Episode : Jatuh Cinta Berjuta Rasanya (3)
“...ini, Nek. Bukan kantor elo. Elo cuma numpang di lantai sebelas. Jangan sok punya gedung deh,” lanjut Yeslin sambil terkekeh.
Windy memutar bola matanya.
“Iya, iya. Bawel banget sih lo. Terus, ngapain elo ke sini? Mau nagih utang?” tanya Windy.
“Sialan! Gue kan lagi ada liputan di gedung sebelah. Sekalian mampir. Gue pikir kita bisa makan siang bareng. Eh, malah yang mau gue ajak sudah pasang muka mau kabur,” sahut Yeslin.
Windy tergeragap. Dan celakanya, Yeslin memergokinya.
“Nah! Tuh kan! Muka elo tuh, Nek! Sudah, ngaku saja. Mau ketemu siapa?” desak Yeslin sambil menyipitkan matanya.
“Ya elah. Urusan kerjaan, Nek. Nggak semua orang bisa santai kayak elo, yang kerjaannya cuma foto-foto sama nulis,” elak Windy.
Yeslin mendengkus.
“Enak aja! Coba elo ikut gue seminggu saja, nanti gue lihat masih sanggup ngomong begitu atau enggak,” balas Yeslin.
Windy tertawa, lantas melirik jam di pergelangan tangannya.
Dan lirikan itu, sekecil apa pun, tidak pernah lolos dari pengamatan Seorang Yeslin.
“Buru-buru banget, ya?” tanya Yeslin. Nadanya berubah. Tidak lagi menggoda.
“Iya nih. Sorry ya, Nek. Kapan-kapan deh kita makan siang bareng. Gue traktir, janji,” kata Windy.
Yeslin mengangguk pelan. Namun tatapan matanya tetap menempel di wajah Sahabatnya itu, seakan-akan sedang mencari sesuatu yang sengaja disembunyikan.
“Nek,” panggil Yeslin ketika Windy sudah melangkah dua langkah.
Windy menoleh.
“Apa?”
“Elo baik-baik saja kan?”
Sesaat, Windy merasa ada yang menahan dadanya.
“Ya baik-baik saja lah. Emangnya gue kenapa?” sahut Windy, sambil memaksakan sebuah tawa.
“Nggak apa-apa. Nanya doang,” kata Yeslin, lalu mengibaskan tangannya.
Windy melambai dan bergegas menuju ke arah lift.
Sepanjang menunggu lift turun, dadanya berdebar tidak karuan. Bukan lantaran senang, melainkan lantaran perasaan bersalah yang mendadak menyeruak.
Maaf ya, Nek. Bukannya gue mau bohong sama elo. Cuma..., Bagas yang minta. Katanya, hubungan yang belum jelas mendingan nggak usah diumbar dulu. Nanti kalau sudah waktunya, elo yang pertama gue kasih tahu, kok. Janji, bisik hati Windy.
Sesungguhnya di dasar hatinya, Windy tahu benar bahwa alasannya itu tidak sepenuhnya jujur. Sebab yang paling ia takutkan bukanlah Bagas marah, melainkan Yeslin melontarkan satu pertanyaan lagi yang tidak sanggup ia jawab.
Pertanyaan-pertanyaan macam, kenapa hubungan kalian mesti dirahasiakan? Kenapa elo belum pernah dikenalin ke Teman-temannya? Kenapa elo nggak tahu rumahnya di mana, padahal sudah sejauh ini?
Windy sudah hafal daftarnya. Setiap malam, sebelum tidur, daftar itu selalu berbaris sendiri di kepalanya tanpa diundang. Dan setiap malam pula, dia berhasil menyusun jawaban yang cukup masuk akal untuk menidurkan dirinya sendiri.
Yang tidak pernah sanggup ia lakukan hanyalah satu. Mengucapkan jawaban-jawaban tersebut di depan Yeslin.
Sebab Windy tahu betul, di depan Sahabatnya yang satu itu, alasan yang rapuh akan langsung ketahuan rapuhnya.
