“Laporan keuangan bulan kemairn tolong kirim ke email saya.” Kegan meletakkan map yang sudah habis dibacanya di atas meja ketika mengucapkan kalimat itu.
Asisten pribadinya yang sudah bekerja di perusahaan ini selama hampir tiga tahun menjadi bawahan Kegan mengangguk singkat. Wanita berpakaian kasual dengan rambut diikat tinggi itu lantas mengirimkan laporan yang diminta oleh Kegan beberapa saat lalu.
“Sebenarnya kemarin Pak Dion nyari Pak Kegan, tapi Bapak nggak ada di kantor,” ujar Danisa setelah mengirimkan surel yang diminta oleh Kegan.
Laki-laki itu mengangkat pandangannya dan menatap ke arah asisten pribadinya itu selama beberapa saat. Kegan lantas berdiri dari kursinya dan meraih map yang tadi sempat diletakannya
“Buat janji temu sama Dion. Hari ini saya ada keperluan di pabrik jadi cari hari lain selain sekarang,” perintah Kegan sebelum beranjak dari ruangannya dan meninggalkan Danisa yang segera mengerjakan tugas yang dia berikan.
Kegan melangkahkan kakinya melewati lorong kantornya yang tampak sepi siang itu. laki-laki itu memasuki lift, lalu menuju lantai bawah hingga kemudian ke basement mobil. Setelah mengambil kunci mobilnya, Kegan lantas mengendari mobil itu keluar dari area kantor.
Jalanan siang itu sedikit macet saat Kegan mengendarainya. Tatapan mata yang terlihta tajam dan fokus ke depan itu beberapa kali melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Kegan menghela napas lalu memukul pelan stir mobilnya saat melihat keadaan macet yang semakin parah.
Beberapa menit berlalu tetapi mobil yang dia kendarai hanya bisa maju sejengkal. Kegan hanya bisa menunggu dengan bosan kapan kerumunan kendaraan ini bisa berjalan sehingga waktunya tidak terbuang sia-sia seperti sekarang ini.
Ponselnya berbunyi sehingga pandangannya yang semula fokus ke depan sekarang teralih. Kegan meraih ponsel pintarnya lalu mengangkat panggilan dari kepala bagian produksi pabrik pusat yang akan Kegan datangi saat ini
“Halo, Pak Andre,” sapa Kegan begitu panggilan tersambung. “Saya masih kejebak macet.”
“Distributor daerah ada laporan lagi, Ke. Ini saya masih berusaha buat ngakalin pesanan,” lapor laki-laki yang usianya sepantaran ayahnya itu.
Kegan menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. “Sebentar lagi saya sampai, Pak. Nanti kita bicarakan lebih detailnya.”
“Oke. Saya tunggu,” jawab laki-laki itu kemudian menutup sambungannya.
Setelah panggilan itu terputus, Kegan mengumpat cukup keras. Pikirannya saat ini sedang kalut dan ditambah lagi dengan kemacetan di depannya yang entah kapan akan selesai. Memikirkan laporan keuangan yang mendadak berbeda dari prediksi awal perusahaan di tengah cuaca panas yang membuatnya sangat gerah, ditambah lagi dengan jalan raya yang luar biasa macet. Andai saja bisa, maka Kegan saat ini sudah berteriak frustrasi
--
Pabrik itu terletak di pinggiran ibu kota yang kawasannya memang diperuntukan untuk satu perusahaan, yaitu perusahaan Dikara. Perusahaan yang bergerak di bidang konvensi dan tekstil itu menyediakan lahan yang sangat luas untuk menjadi pabrik pusat mereka membuat kain-kain yang nantinya akan didistribusikan ke berbagai kosumen dari semua daerah.
Dikara Group memang sudah sangat lama mengepakkan sayapnya di bidang kain dan pakaian seperti ini. Bermula dari generasi pertama yaitu buyut Kegan yang gemar menenun lalu dilanjutkan dengan generasi-generasi selanjutnya dengan perubahan yang bergerak ke arah modern. Dan saat ini, Kegan berperan sebagai manajer utama dari salah satu anak perusahaan Dikara yang lebih khusus bergerak di bidang kain dari pakaian-pakaian ekslusif yang sering dipesan oleh desainer terkenal.
