Tanpa terasa 6 bulan telah berlalu, setengah tahun seorang Dina belum kunjung bangun dari tidur panjangnya. Setengah tahun bukanlah waktu yang dibilang singkat dan sebentar, selama itu juga banyak yang sudah berlalu tetapi pelaku kejahatan masih belum bisa ditemukan karena tak ada saksi dan bukti selain Dina sendiri selaku korban.
Dhafin yang tumbuh dengan harapan suatu hari ibunya akan terbangun hanya bisa berharap dan masih terus berharap. Perusahaan yang dipegang Arzan kini tumbuh semakin sukses melejit di dunia bisnis dan mengalahkan banyak perusahaan lainnya. Karena karirnya yang terus naik daun setiap harinya kini membuat musuhnya semakin gencar untuk segera merebut apa yang mereka inginkan.
Dua bulan lalu Soraya dan Dea dinyatakan terdakwa akan tetapi mereka berhasil lolos karena tidak ada bukti yang memberatkan, memang benar jika ini bukan ulah mereka tetapi tidak menutup kemungkinan jika seorang Arzan terus menaruh curiga kepada orang disekitarnya, terlebih mereka yang mengaku keluarga bahkan rekan kerja bisa saja menjadi orang yang berpeluang untuk berkhianat.
Arzan berjalan sedikit melamun di sepanjang koridor rumah sakit, hari ini polisi sudah mulai memberikan penjelasan jika kasus bisa saja ditutup sewaktu-waktu karena tidak ada hasil dari proses penyelidikan sejauh ini. Arzan semula terus bersih keras agar kasus ini terpecahkan tetapi polisi juga tidak bisa berbuat lebih karena lokasi kejadian juga bersih dari bukti.
Tiga jam lalu.
"Kami sudah berusaha sebaik mungkin Pak Arzan, tetapi kasus ini benar-benar bersih dari bukti dan jejak si pelaku. Kamera cctv lingkungan juga sudah menghilang, senjata si pelaku juga tidak ditemukan, dan pelaku juga cerdik tidak meninggalkan sidik jari sama sekali." Saat ini anggota kepala kepolisian yang menangani kasus Dina sudah hampir menyerah.
Arzan menghela nafas dan mengusap wajahnya kasar, dirinya juga tidak berhasil menemukan bukti kuat selama 6 bulan ini. Harapan mereka semua hanya ada pada Dina sendiri yang tak kunjung bangun.
"Tidak bisakah kita berbuat lebih lagi?" tanya Arzan melemah.
Kepala polisi itu menggeleng pelan dan berkata sembari mengeluarkan surat izin penutupan kasus. "Kami berikan waktu satu minggu, jika keadaan masih sama kami terpaksa mundur dari kasus ini Pak, mohon pengertiannya." Mereka begitu menghormati Arzan sebagai seorang pebisnis yang berpengaruh bagi banyak orang.
"Kami mohon undur diri," pamit petugas kepolisian itu meninggalkan kediaman Arzan.
Pria berbaju formal itu masih berjalan dengan lamunannya, kakinya berhenti di depan pintu rawat sang istri dan menatap dari balik kaca pintu. Berbulan-bulan yang berlalu dan tidak ada jawaban atas usahanya, jujur saja Arzan merasa kecewa kepada dirinya sendiri melebihi kecewa pada ke-egoisan Dina yang tak mau memihaknya dala permasalahan ini.
"Pa ...." saat semuanya hening tiba-tiba seorang anak memanggil Arzan dari belakang. Arzan yang merasa dipanggil pun ikut menoleh, menatap seorang anak yang tidak ia kenal dan menyebutkan sebagai ayah.
Matanya menatap sekeliling dan tidak ada orang lain selain dirinya disana. "Kau memanggilku?" tanyanya penasaran kepada bocah balita itu.
Anak itu tidak menjawab dan hanya diam menatap Arzan, sedetik kemudian dia bertanya dengan polosnya. "Apakah kau bukan ayahku?"
Arzan terkekeh lucu, ia yang seharusnya bertanya tetapi anak itu justru bertanya kepadanya. Karena merasa gemas Arzan tersenyum dan mengelus kepala anak itu pelan, "Aku bukan ayahmu, kau sedang mencari ayahmu?"
