Semburat jingga yang terlihat indah di bagian barat perlahan mulai memudar, berganti dengan warna hitam pertanda malam mulai datang. Malam itu, secarik senyuman dan tatapan berbinar mulai hilang berganti dengan wajah sendu dan terlihat putus asa. Sapuan angin yang menyambut kulit putihnya membuat bulu kuduknya berdiri. Terdengar suara helaan nafas dari gadis berambut sebahu.
Ia menatap langit malam yang sudah menghapus semburat jingga yang ia lihat tadi. Gadis itu terperanjat ketika dua tangan menyentuh bahunya. Spontan kepalanya menoleh dan mendapati satu orang bidadari tengah menatapnya dengan senyuman hangat dan tatapan meneduhkan.
Bibir perempuan itu berkata, “sayang kamu nggak dingin? Sudah malam loh. Ayo masuk,” katanya penuh kelembutan.
Seulas senyuman langsung terbit, ia menjawab dengan semangat. “Ayo, Bun. Thea udah dingin, nih coba pegang.” Ia lantas memberikan tangannya.
Orang yang ia panggil bunda itu kembali tersenyum manis. Ia lalu menggandeng tangan putrinya. “Bunda tahu, makannya ayo ke dalam. Ayah kamu udah nunggu di meja makan.”
Ia meringis dan menurut ketika sang bunda membawanya ke dalam, meninggalkan deretan pot dengan bunga berwarna-warni yang terlihat indah di pagi hari. Taman kecil yang ada di sana terlihat cantik apalagi pantulan sinar bulan dari kolam renang yang cukup luas. Ayunan yang masih berderit ketika sang pemilik memilih masuk ke rumah menjadi satu-satunya suara pengisi keheningan. Udara malam itu memang agak dingin dari biasanya. Mungkin sudah mulai pergantian musim. Tetapi, kalau diingat-ingat belum waktunya.
“Sayang, kamu lama. Ayah hampir mati kelaparan,” canda laki-laki yang duduk di meja makan sembari memegang perutnya seolah kesakitan.
Di belakang gadis cantik itu, bidadarinya menjawab, “apaan sih ayah, nggak lucu tahu!” Nada tidak suka terdengar agak jelas namun suara lembutnya masih bisa dirasakan.
“Bunda, ayah,” panggil putri mereka yang melongo melihat tingkah aneh orangtuanya. Ia lalu menyambung, “kalau mau romantis-romantisan Thea pamit undur diri.” Gadis itu membalikkan badan sembari tersenyum jahil.
Perempuan yang biasa dipanggil Ayunda itu melotot, “kamu juga kenapa sih? Kok ikut-ikutan nyebelin.”
Gagal. Niat ingin kabur ke kamar seketika runtuh ketika ayahnya mengedipkan mata. “Yah, sandiwaranya gagal lagi deh. Bunda marah mulu,” adunya kepada Seno Adhiwijaya, ayahnya.
Ayahnya memalingkan wajah dan menutupinya, ia berbisik. “Bunda kamu lagi datang bulan kali.” Meski sudah ditutup tapi suaranya masih terdengar oleh perempuan itu.
“Ayah, nggak cocok bisik-bisik. Ayo Arthea Charlotte, sini sayang kita makan dulu. Kasihan ayah kamu,” katanya kemudian.
Thea mengangguk, “iya deh.” Ujarnya sambil menyeret kursi di depan bundanya.
“Kamu lagi ada masalah sayang? Bunda lihat akhir-akhir ini kamu murung terus.”
Meja makan yang hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring mendadak hening. Laki-laki yang duduk di antara dua orang perempuan saling bertatapan itu menatap putrinya lekat. Ia bahkan meletakkan sendok dan garpunya. Wajahnya persis menghadap ke arah putrinya. Ia tidak ingin bertanya apapun, karena ia tahu putrinya akan bercerita dengan sendirinya. Yang perlu ia lakukan hanya mendengarkan.
Thea yang sudah paham ikut meletakkan sendoknya dan meminum air putih. “Thea nggak papa, Bun, cuma agak sedih aja kalian berdua mau pergi.”
Dua orang yang duduk bersebelahan itu menoleh, lalu sama-sama menghembuskan nafas lega. “Ya ampun, kamu ini bikin bunda hampir gak bisa makan. Kirain ada apa,” katanya.
Seno berdehem lalu melanjutkan makannya, “bunda sama ayah nggak bakal lama kok sayang. Lagi pula ada Om Widhi yang jaga kamu.”
Thea meremas sendok yang ia pengang ketika mendengar nama Widhi. Entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal soal laki-laki itu. Wajahnya yang penuh senyuman selalu berubah menyeramkan ketika sudah undur diri ketika dipanggil ayahnya. Pernah satu kali ia melihat Widhi berjalan cepat dengan wajah tanpa senyuman, ia melempar berkas ke lantai yang harusnya dijaga baik-baik.
Sejak saat itu, Thea ragu bahwa Widhi adalah orang kepercayaan ayahnya. Mungkin mereka berdua tidak sadar karena Widhi sudah bertahun-tahun bekerja di perusahaan ayahnya. Pun hubungan antara keluarga mereka juga bisa dibilang erat.
Thea menyingkirkan semua pikiran negatif itu, ia harus menyakinkan dirinya kalau tidak ada apa-apa. Widhi yang ia kenal begitu baik dan perhatian, mana mungkin orang seperti dia bisa berubah menjadi jahat. Mungkin saja waktu itu orang yang biasa ia panggil om sedang lelah jadi maklum.
