Selama ini, hubungan antara Kegan dan Nadeline tidak pernah mengalami banyak masalah. Dua orang itu saling mendukung dalam waktu yang sangat lama dan mencintai dengan perasaan tulus satu sama lain. Sehingga tidak satu pun dari mereka akan menyangka bahwa masalah yang datang ke dalam hubungan mereka adalah masalah sebesar seperti sekarang ini
Nadeline pernah mempercayakan semua perasaannya untuk Kegan dan menganggap bahwa laki-laki itu adalah pilihan terakhirnya untuk sebuah hubungan asmara. Wanita yang telah terjun ke dunia hiburan sejak belasan tahun silam itu tidak pernah meragukan kesetiaan Kegan hingga akhirnya laki-laki itu datang kemudian memutuskan untuk menikah dengan wanita yang bukan dirinya.
Di ruangan yang hanya bisa diakses Kegan dan Nadeline, pasangan kekasih yang belum resmi menyudahi hubungan mereka itu saling berhadapan. Kegan menatap lekat ke arah Nadeline, sementara wanita itu mengarahkan pandangannya ke depan tanpa berniat balas menatap Kegan.
“So what we have to do right now?” tanya Nadeline seraya menolehkan kepala ke arah Kegan.
“Just stay here, with me,” jawab Kegan dengan nada setengah memohon.
Nadeline tertawa sinis. “Dan ngerusak reputasi yang selama ini berusaha aku jaga?”
“Kita bisa rahasiakan ini, kan?” Kegan menatap putus asa ke arah kekasihnya.
Tidak pernah sekali pun Kegan bayangkan bahwa dia akan menghadapi hari di mana dirinya berpisah dengan Nadeline apalagi dengan cara seperti ini. Nadeline adalah bentuk sempurna yang selama ini tidak pernah ingin Kegan lepas dalam hidupnya. Wanita itu ingin selalu Kegan genggam, ingin selalu Kegan jadikan sandaran untuk bertahan.
“Kita nggak bisa, Kegan. Sekali aja kamu punya hubungan sama orang lain selain aku, di titik itu kita udah nggak bisa bareng lagi,” jelas Nadeline dengan seutas senyum pahit
Nadeline merasa bahwa saat ini dirinya adalah wanita yang sangat menyedihkan. Berhadapan dengan perpisahan yang sebentar lagi akan terjadi dengan orang yang sangat dia cinta, lalu mengatakan kata-kata yang sering dia ucapkan ketika berdialog di depan kamera, dan melihat tatapan pilu Kegan yang sungguh membuat perasaannya remuk redam. Jika selama ini Nadeline tidak pernah mendalami karakter yang dia mainkan sedemikian menyedihkan, maka saat ini dia yakin bahwa kisah cintanya akan menjadi salah satu referensinya untuk mendalami peran.
“Aku nggak pengen pisah sama kamu,” ujar Kegan lalu meraih tangan Nadeline.
“Jangan nikah sama dia kalau gitu,” jawab Nadeline.
Helaan napas panjang keluar dari bibir Kegan ketika laki-laki itu menutup matanya. hubungan antara dirinya dengan Nadeline memang sangat menyakitkan untuk diakhiri. Namun, di sisi lain, membatalkan pernikahannya dengan Kanin adalah hal paling memalukan yang akan mencoreng nama baik keluarga besarnya.
Kegan bukannya tidak memikirkan Nadeline serta permintaan wanita itu, hanya saja dia sama sekali tidak memiliki pilihan untuk membatalkan pernikahan dengan Kanin. Bagaimana pun juga, dia masih menjadi bagian keluarga Dikara yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga. Kegan tidak ingin nama baik keluarganya dipermalukan jika dia mengambil jalan seperti itu.
“You know how was my family, Nad. They will not accpeting the fact that I can’t to be with her,” ujar Kegan pelan.
“Are you sure for saying this?” Nadeline menatap tidak percaya ke arah Kegan lalu membebaskan tangannya dari genggaman laki-laki itu. “Kamu masih percaya sama tradisi kuno keluarga kamu itu?”
“Mau segimana aku nggak terima sama tradisi itu, aku nggak pernah punya ruang buat nolak. Keluargaku nggak sesederhana yang kamu kira, Nad,” balas Kegan.
Nadeline menganggukkan kepalanya dengan tatapan kecewa yang terlihat jelas di kedua mata indahnya. Menjalin hubungan dengan Kegan yang dia tahu berasal dari keluarga yang tergolong bangsawan adalah sebuah resiko menyakitkan yang pernah Nadeline ambil dalam hidupnya.
Seharusnya Nadeline tahu bahwa resiko terbesar dari hubungannya dengan Kegan adalah perpisahan. Tidak peduli seberapa besar laki-laki itu mencintainya dan memperlakukannya dengan sangat istimewa, latar belakang hidup mereka terlalu bertolak belakang untuk dipaksa bersatu. Dunia yang Nadeline jalani saat ini sangat bertentangan dengan dunia Kegan dan segala kodrat kebangsawanan laki-laki itu
“Okay ….” Nadeline menarik napas panjang, memberikan jeda untuknya bernapas sejenak. “Let’s break up.”