*
Sepanjang perjalanan turun, Windy sibuk membenarkan dirinya sendiri.
Toh gue nggak bohong. Gue memang ada urusan. Urusan hati, kan termasuk urusan juga? cetus Windy, lalu tertawa sendirian di dalam lift yang untungnya kosong.
Tawa yang mereda secepat munculnya.
Windy mampir sebentar di sebuah rumah makan yang letaknya searah dengan toko bunga All Ocassion.
Dipesannya dua paket makanan lengkap dengan minumannya, untuk dirinya dan Bagas. Lalu, entah dorongan dari mana, dia meminta tambahan beberapa paket lagi.
Buat Pegawai di toko. Biar mereka seneng. Lagi pula, masa iya gue makan di depan mereka sendirian sama Bosnya? Kan nggak enak dilihatnya, pikir Windy.
Setibanya di pelataran toko bunga tersebut, Windy langsung mengedarkan pandangannya. Mobil Bagas tidak ada.
Ia turun sambil menenteng dua tas karton besar, lalu masuk ke dalam toko.
“Selamat siang, Mbak Windy,” sapa Seorang Wanita yang tengah berdiri di balik meja kasir.
Windy tersenyum.
Eka. Wanita yang selalu ada di toko ini setiap kali dia datang. Wanita yang selalu menyapanya lebih dahulu, selalu sopan, selalu tenang, dan yang entah mengapa, selalu berhasil membuat Windy merasa seperti tamu yang datang terlalu sering.
“Siang, Mbak Eka. Mas Bagas belum datang, ya?” tanya Windy.
“Belum. Tadi sempat menelepon, katanya masih di jalan,” sahut Eka.
“Oh, gitu. Ya sudah, aku tunggu di sini saja ya. Boleh kan?” tanya Windy.
“Ya boleh, Mbak. Silakan duduk. Mau saya bikinkan minum?”
“Eh, jangan, jangan. Nggak usah repot-repot,” cegah Windy cepat.
Toko itu siang ini terasa lebih sejuk daripada biasanya. Aroma bunga potong bercampur dengan aroma air dari ember-ember plastik yang berjajar di sepanjang dinding. Di sudut yang lain, dua Orang Pegawai tampak sibuk merangkai, sementara satu Orang lagi mengangkat gulungan kertas pembungkus dari rak paling atas.
Windy suka sekali suasana ini. Dan diam-diam, dia sudah beberapa kali membayangkan dirinya menjadi bagian dari suasana tersebut. Bukan sebagai tamu yang duduk menunggu, melainkan sebagai seseorang yang berhak keluar masuk tanpa perlu bertanya.
Windy meletakkan kedua tas kartonnya di atas meja, lalu duduk di kursi yang biasa dipakainya menunggu.
Diam-diam, diamatinya Eka dari samping.
Wanita itu memang tidak muda lagi. Tetapi ada sesuatu pada caranya bergerak, caranya menyusun bunga, caranya mengangkat telepon, yang membuat Windy selalu merasa kecil. Seolah-olah Eka mengetahui segala sesuatu tentang toko ini, tentang Bagas, tentang segalanya, sementara dirinya hanyalah Orang luar yang kebetulan sedang diizinkan masuk.
Windy juga sempat memperhatikan sesuatu yang lain.
Bahwa di toko ini, semua Pegawai memanggil Bagas dengan sebutan Pak Bos. Semua. Kecuali Wanita satu itu.
Eka selalu memanggilnya Mas Bagas.
Dan setiap kali sebutan itu terdengar, ada sesuatu yang mengganjal di dada Windy. Sesuatu yang tidak sanggup ia namai, dan yang buru-buru ia usir sebelum sempat berkembang menjadi pemikiran yang lebih jauh.
Windy langsung menepis pikirannya sendiri.