Berbagai perdebatan di kepalanya membuat Thea tidak mendengar Seno yang berulang kali memanggil namanya. Ia bahkan sudah menopang dagu melihat ke arahnya. Meja makan yang tadinya berisi sajian makanan itu juga sudah bersih tinggal piring miliknya saat ini.
Thea tergagap dan langsung menghentikan makannya. Ia menyingkirkan piring ke samping dan ragu untuk menatap ayahnya. “Bunda kamu benar, ada apa? Kelihatannya putri ayah memang lagi banyak pikiran.”
Arthea yang menjadi anak semata wayang dari keluarga Adhiwijaya memang selalu menjadi sorotan. Baik di rumah atau sekolah semua orang memuja nama belakangnya. Namun, bagi Thea itu bukanlah suatu kebanggaan karena mereka hanya terpaku pada sosok Seno Adhiwijaya, ayahnya yang merupakan pebisnis besar dan juga donatur sekolah.
Banyak dari mereka yang berlomba-lomba untuk menjadi putri seperti dirinya. Namun, kenyataan bahwa dirinya sering dimanfaatkan membuat gadis itu menarik diri. Ia lebih suka sendirian dan bersikap cuek kecuali dengan putri dari orang kepercayaan ayahnya.
Saat ini pun di rumah besar keluarganya, ia dihadapkan dengan pebisnis hebat yang bahkan dirinya kagumi. Ruangan luas yang berisi meja dan kursi yang berada di tempat semula memiliki harga yang tidak murah. Bisa dibilang lebih mahal dari harga sepetak tanah berukuran dua kali dua meter di perkotaaan besar.
Thea menunduk, “ayah sama bunda harus pergi beneran ya? Nggak bisa lain kali aja? Lagi pula ada Om Widhi kan yang gantiin.” Setelah mengucapkan keinginannya itu barulah ia bisa mengangkat wajahnya.
Seno terkejut ketika melihat putri satu-satunya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Ada apa?” Tanyanya lembut. Ia beralih ke samping Thea dan memeluknya.
Gadis itu terisak dipelukan ayahnya. Rasanya begitu berat melepas mereka berdua pergi. Ia sendiri pun bingung mengapa perasaannya begitu gelisah akhir-akhir ini. Sepanjang ayah dan bundanya pergi ia juga baik-baik saja dan tidak mengkhawatirkan apapun, baru kali ini ia merasa ada sesuatu yang tidak benar.
“Jangan menangis sayang, kamu ini kayak anak SD yang mau ditinggal kerja.” Ujar Seno yang berniat menghibur anaknya. “Baru kali ini ayah lihat kamu nangis,” sambungnya kemudian yang membuat Thea tertawa kecil. Gadis itu meninju lengan ayahnya dan malu karena ketahuan menangis.
“Ayah nggak seru tahu, kan Thea lagi bersedih nih.” Tunjuknya ke arah pipi yang berurai air mata.
Seno tertawa diikuti Thea. Mereka berdua lalu berpelukan sembari berjalan ke arah sofa yang ada di depan televisi. “Ayah sama bunda berangkat kapan?”
“Tiga hari lagi sayang,” jawab Ayunda yang kembali dengan membawa beberapa camilan.
“Yah … bentar lagi dong. Nggak enak banget ditinggal sendirian,” keluh Thea dengan memanyunkan bibirnya.
Ayunda bergabung dengan dua orang yang sudah asyik berseder di sofa empuk. Televisi yang menayangkan beberapa hiburan terlihat tidak menarik baginya. Ia lebih suka tenggelam dengan camilan yang ia bawa. Perempuan itu mengupas beberapa buah anggur, tanpa disadari dua orang di sampingnya sudah menatap tak sabar. “Enak banget sih, Bun, Thea kan juga mau.” Ia lalu mengambil buah yang baru saja selesai Ayunda kupas.
“Sayang,” perempuan itu menatapnya tidak jengkel. “Sebentar dulu dong, nanti kalau tangan kamu kena pisau gimana?”
Baru saja ia diam, suaminya justru ikut jahil dengan langsung menyambar anggur yang baru saja ia kupas. “Kamu juga ikut-ikutan. Tahu ah bunda mending nonton tv.”
“Bunda marah tuh.”
“Biarin.”
Ayunda melirik kesal ke arah dua orang itu. “Kalian tuh ya sama aja,” semburnya kemudian.
Satu kedipan membuat Thea paham dan beralih tempat ke samping bundanya. Ia mengambil buah anggur dan berpura-pura mengupasnya. “Bunda jahat banget, anaknya mau buah anggur kok nggak dikupasin.”
“Lagian kamu sih udah besar masih aja ceroboh.”
Thea menoleh, tangan kirinya membawa buah anggur dan tangan kanannya membawa pisau. Gadis itu tersenyum manis, “Bunda, Thea cuma mau makan anggur bukan ceroboh.” Setelah mengatakan itu ia kembali melanjutkan aktivitasnya. Sementara Ayunda dibuat terpaku, Seno justru cekikikan.
“Kalian ngerjain bunda?” Tanya Ayunda yang semakin kesal.
Ayah dan anak itu saling bertatapan. Kedipan ketiga dari isyarat mata Seno membuat mereka berdua sama-sama mendekat ke arah Ayunda dan mencium pipi wanita itu.
“Kejutan!” Teriak keduanya.
“Bunda yang paling cantik hari ini kan anniversary pernikahan kalian. Masa lupa sih,” ujar Thea yang langsung membungkam mulutnya. Ia menepuk bibirnya karena keceplosan. Di sampingnya Seno sudah memolototinya.
“Duh, gagal deh.”
•••••
Hallo para pembaca kuuu
I am come back huhu setelah sekian lama wkwk
Jangan lupa tap love yaa and kalian follow aku sekalian dong.