Telepon dari nomor tidak dikenal itu membuat malam Kanin terasa semakin lelah. Apalagi ketika di penelepon mengatakan siapa dirinya dan apa maksudnya menghubungi Kanin. Semakin bosan dan malaslah Kanin yang malam itu baru saja pulang dari butik.
Orang itu adalah Kegan. Meneleponnya untuk mengatakan bahwa besok pagi seluruh anggota keluarga laki-laki itu ingin bertemu dengannya secara resmi. Tanpa penolakan atau bantahan karena Kegan memberikannya informasi secara mendadak, Kanin dengan segera mengosongkan jadwalnya besok satu hari penuh.
Meskipun menikah dengan Kegan hanya sebuah politik dua keluarga untuk mempererat hubungan yang entah tujuannya apa, Kanin tetap ingin memberikan kesan sempurna untuk keluarga laki-laki itu. kanin tidak ingin dipandang sebagai wanita rendah dan ingin dirinya dianggap pantas bersanding dengan anggota keluarga Dikara yang terkenal dengan status sosialnya yang terhormat.
Sehingga hari itu, pagi-pagi sekali Kanin sudah bersiap untuk menghias wajahnya. Tidak peduli bahwa dia benar-benar lelah karena pekerjaannya yang menumpuk sejak semalam sampai dini hari, wanita itu tetap bersiap demi menampilkan yang terbaik di hadapan keluarga Dikara yang terhormat.
“Kamu yakin bakal dateng ketemu mereka?” Sarah datang membuka pintu kamar Kanin.
Kanin yang sedang memoles wajahnya di depan cermin segera menoleh ke arah sang ibu. Wanita itu lantas tersenyum ke arah Sarah yang terlihat menatap khawatir ke arahnya.
“Mama khawatir sama keluarga Kegan?” tanya Kanin lalu kembali menghadap ke arah cermin.
Sarah mengangguk singkat lalu berjalan ke arah Kanin dan duduk di atas kasur anak perempuannya itu. meskipun keluarga mereka sudah mengenal satu sama lain sejak lama, dan ada sebuah ikatan yang menjebambatani dua keluarga itu, tetap saja Sarah merasa was-was ketika melepaskan putri sulungnya ke keluarga yang terkenal masih kental dengan kesopanan itu.
Dibandingkan dengan keluarganya yang sudah lebih modern, Keluarga Dikara masih memegang erat prinsip keraton mereka. Semua orang di keluarga itu seolah memiliki pakem tersendiri yang harus ditaati oleh semua orang termasuk calon anggota keluarga baru yang akan masuk ke keluarga mereka.
“Takut bukan lingkunganmu,” ujar Sarah.
“Aku bisa nyesuaiin diri, Ma. Tenang aja,” balas Kanin dengan senyum tipis seraya melirik mamanya lewat cermin. “Mereka pasti nggak semenyeramkan itu mengingat mereka rela dateng ke sini Cuma buat ketemu sama aku.”
Sarah menghela napas panjang. Tujuan awalnya untuk menjodohkan Kanin dengan putra kedua dari Keluarga Dikara ternyata tidak seindah yang dia bayangkan sebelumnya. Sarah sempat luput dan melupakan bahwa selain Kegan adalah laki-laki yang sempurna, pria itu masih memiliki latas belakang keluarga yang mungkin tidak cocok dengan putrinya yang berjiwa bebas.
“Aku minta Galeo ikut. Dia udah prepare?” Kanin memutar tubuhnya untuk menatap sepenuhnya ke arah Sarah.
Sarah mengangguk sekilas usai mengembuskan napas panjang. Dia kemudian menepuk pelan bahu Kanin, bermaksud menenangkan padahal yang lebih tidak tenang sekarang adalah dirinya sendiri.
“Kamu yang sopan di sana. Kalau denger kata-kata yang nggak enak, lupain aja,” nasehat Sarah kemudian.
“Pasti. Aku ke sana Cuma buat menghargai mereka karena udah ngundang aku,” jawab Kanin yang berhasil membuat senyum di wajah Sarah terukir perlahan.
