Dor!!
Suara senapan itu menggema diseluruh sudut ruangan bersamaan dengan Arzan yang baru saja tiba di depan pintu. Ia terlambat, peluru itu sudah menembus tubuh Dina, saat menyadari jika ada orang lain disana pria yang tidak diketahui identitasnya itu segera berlari dari pintu belakang dengan sekuat tenaga.
Arzan hendak mengejar tetapi ia berhenti saat melihat kondisi sang istri, dan akhirnya ia memilih menolong Dina kali ini.
"Tidak apa, semua baik-baik saja. Bertahanlah, aku mohon ...." Arzan memeluk erat tubuh wanita yang hampir tak sadarkan diri itu, setelah itu ia segera bangkit dan membawa Dina ke rumah sakit.
Saat dirinya tiba di mobil polisi itu baru saja datang, mereka terlambat dan semua sudah terlanjur terjadi tetapi Arzan tidak akan melepaskan begitu saja si pelaku. Stella yang baru saja tiba itu berlari menghampiri Dina yang berada di dalam gendongan suaminya.
"Apa yang terjadi? perlakuan macam apa ini?" gumamnya tak percaya melihat kondisi Dina dari ujung kaki hingga kepala yang dipenuhi luka. Tanpa berlama-lama Arzan segera pergi menuju rumah sakit dan membiarkan polisi menyelidiki tempat kejadian untuk mengumpulkan bukti.
Di rumah sakit.
"Panggilkan dokter!" teriak Arzan sembari membopong tubuh Dina turun dari mobil.
Stella juga ikut berlari memanggil perawat, suasana rumah sakit yang begitu ramai kini hampir semua orang yang berada disana memusatkan perhatian ke arah seorang wanita dengan tubuh mengenaskan.
Perawat datang dengan brankar dorong, Arzan segera membaringkan Dina menuju ruang darurat. Tangannya terus menggenggam erat sang jari jemari sang istri yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Dina sudah memasuki ruang UGD dan ditangani oleh dokter. Lampu menyala merah, pertanda sedang berlangsung operasi. Arzan terengah-engah berusaha menormalkan nafasnya kembali, bajunya yang semula bersih kini sudah berlumuran darah, begitu juga dengan telapak tangannya.
Kakinya melemas dan duduk di kursi tunggu, perasaannya sudah tak karuan tidak ada yang mengira jika akan terjadi seperti ini. Stella tak bergeming, ia menangis menatap pintu UGD dan bergumam lirih menyalahkan dirinya.
"Harusnya ini tak terjadi, harusnya aku bersamanya. Apakah kurang Kau menguji wanita malang itu?" Pertanyaan demi pertanyaan Stella ungkap begitu saja, melihat kondisi wanita yang tumbuh ditengah kejamnya dunia, menahan kerasnya hidup kini kembali dihadapkan dengan maut.
Arzan menunduk dalam, perlahan ia mengusap wajahnya gusar dan cemas. Matanya mengatup menahan tangis, kejadian ini masih belum sepenuhnya ia pahami dan lagi-lagi nyawa menjadi taruhannya.
"Apa dia sanggup berjuang?" tiba-tiba Stella bergeming bertanya dalam lamunannya.
Arzan menoleh menatap mata sedih wanita berumur itu yang sedang menangis. Ia berdiri dan duduk di sebelah Stella.
"Semua akan baik-baik saja, aku percayakan itu padanya. Ia bukan wanita lemah, ia tak akan mengeluh, ia akan berjuang melawan penderitaannya kali ini." lirih Arzan menenangkan Stella.
Stella menoleh dan terisak dalam tangisnya, "Bolehkan aku menggantikannya? izinkan dia untuk bahagia ... ku mohon-"
Arzan mendekap tubuh asistennya itu dalam kehangatan, matanya tak kuasa menahan tangis setelah mendengar ucapan Stella. Ia tahu betul seperti apa penderitaan yang wanita itu rasakan. Berjuang, bertahan, dan menerima, hanya itu yang bisa diperbuat oleh mereka.
"Tidak apa, tenanglah ...." lirih Arzan sembari mengelus bahu Stella agar ia merasa tenang.
Hampir setengah jam berlalu, saat semua hening dan larut dalam pikiran masing-masing tiba-tiba pintu UGD terbuka dan seorang perawat berlari tergesa-gesa tanpa menoleh sedikitpun.
Mereka berdua, Arzan dan Stella yang semula tenang kinipun terkejut penasaran akan apa yang telah terjadi. Mereka tidak sempat bertanya karena perawat itu berlari begitu saja.
Dan tak selang beberapa detik perawat itu kembali bersama dua orang dokter yang siap menangani operasi dan masuk ke dalam tanpa penjelasan sedikitpun.
