“Gimana? Kamu udah ngerasa lebih baik?”
Kanin yang sedang duduk seraya menyesap kopi di ruangan Kegan segera menoleh ke arah laki laki itu. Senyumnya mengembang sempurna ketika ia melihat Kegan sudah berdiri di sebelahnya seraya mengusap halus pundaknya. Sepertinya hal ini menjadi kebiasaan baru bagi Kegan setiap kali mereka bertemu.
“Udah lumayan,” balas Kanin.
“Aku pastiin mereka nggak akan bisa cancel buat acara kamu. Jadi kamu tenang aja, okay?” Kegan mengeratkan rangkulannya di pundak Kanin.
“Makasih banyak, Ke,” ujar Kanin sungguh sungguh
Bahkan di dalam mimpi paling liar yang pernah Kanin miliki, dia sama sekali tidak pernah bisa membayangkan akan mendapat perhatian khusus sebesar ini dari Kegan. Kanin tidak pernah berani membayangkan bahwa perasaan yang sudah ia pendam selama