Kegan keluar dari mobilnya lalu berjalan menuju pabrik yang begitu berisik saat dia melangkahkan kaki mendekat. Suara mesin saling bersahutan. Bau khas pewarna serta berbagai bahan kimia lain terasa menyengat indra penciuman Kegan begitu dia sampai di sana.
“Pak Andre!” panggil Kegan kepada pria paruh baya yang sekarang berjalan mendekat ke arahnya.
“Kerjaan kamu di kantor gimana? Nggak ganggu kan karena harus dateng ke sini?” balas Andre yang sekarang menjabat ramah tangan Kegan.
Laki-laki dengan kemeja berwarna biru gelap itu tersenyum tipis seraya menggeleng pelan. “Bisa diatur, Pak. Saya juga pengen lihat-lihat pabrik.”
Andre tertawa lalu merangkul bahu Kegan dengan sangat akrab. Berhubung Kegan adalah putra dari sahabatnya, maka hubungan mereka juga bisa dibilang tidak terlalu canggung. Meskipun posisi Kegan di perusahaan lebih tinggi daripada dirinya, tetapi laki-laki muda itu bersikeras agar tidak usah memanggilnya bapak seperti kebanyakan pekerja lain. Kegan meminta Andre untuk menganggapnya sebagai anaknya sendiri sehingga hubungan mereka juga berjalan cukup dekat smpai saat ini.
“Ayah kamu apa kabar? Pasti keteteran itu si Raden setelah Pak Brata meninggal.” Andre membawa Kegan menuju ruangannya yang terletak sedikit jauh dari pusat kegiatan pabrik.
“Papa lagi pusing mikirin gimana investor lain yang hampir lepas kemarin,” jawab Kegan seadanya.
Andre tersenyum simpul mendengar jawaban yang diberikan oleh Kegan. Laki-laki itu kemudian berdiri dan mendekat ke arah lemari tua yang terletak di pojok ruangan. Tangannya dengan lincah mencari sebuah dokumen berisi catatan pengeluaran pabrik dan juga catatan konsumen yang dia dapatkan dari distributor.
“Bulan kemarin kita keluar hampir lima ratus juta untuk satu jenis kain. Kamu ngerasa ini aneh atau normal aja?” Andre menyerahkan dokumen itu ke hadapan Kegan.
Dengan teliti, Kegan membaca laporan dari buku yang terlihat usang itu. Keningnya mengernyit perlahan saat dia menemukan kejanggalan dari laporan yang sedang dibacanya. Meskipun masih dengan cara manual seperti ini, Kegan yakin betul bahwa data yang kini berada di tangannya memang valid karena Andre tidak akan pernah melewatkan sedikit saja detail pengeluaran pabrik.
“Tiga ratus juta untuk satu jenis kain rasanya terlalu mahal,” ujar Kegan. “Produksi kain kita untuk satu jenis yang sama nggak pernah lewat dari seratus juta.”
“Benar,” tanggap Andre. “Tiga ratus juta yang itu yang saya takutkan belakangan ini.”
“Gimana sama pihak SDA? Mereka udah bikin laporan yang memang benar, kan?” Kegan mengangkat wajahnya ke arah Andre.
“belum bisa kita pastikan. Semuanya sekarang lagi sibuk sama produksi kain yang kemarin ramai di pasaran,” jelas Andre. “Masalah distribusi juga. Macet total di semua cabang.”
“Itu penyebabnya udah bisa Pak Andre prediksi?” tanya Kegan dengan tatapan fokus kepada laki-laki paruh baya di depannya.
“Kemungkinan ada pihak distributor daerah yang sengaja bikin macet penjualan,” jawab Andre sepintas. “Tapi sekali lagi, belum ada yang bisa dipastikan dengan jelas.”
Kegan memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut nyeri. Semua permasalahan yang terjadi saat ini sudah bukan lagi berada di skala kecil hingga dia bisa melewatinya begitu saja. Pengeluaran yang tidak sesuai dengan keadaan lapangan, serta penjualan yang terhambat sehingga menghambat proses produksi. Semua itu adalah permasalahan serius yang mungkin tidak akan bisa Kegan tangani seorang diri.