Arzan hanya diam, mulutnya kelu untuk berbicara. Stella yang semula masih duduk itu kini tiba-tiba berdiri dan bertanya lagi, "Apa yang terjadi? kenapa harus banyak dokter yang memeriksanya? why?"
Arzan masih terdiam dan duduk begitu saja, pria ini juga tidak mampu menjawab pertanyaan yang asistennya utarakan. Mereka berdua memilih diam sekaligus tak berdaya karena situasi.
Di hotel, kamar 15A.
"Aku mau keluar! pergi kau!" Dhafin sejak tadi memberontak kepada pelayanannya karena tidak mengizinkannya untuk bertemu sang ibu.
"Tunggu dulu Tuan muda, Tuan besar tidak akan mengizinkan kali ini. Tunggu dulu sini, ya?"
"Hiks ... aku mau bertemu Mama, aku mohon kali ini saja, ya?" Anak itu memohon sepenuh hati, akan tetapi pelayannya disana juga tidak bisa melanggar perintah majikannya untuk tetap berada disana dan menjaga Dhafin.
"Tunggulah sebentar lagi, hem?" Lagi-lagi mereka hanya bisa membujuk anak itu. Pelayan itu juga menangis menahan takut saat melihat semua teman-temannya sudah tewas.
Di ruang UGD.
Empat orang dokter yang menangani Dina itu memasang raut wajah menegang dan fokus untuk menyelamatkan pasiennya.
Semua perawat juga siap siaga menerima perintah tanpa ada kata terlambat. Dari yang memompa darah, menyiapkan peralatan, dan mengontrol bagian lainnya.
Dua peluru yang menancap dibagian perut dan kaki Dina sudah berhasil dikeluarkan, perawatan maksimal juga diberikan tetapi kondisinya tetap kritis.
Seorang dokter berucap, "Dia sepertinya tidak memiliki semangat hidup."
Semua orang mengangguk, memang benar walaupun semua penanganan diberikan jika pasien tidak bertekad bertahan maka semuanya akan sia-sia.
Seorang dokter wanita yang sejak tadi diam mendengarkan kini berjalan mendekati Dina dan menggenggam tangannya hangat.
"Apa kau mendengar ku? apakah sakit? kami tahu kau mungkin berputus asa. Tapi cobalah sekali saja ingat keluarga mu, mimpimu, dan beberapa hal yang masih harus kau penuhi. Jika kau menyerah bukankah kau tidak bertanggungjawab?" Dokter wanita itu berbicara kepada Dina, semua orang terdiam menyimak. Mereka berpikir jika pasiennya akan mendengarkan tetapi Dina adalah Dina yang begitu keras kepala.
Semua orang disana tak bisa berkutik sedikitpun, mereka sudah memberikan terbaik tetapi pasien tak mendukung usaha mereka.
Dokter wanita itu tersenyum samar, menatap layar kontrol detak jantung ia menyimpulkan sesuatu dan berkata lirih, "Dia tidak ingin mati, tetapi tidak memiliki alasan untuk bangun."
Semua dokter keluar dari UGD, lampu sudah berubah menjadi hijau. Dua orang yang duduk menunggu kabar kini bangkit berdiri dengan raut wajah bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Arzan dengan spontan.
"Kaki kanannya sudah rusak parah, dan kami terpaksa melakukan amputasi," lirih dokter itu berbicara.
Stella membekap mulutnya tak percaya, seorang wanita yang kemarin bertekad sembuh kini tak ada harapan lagi untuk bisa berjalan normal.
Dokter berhenti sejenak dan melanjutkan pembicaraannya, "Dia mengalami koma, untuk ukur waktu kita tidak bisa menentukan. Semua kembali pada pasien."
"Kami akan memindahkannya, dan terus memantau perkembangan setiap waktunya." Setelah mengatakannya empat orang dokter dan perawat itu berjalan meninggalkan UGD.
Stella melemas dan seketika duduk di lantai tak berdaya, ia tidak kuasa menahan fakta yang baru saja di dengar.
"Tidak apa, semua akan membaik." Lagi dan lagi hanya itu yang mampu Arzan katakan, dirinya juga terpukul tetapi ini bukan saatnya untuk melampiaskan kesedihannya. Ada banyak orang yang membutuhkan kekuatannya untuk saat ini.
Inilah hidup, penuh dengan kejutan. Seseorang yang berangan dan beranggapan bisa melanjutkan hidup esok hari bisa saja ia akan mati detik itu juga. Hidup ini singkat tetapi juga menyakitkan, begitu sakit tetapi selalu mengandung makna.