Setelah itu, Sarah beranjak pergi dari kamar Kanin dan meninggalkan anaknya itu sendirian. Selepas perginya Sarah dan hanya ada dia di sana, Kanin kembali menghadapkan tubuhnya ke arah cermin. Pantulan dirinya terlihat begitu cantik dan menawan, tetapi entah kenapa Kanin tidak merasa takjub kali ini.
Wajahnya tampak datar cenderung murung. Biasanya ketika Kanin selesai berias, maka dia akan tersenyum puas karena melihat wajahnya setingkat lebih cantik daripada biasanya. Namun, kali ini, dia tidak tersenyum apalagi puas. Ada beban tidak kasat mata di hatinya hingga Kanin merasa bahwa cantiknya pagi ini tidak lagi terlihat paripurna.
--
Kegan beberapa kali melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Tatapan laki-laki itu tampak gusar karena sampai jam menunjukkan hampir pukul delapan pagi, Kanin belum juga menunjukkan kedatangannya sementara semua anggota keluarganya yang datang sudah duduk di meja makan.
Kegan sudah hendak mengambil ponsel untuk menghubungi Kanin sebelum dia akhirnya melihat wanita yang ditunggunya datang bersama seorang pria muda di sebelahnya. Kontan saja Kegan langsung berjalan mendekat ke arah Kanin yang sekarang baru melangkahkan kaki di pintu masuk rumahnya.
“Why you are so late?” tanya Kegan langsung.
Kanin mengangkat wajahnya dan mendongak menatap Kegan. “Macet.”
Setelah itu, Kanin melenggang pergi menuju meja makan yang saat ini terlihat cukup ramai oleh beberapa orang. Sebenarnya Kanin tidak menyangka bahwa keluarga yang dimaksud oleh Kegan lewat telepon kemarin malam akan seramai ini sehingga dirinya cukup dibuat terkejut. Orang-orang di meja makan itu menatapnya dengan beragam ekspresi dan Kanin berdiri di sana seperti anak hilang.
“Kanin.” Suara wanita yang terdengar khas membuat Kanin menolehkan kepalanya.
Senyum di wajah Kanin perlahan terukir saat dia melihat Anelis Respati berjalan ke arahnya dengan langkah yang sangat anggun. “Tante,” balas Kanin sopan. “Maaf aku agak telat.”
“It’s okay. Acaranya juga belum dimulai,” balas Anelis seraya meraih pinggang Kanin dan menuntunnya menuju salah satu kursi kosong di meja makan. “Ini Kanina, calon istri dari Kegan.”
Orang-orang itu kembali menghadiahi Kanin dengan beragam ekspresi. Ada yang menatapnya dengan senyum ramah, ada yang mengangkat sebelah alis, dan beberapa di antara mereka hanya mengedikkan bahu tidak peduli lalu kembali bercengkerama dengan satu sama lain. Kanin yakin bahwa orang-orang yang menatapnya acuh tak acuh itu adalah sekumpulan orang yang mungkin terpaksa ikut dalam acara pagi ini.
Ada sekitar lima belas orang yang duduk di meja makan panjang dengan bahan porselen mahal itu. mereka masih mengamati Kanin dalam diam sehingga wanita yang pagi itu terlihat cantik dalam balutan dress selutut berwarna gading itu hanya tersenyum kikuk karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
“Sebentar lagi Ayah Mertua datang. Maaf karena membuat kalian menunggu lama,” ujar Anelis yang mengalihkan tatapan semua orang ke arahnya.
“Ndak apa, Mbak. Kami juga pengen ngelihat wajahnya calon menantu lama-lama,” jawab seorang wanita yang umurnya mungkin dua tahun di bawah Anelis.
Kanin tersenyum sopan ke arah wanita bersanggul itu, salah satu orang yang tadi menatapnya ramah. “Terima kasih, Tante.”
“Kamu kerja di mana sekarang? Pendidikannya apa?” Wanita itu kembali bertanya dengan nada ramah.