“Pak Andre tolong awasi terus di pabrik dulu, ya. Biar saya cek di kantor juga apa yang salah,” ujar Kegan seraya berdiri. “Saya permisi dulu.”
--
Kanin memutar pulpen yang saat ini terselip di antara sela jarinya. Wanita itu tampak sedang berpikir keras dilihat dari keningnya yang mengerut begitu dalam. Di ruangannya itu, Kanin sedang memikirkan berbagai cara agar event yang akan dia dan timnya selenggarakan bisa berlangsung secepatnya.
Saat ini, permasalahan utama yang dihadapi Kanin adalah kepercayaan klien yang sudah diambang batas. Kanin kemungkinan besar akan kehilangan pelanggan tetapnya karena telah memberikan kesan bahwa dirinya sama sekali tidak bertanggung jawab atas suatu acara.
Suara ketukan pintu membuyarkan semua pikiran Kanin yang sejak tadi sama sekali tidak berhenti bekerja. Wanita itu mengangkat kepalanya perlahan lalu menaikkan sebelah alis saat Agam tiba-tiba datang membuka pintu ruang kerjanya.
“What are you doing here?” tanya Kanin spontan.
“To congratulate you,” jawab Agam dengan seutas senyum tipis.
Kanin semakin menukikkan alisnya saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Agam. Laki-laki itu datang begitu saja tanpa alasan yang jelas tentu saja membuat Kanin kebingungan atas sikapnya. Terlebih lagi, hubungan mereka akhir-akhir ini tidak bisa dikatakan baik semakin membuat Kanin curiga dengan motif kedatangan Agam saat ini.
“Aku nggak yakin kamu rela dateng ke sini Cuma buat itu,” ujar Kanin lalu berdiri dan menghampiri Agam.
Laki-laki dengan tubuh tinggi dan tegap itu tertawa kecil menanggapi ucapan Kanin. Ditatapnya wanita yang sampai saat ini masih begitu dia cintai itu dengan pandangan lekat dan dalam. Agam tidak melepaskan pandangannya bahkan sampai Kanin benar-benar sudah berdiri di hadapannya.
“Masalahnya apa kalau aku emang beneran dateng buat kasih kamu selamat?” tanggap Agam dengan senyum tipis. “Congratulation for you wedding, Kanina.”
“Thank you,” jawab Kanin dengan nada canggung. “Aku nggak tau harus gimana.. tapi thank you.”
Lagi-lagi Agam tertawa yang semakin membuat Kanin kebingungan. Ada hal yang tidak biasa yang ditunjukkan oleh Agam saat ini sehingga membuatnya bingung bukan main. Agam tidak biasanya bertindak pasrah seperti sekarang ini apalagi terhadap sesuatu yang menurut laki-laki itu adalah miliknya sepenuhnya.
“Don’t you think there is something wrong with your husband?” Agam mendekatkan bibirnya ke sebelah telinga Kanin.
Wanita itu menatap tidak mengerti ke arah Agam saat mendengar ucapan laki-laki itu. “What do you mean?”
“Aku rasa kamu nggak sedeket itu sama suamimu sampai nggak tau masalah apa yang dia hadapi belakangan ini,” balas Agam yang sama sekali tidak menjawab rasa penasaran Kanin.
“But ya.. happy wedding, Kanin. I hope you will be happy with your husband.”
Setelah mengucapkan kalimat yang seperti menyimpan begitu banyak arti itu, Agam melangkah keluar dari ruangan Kanin. Tidak ada penjelasan apa-apa lagi, pria itu keluar begitu saja meninggalkan Kanin yang seperti orang bodoh karena sama sekali tidak paham apa yang sedang terjadi.
Mengapa Agam datang dan apa alasan laki-laki itu mengucapkan kalimat yang seperti sedang memperingatkannya, adalah sebuah teka-teki baru di pikirannya saat ini. Kanin semakin memutar otak dan berusaha menghubungkan semua kejadian yang terjadi belakangan ini, terutama kejadian yang berkaitan dengan Kegan.
Setelah beberapa saat, Kanin baru menyadari bahwa kemungkinan besar Agam terlibat dalam masalah yang dihadapi Kegan saat ini. Yang meskipun tidak Kanin tahu apa persisinya, tapi wanita itu yakin bahwa ada campur tangan Agam di baliknya.
<