Ada rasa sakit yang menghantam d**a Kegan ketika dia mendengar kalimat itu pada akhirnya. Semua hal yang selama ini dia persiapkan jika Nadeline mengatakan hal itu ternyata sama sekali tidak berguna ketika dia akhirnya menghadapi kejadian yang sebenarnya. Kegan mendadak terpaku, dengan rasa sakit yang bersarang tepat di ulu hatinya.
“W don’t have a choice,” ujar Kegan pada akhirnya.
“I have. We both have a choice but you don’t want to take a risk,” balas Nadeline lirih.
Kegan mengarahkan tatapannya ke arah Nadeline lalu menatap wanita itu lekat-lekat. Dia ingin mengabadikan bagaimana paras sempurna Nadeline yang mungkin tidak akan dia temui setelah ini. Setelah perpisahan ini, mungkin Nadeline akan menghilang dari hidupnya dan hanya bisa dia lihat lewat sosial media dan layar kaca. Wanita itu akan pergi menuju kehidupan barunya dengan langkah yang sudah tidak lagi beriringan dengan dirinya.
“I’m sorry, Nad. I really sorry,” ujar Kegan dengan suara dalam. “For everything I can’t do, I really sorry.”
Pernyataan maaf itu terasa sekian kali lebih menyakitkan untuk Nadeline hingga dia merasa perasaannya terkoyak. Melihat Kegan yang tidak berdaya di hadapannya dengan tatapan pilu sarat akan rasa sakit adalah kesakitan sempurna untuk Nadeline rasakan.
Air mata yang sejak tadi tertahan di pelupuk matanya perlahan luruh saat melihat Kegan juga mulai menangis di hadapannya. Laki-laki yang selama ini selalu melindunginya dan tidak pernah terlihat lemah sedikit pun, sekarang menangis di hadapannya dan membuat hati Nadeline remuk redam.
“Makasih banyak, Nade. You are the most precious person I have known in this life. I really thank you for everything you gave to me.” Kegan mengusap air matanya lalu tersenyum tipis ke arah Nadeline.
“Hug me, Ke. For the last time, hug me,” ujar Nadeline dengan wajah yang masih menunduk dalam.
Kegan berdiri dari tempatnya lalu menghampiri Nadeline. Laki-laki itu mengangkat perlahan tubuh Nadeline agar berdiri di depannya lalu memeluk wanita itu begitu erat. Kegan memejamkan matanya, sementara Nadeine masih terus menangis keras dalam pelukan Kegan.
Hubungan sempurna yang mereka jalani selama ini menemukan titik temu dalam sebuah kehancuran. Dua orang yang sama-sama menginginkan dengan perasaan yang saling terikat itu kini harus terpaksa saling melepaskan. Kegan dan Nadeline, dua manusia sempurna itu perlahan membiarkan kisah mereka usai lewat pelukan panjang dengan tangis yang juga ikut mengiringi.
Setelah ini, kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan sekian tahun terakhir akan berakhir. Hubungan mereka akan berhenti setelah pelukan ini usai. Dan Kegan tidak pernah rela untuk itu. begitu juga Nadeline yang merasa bahwa kebersamaannya dan Kegan terlalu manis untuk disudahi sampai di titik ini.
--
Selain Kegan, ternyata Kanin juga merasakan pahitnya perpisahan karena hubungan mereka berdua. Kanin juga harus melepaskan Agam yang selama ini bahkan selalu menjaganya dan membuatnya merasa sebagai wanita paling bahagia di dunia. Wanita itu terpaksa berlagak menjadi manusia paling kuat yang sama sekali tidak goyah dengan perpisahannya dengan Agam meskipun jauh di dalam lubuk hatinya, perasaannya sedang terkoyak tanpa sisa.
Kanin bertemu dengan Agam ketika dia masih muda. Saat itu, dia hanya seorang mahasiswi jurusan desain mode yang sedang melakukan penelitian di salah satu pabrik pakaian. Lalu dia bertemu dengan Agam yang saat itu sudah menarik perhatiannya sejak pertama kali mereka bertatapan muka. Dan mulai sejak pertemuan itu, hubungan mereka mendekat dan semakin erat hingga seperti sekarang.
Wanita yang sedang duduk di sebuah meja kafe untuk menunggu kedatangan mantan kekasihnya itu kemudian mengulas sebuah sneyum tipis. Kenangannya bersama Agam terlalu indah untuk Kanin lupakan dan dia sungguh tidak ingin menghapus Agam dalam ingatannya. Seberapa keras pun dia berusaha menunjukkan bahwa dia baik-baik saja setelah perpisahannya dengan Agam, hatinya tetap terasa begitu ngilu jika mengingat bagaimana alur kisah mereka yang terpaksa berhenti di titik ini.
“Kanin.”