“Saya desainer pakaian, Tante. Lulusan tata busana,” jawab Kanin berusaha sesopan mungkin.
“Sebut aku aja.”
Kanin sedikit tersentak mendengar suara berat dan dalam Kegan di sebelahnya. Wanita itu segera menoleh ke samping sehingga pandangannya putus dengan wanita bersanggul yang tadi terlihat puas dengan jawaban terakhirnya.
“Galeo mana?” tanya Kanin setengah berbisik.
“Ke belakang. Tadi ketemu Amara,” jawab Kegan sekenanya.
“Berarti sering bikin baju, Nin? Punya butik sendiri atau kerja bareng orang?” Pertanyaan dari salah seorang yang berbeda dengan wanita bersanggul tadi membuyarkan obrolan Kanin dan Kegan.
“Benar, Tante. Aku punya butik sendiri, udah jalan lima tahun,” jawab Kanin dengan senyum sopan di wajahnya.
Tatapan takjub kini dia dapatkan dari dua orang wanita yang tadi mewawancarainya secara tidak langsung. Kanin hanya tersenyum sopan dan beberapa kali mengangguk singkat, terlalu canggung dengan suasana makan pagi di rumah ini.
“Itu Tante Raya, adik bungsunya Papa.” Kegan kembali berbicara dan membuat Kanin kembali menoleh ke arahnya. “Yang sebelah, Tante Min, iparnya Papa.” Laki-laki itu menunjuk wanita yang tidak menggunakan sanggul dengan dagunya secara singkat.
Kanin mengarahkan pandangan kepada dua wanita yang saat ini terlihat sedang sibuk berbicara satu sama lain. Wajah dua wanita itu tampak berbeda sehingga ketika Kanin kembali menoleh ke arah Kegan, sorot yang dia berikan adalah penuh rasa ingin tahu.
“Tante Min bukan orang Indo asli?” tanya Kanin pelan.
Kegan mengangguk singkat. “Keturunan Tinghoa tapi udah lama tinggal di Indonesia.”
“Keluarga kamu memang sukanya yang blasteran, ya,” bisik Kanin dengan suara yang lebih kecil dan jarak yang semakin tipis antara bibirnya dengan telinga Kegan.
“Ya. Kecuali saya yang harus nikah sama pure pribumi kayak kamu.”
“Aku juga ada darah Jerman kalau kamu mau tau.” Senyum penuh kemenangan tersirat di wajah Kanin.
Kegan hanya mengedikkan bahu tidak peduli lalu mengarahkan pandangannya ke depan. Senyumnya terukir dengan begitu sopannya ke arah beberapa orang saudaranya yang kini terlihat menatap penasaran ke arah Kanin. Mereka mungkin sedikit terkejut dengan kepribadian Kanin yang luar biasa lembut, jauh berbeda dari dugaan mereka yang mengira bahwa wanita itu mungkin sudah terbawa arus kehidupan modern kota besar.
“Orangtua kamu ndak ikut ke sini, toh, Mbak?” pertanyaan dari salah seorang pria dengan rambut sedikit uban itu membuat Kanin mengerjap
Diarahkannya pandangannya ke arah laki-laki itu lalu tersenyum sopan seraya mengangguk singkat. “Lagi sibuk, Om. Papa belum balik dari luar negeri. Mama ada urusan di rumah,” jawab Kanin.
“Panggil Pakde saja,” ralat laki-laki berambut uban itu.
“Nggih, Pak De.” Kanin tersenyum sopan hingga kedua matanya terlihat menyipit.
Beberapa saat setelahnya, mendadak saja semua keributan yang terjadi akibat bisik-bisik semua orang di meja makan ketika bercengkerama seketika berhenti. Fokus mereka kini mengarah kepada satu orang yang sedang berjalan dengan tongkat serta dipapah oleh Anelis dan seorang pria gagah di sebelahnya.
