windy sungguh-sungguh tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa di wajahnya.
Jadi..., semalaman aku nggak tidur, milih baju sampai berpuluh kali, bangun kesiangan, ngeles ke Mama, buru-buru berangkat, dan sekarang..., nggak jadi ke Puncak? batin Windy yang rasanya seperti jatuh dari tangga.
Ia menunduk sesaat, pura-pura membetulkan pita di buketnya.
Sesungguhnya bukan Puncaknya yang ia sesalkan. Dia sendiri juga tahu, kebun di Bogor pun pasti bagus. Yang membuatnya kecewa adalah karena rencana itu sudah dibangunnya tinggi-tinggi di dalam kepalanya, sepanjang malam, sendirian.
Dan yang lebih menyakitkan lagi, Bagas mengubahnya begitu saja. Tanpa mengabari sebelumnya.
Sabar, Windy. Sabar. Jangan sampai kelihatan kecewa. Nanti dia berpikir kamu ini Cewek yang susah diatur dan banyak maunya, bisik hati Windy memperingatkan Pemiliknya.
Sekilas terlintas keinginan untuk bertanya. Sekadar bertanya, kenapa nggak dikabari dari semalam? Pertanyaan yang menurutnya wajar sekali, dan sama sekali tidak berlebihan.
Tetapi belum sempat pertanyaan itu sampai ke ujung lidahnya, hati kecilnya sudah lebih dahulu mencegah.
Jangan, Windy. Nanti dia berpikir kamu ini Cewek yang perhitungan. Kalian ini bahkan belum jadian. Kamu belum punya hak untuk protes soal jadwal dia, bisik hati Windy.
Windy mengangkat wajahnya, lalu tersenyum. Senyum yang ia usahakan selebar mungkin.
“Oh, oke. Nggak apa-apa kok,” ucap Windy.
Bagas menatapnya sesaat.
“Beneran nggak apa-apa?” tanya Bagas.
“Beneran,” sahut Windy mantap.
Terlampau mantap, malah. Sampai-sampai justru terdengar seperti sebaliknya.
Bagas tidak menyahut lagi. Ditatapnya Windy sekilas, lantas dialihkannya pandangannya ke arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari mereka.
Windy pun memilih untuk menunduk lagi, berpura-pura sibuk mengagumi buket di tangannya.
Padahal sesungguhnya, yang ia lakukan adalah menghitung dalam hati sampai sepuluh, sebagaimana yang biasa dilakukannya setiap kali dirinya merasa nyaris menangis di tempat yang tidak semestinya.
Sudah, Windy. Ini masih pagi. Masih panjang harinya. Jangan sampai rusak cuma gara-gara Puncak, bujuk Windy kepada dirinya sendiri.
Dan begitulah, di pelataran parkir toko bunga itu, dua orang yang sama-sama telah menyiapkan hari ini dengan caranya masing-masing, justru berdiri berhadapan tanpa tahu harus berkata apa lagi.
$ $ Lucy Liestiyo $ $