Suara berat dan dalam itu terasa sangat familiar di indra pendengeran Kanin. Tanpa perlu menoleh untuk tahu siapa yang memanggilnya, Kanin sudah bisa memastikan bahwa orang itu adalah Agam. Sehingga bahkan ketika Agam berjalan dan duduk di depannya, Kanin sama sekali tidak menoleh untuk menanggapi panggilan laki-laki itu
“Hai,” sapa Kanin ketika Agam sudah duduk di depannya.
Laki-laki itu sama sekali tidak menanggapi sapaan Kanin atau terlihat bersahabat dengan sapaan wanita yang sudah menjadi mantan pacarnya itu. tatapan mata Agam terlihat dingin dan kelam sehingga Kanin harus menahan napasnya selama beberapa detik saat melihat sorot mematikan dari laki-laki yang selama ini bahkan tidak pernah menatapnya sedemikian tajam.
“This is still about him?” tanya Agam tana mau mempepanjang basa-basi mereka.
“Who?” Kanin tersenyum lembut. “This is about us.”
“Kegan,” potong Agam cepat.
Napas Kanin tercekat mendengar suara dingin itu. Agam memang benar-benar marah atau mungkin sangat kecewa terhadapnya hingga laki-laki itu bahkan tidak lagi peduli dengan nada bicaranya di hadapan Kanin.
Kesabaran Agam tidak sebesar yang dibayangkan karena laki-laki itu sangat mudah tersulut emosi. Ketika kali pertama Kanin memutuskannya secara tiba-tiba di pesta pernikahan kakaknya, Agam masih bisa bersikap biasa saja dan bertindak selayaknya mereka adalah sepasang kekasih yang sedang terlibat permasalahan biasa. Lalu ketika Kanin menegaskan bahwa wanita itu akan menikah dengan Kegan, kesabaran Agam mulai terkikis dengan cepat. Hingga puncaknya saat Kanin datang lalu membela Kegan di depan matanya sendiri, sejak saat itu Agam sudah tidak lagi menoleransi tindakan Kanin sekalipun dia sangat mencintai wanita itu.
“Aku nggak bisa ngapain, Gam. Aku nggak punya hak buat nolak pernikahan ini,” ujar Kanin kemudian. “Dan aku sama sekali nggak bisa nolak Kegan buat jadi calon suamiku.”
Kanin tahu bahwa kalimatnya akan sangat menyakiti Agam bahkan melukai harga diri laki-laki itu. namun, sungguh. Saat ini Kanin benar-benar tidak memiliki pilihan untuk membebaskan dirinya bertindak. Segala hal yang berkaitan dengan pernikahannya dengan Kegan sudah diatur oleh dua keluarga besar dan Kanin terjebak di antara rasa hormatnya dan hutang budinya terhadap sang nenek yang sangat menginginkan pernikahan ini terjadi.
“Aku nggak ngerti kenapa pikiranmu sekarang jadi kuno begini,” tanggap Agam dengan kernyitan di dahinya.
“Agam,” ujar Kanin dengan pandangan memelas. “Tolong ngerti posisiku sekarang, ya?”
“Bagian mana aku yang nggak ngerti, Nin? Bahkan kamu minta putus pun aku sama sekali nggak masalah. I just want everything to be clear biar aku nggak bertanya-tanya kenapa kita harus pisah.”
“Everything is clear now. Aku memang jahat banget karena harus ninggalin kamu dengan cara begini. Tapi, Gam. Aku sama sekali nggak bisa berbuat apa.” Kanin menghela napas panjang.
Agam menatap lekat wajah wanita yang saat ini terlihat pias di depannya. Kanin sama sekali tidak menunjukkan raut wajah datar atau dingin seperti apa yang biasa wanita itu perlihatkan. Sebaliknya, saat ini Kanin terlihat seperti wanita lemah yang tidak memiliki pilihan lain untuk hidupnya.
Selama mengenal Kanin, baru kali ini Agam melihat sisi lemah Kanin yang seperti ini. Wanita itu selalu memperlihatkan bahwa dirinya memiliki kuasa ketika bersamanya dan Agam sangat mengenal bagaimana sifat Kanin selama ini. Ketika Kanin menunjukkan ekspresi menyedihkan seperti saat ini, Agam tahu wanita itu sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.
“Ya sudah kalau memang gitu alasan kamu. I try to understand,” ujar Agam kemudian. “Dan untuk hubunganmu sama Kegan, hope it will be last forever.”
Setelahnya, Agam beranjak meninggalkan Kanin yang saat ini menutup mata dengan kepala menunduk. Tidak ada yang bisa dia pertahankan dari semua hal yang berusaha Kanin jaga. Semuanya mendadak hancur karena kehadiran Kegan lengkap dengan segala hal yang berkaitan di antara mereka.
Kanin membenci dirinya yang tidak berdaya jika menyangkut keinginan neneknya ini. Wanita itu merasa begitu lemah dan Kanin sangat membenci kenyataan bahwa tidak ada hal yang bisa dia lakukan untuk menolong dirinya keluar dari lubang ini. Kanin benci untuk mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak bisa menolak Kegan dan melanjutkan hidupnya dengan bahagia bersama Agam
--