Kanin tahu siapa orang itu sehingga senyumnya melebar semakin lebar melihat Brata Dikara berjalan dipapah oleh anak dan menantunya menuju meja makan. Laki-laki dengan umur yang mungkin sudah mencapai kepala delapan itu berjalan lambat dengan napas yang terdengar berdengkih setiap kali pijakan langkahnya.
“Datang semua, ya,” ujar Brata dengan suaranya yang berat dan terdengar serak.
“Pagi, Pak,” balas si laki-laki berambun uban yang tadi menanyai Kanin.
Satu per satu dari orang yang duduk di sana kemudian menyapa Brata dengan nada sopan yang terdengar konsisten. Senyum mereka merekah dengan begitu cerah ketika Brata sudah duduk di kursi paling ujung meja makan.
Sementara itu, Kanin masih menatap laki-laki tua itu dengan pandangan takjub sekaligus tidak percaya. Sulit baginya mempercayai bahwa laki-laki yang rambutnya sudah sepenuhnya putih itu adalah sahabat mendiang neneknya di masa lalu. Ketika menatap Brata, Kanin seolah bisa melihat bagaimana kilatan masa lalu neneknya yang mungkin dulu begitu sering menghabiskan waktu bersama Brata semasa muda.
“Kanina,” panggil Brata
“Iya, Kakek. Selamat pagi,” balas Kanin dengan senyum manisnya.
Berbeda dengan neneknya yang dulu bersikukuh untuk dipanggil eyang, Brata lebih modern untuk menyebut dirinya sebagai sebutan kakek. Mungkin karena sudah begitu lama tinggal di Jakarta bersama keluarga Kegan, laki-laki itu sudah lebih terbiasa dengan arus modern ibu kota.
“Semakin cantik saja kamu,” puji Brata dengan senyum khasnya. “Semakin mirip eyangmu.”
Kegan melirik sekilas ke arah Kanin dan mendapati wanita itu tengah tersipu mendengar pujian kakenya. Laki-laki itu tidak tahu bagaimana rupa nenek dari wanita yang akan dia nikahi secara langsung. Ingatan Kegan tentang wanita berparas ayu yang meninggal sepuluh tahun lalu itu hanya sebatas ingatan masa kecil yang susah dikorek oleh memorinya. Selebihnya, Kegan hanya tahu wajah Raras Priyaningrum lewat foto-foto yang mengabadikan sosok wanita itu.
“Terima kasih, Kakek. Tapi kayaknya lebih cantik Eyang daripada aku,” balas Kanin.
Brata tertawa singkat mendengar ucapan Kanin. “Sifatmu yang ini persis sekali sama Raras. Memang Cuma kamu yang cocok jadi cucu menantu keluarga Dikara.”
Saat itu, Kanin tahu bahwa yang menjadi pemegang permainan ini adalah dirinya. Bahwa yang menguasai dan mendapat restu dari semua orang adalah dia, bukan Kegan.
--
Halaman belakang rumah itu cukup luas hingga berhasil membuat Galeo sedikit kelelahan ketika berjalan-jalan di sana. Di sebelahnya, seorang gadis berperawakan tinggi semampai dengan tubuh sintal sempurna terlihat riang ketika berjalan di dekatnya.
“Kenapa nggak ikut sarapan?” tanya Galeo kepada gadis itu.
Amara Gandari menoleh, lalu mendongak untuk menatapnya. “Kamu tau kenapa. Terlalu membosankan.”
Mendengar jawaban itu, Galeo terkekeh pelan. Gadis di sebelahnya memang belum berubah atau mungkin tidak berubah sama sekali. Amara masih sama seperti dulu, seperti di ingatannya beberapa tahun lalu.
“Gimana, Ra? Udah ketemu yang baru?”
Langkah Amara seketika berhenti lalu diikuti Galeo setelahnya. Dua orang dewasa itu saling berhadapan dengan pandangan mengikat satu sama lain.
Amara Gandari. Gadis di masa lalunya. Gadis yang sampai sekarang belum bisa tergantikan meskipun Galeo sudah melewati begitu banyak fase kehidupan. Amara yang berdiri di depannya ini adalah salah satu bagian indah di dalam hidupnya.
--