Ih, Windy! Kenapa jadi mikir begitu sih? Dia itu Pegawainya Bagas, tahu. Sudah, jangan aneh-aneh. Jangan sampai kelihatan kalau kamu itu insecure, tegur Windy pada dirinya sendiri.
Telepon genggam Windy bergetar.
Nama Bagas tertera di layarnya.
“Halo?” sahut Windy dengan suara yang seketika berubah manis.
“Win, kamu di mana?”
“Di toko kamu, dong. Aku sudah bawa makan siang, nih. Buat kita berdua,” kata Windy.
Terdengar helaan napas di seberang sana.
“Aduh, maaf ya. Aku nggak jadi ke toko. Ini masih di daerah Kebayoran, ketemu vendor. Kayaknya masih lama. Kamu makan duluan saja, ya?”
Senyum di wajah Windy pudar perlahan.
“Oh..., ya sudah kalau begitu. Nggak apa-apa kok,” sahut Windy.
“Sorry ya, Sayang. Nanti malam aku telepon.”
Panggilan itu berakhir.
Windy menatap layar teleponnya beberapa saat. Lalu ia menatap kedua tas karton di atas meja, yang isinya masih hangat dan mengeluarkan aroma yang tadi terasa begitu menggoda, namun sekarang seakan tak berarti apa-apa.
Ya ampun. Buat siapa nih semuanya? Masa gue makan sendirian di sini kayak orang kesasar? Sudahlah, gerutu Windy dalam hati.
Sekejap saja, seluruh bayangan indah yang tadi ia susun sepanjang perjalanan buyar tak bersisa. Bayangan tentang mereka berdua duduk berhadapan di ruangan kerja Bagas, dengan pintu tertutup, dengan makanan yang masih hangat terhidang di meja, dan dengan percakapan yang tidak perlu terburu-buru.
Windy menghela napas panjang.
Sudah, jangan ngambek. Dia kan lagi kerja. Masa iya kamu mau protes cuma gara-gara batal makan siang bareng? Nanti dia berpikir kamu Cewek yang manja dan nggak pengertian, tegur Windy kepada dirinya sendiri.
Ia bangkit berdiri, meraih salah satu tas karton, lalu melangkah menghampiri meja kasir.
“Mbak Eka,” panggil Windy.
Eka mengangkat wajahnya.
“Ya, Mbak?”
“Ini buat Mbak Eka sama teman-teman di sini ya. Aku beli kebanyakan soalnya. Mas Bagas nggak jadi datang,” kata Windy sambil menyorongkan tas karton tersebut.
Eka langsung menggeleng.
“Wah, jangan Mbak. Terima kasih, tapi..., nggak usah repot-repot.”
“Ih! Nggak repot kok. Aku memang sengaja beli lebih. Sudah, diterima saja. Kalau nggak dimakan, mubazir nanti,” desak Windy.
“Tapi Mbak...”
“Nggak ada tapi-tapian,” potong Windy.
Dan tanpa menunggu persetujuan, Windy meraih tangan Eka, lalu menggenggamkan tali tas karton tersebut ke jemari Wanita itu, dengan setengah memaksa.
Untuk sepersekian detik, Windy sempat merasakan jemari Wanita itu menegang di dalam genggamannya. Bukan menolak. Lebih menyerupai seseorang yang terkejut karena disentuh oleh Orang yang tidak diharapkannya menyentuh.
Namun Windy sedang terlalu terburu-buru untuk memikirkannya.
Eka tak berkutik. Ia hanya sanggup mengangguk kaku.
“Terima kasih, Mbak Windy,” ucap Eka pelan.
“Sama-sama! Ya sudah, aku balik ke kantor dulu ya. Titip salam buat Mas Bagas kalau dia mampir,” kata Windy sambil menyambar tas kartonnya yang satu lagi.
Gadis itu melangkah keluar dengan cepat, tanpa menoleh lagi, dan tanpa sedikit pun menyadari betapa lama Wanita di belakangnya itu terpaku memandangi punggungnya.
$ $ Lucy Liestiyo $ $