"Bian! ...." Seorang ibu berlari menghampiri bocah itu dan segera menggendongnya, dari belakang terlihat pria yang ikut menghampiri anak dan istrinya itu.
"Maafkan anak kami yang merepotkan bapak," ujar si wanita meminta maaf kepada Arzan, mendengarnya Arzan merasa canggung dan menolak. "Tidak sama sekali, mungkin dia tersesat tadi," jawabnya tersenyum kecil.
Sepasang suami istri itu memberi salam dan pamit untuk pergi, Arzan menatapnya dari kejauhan dan termenung. Hatinya merasa terkoyak melihat keharmonisan keluarga itu, dimana saat ini ia juga menginginkannya tetapi seolah takdir tak memberinya kesempatan.
Dua jam setelahnya. Di dalam kamar rawat.
"Kau tidak lapar?" gumam Arzan seolah sedang berbincang-bincang dengan seseorang, padahal di sana hanya ada dia sendiri dan istrinya yang belum sadarkan diri.
Tangannya bergerak meraih tangan Dina dan mendekapnya hangat kemudian menciumnya sesekali. Sejak hari itu Arzan mulai menyadari cintanya kepada Dina tetapi sayangnya ia terlambat untuk mengutarakan rasanya.
"Aku merindukanmu, anak kita merindukanmu. Tidakkah kau bosan terus berada di alam mimpi?" lanjutnya dengan mata berkaca-kaca dan mengelus kepala istrinya.
"Bolehkah aku bertanya? jawablah ... pernikahan macam apa ini? hem? ... aku mencintaimu tanpa sengaja anggap saja hatiku ini tidak adil saat menyadarinya aku sudah terlambat, tapi percayalah aku sungguh menyadarinya dan benar-benar menyadarinya. Bangunlah sayangku, hem? kita awali semuanya seperti sebelumnya ...." Mata Arzan mulai menangis, setiap harinya selama kurang lebih 6 bulan ia terus mengutarakan isi hatinya agar istrinya itu bangun. Kepalanya menunduk dan menggenggam tangan istrinya sembari terisak.
Setiap harinya ia terus menunggu dan menunggu, duduk di samping istrinya yang berbaring di atas ranjang, bercerita, dan mengutarakan cintanya. Namun dirinya juga tidak tahu pasti apakah wanita yang amat ia cintai itu akan memberinya kesempatan atau justru ia akan menyesal seumur hidupnya.
Saat Arzan menunduk dan terisak ia tidak menyadari jika Dina tengah menangis saat ini. Ya, matanya meneteskan air mata dengan wajah pucat pasi seperti tidak ada harapan lagi. Sedetik kemudian suara Eelektrokardiogram membuat Arzan mendongak tiba-tiba. Detak jantung Dina yang semula berjalan normal kini tiba-tiba turun drastis dan terus menurun, nafasnya juga terengah-engah sembari mencengkram kuat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
Arzan membelakakan mata dan menekan tombol darurat sekuat tenaga. "Dina! apa yang terjadi, dengarkan aku ... k- kau tidak boleh egois, aku mohon kali ini saja terakhir kali aku meminta."
Tutt .. tuutt alarm darurat itu terus Arzan bunyikan dan dua orang dokter dan perawat berlari memasuki ruangan segera memerika kondisi Dina. Beberapa pengawal yang di luar ruangan juga ikut merasa khawatir, kecuali satu orang yang berdiri di ujung sana. Pakaiannya juga seperti seorang pengawal, kala alarm darurat menyala ia justru menatap tajam pintu itu dan segera meninggalkan rumah sakit. Ia sangat mencurigakan.
"Ada apa!?" tanya Stella penasaran yang baru saja tiba.
"Ibu tiba-tiba dalam keadaan kritis," jawab salah seorang pengawal, mendengar hal itu Stella menoleh ke arah Arzan yang duduk melemas di kursi tunggu.
"Apa lagi ini, aku mohon bertahanlah ...." lirih Stella begitu gusar.
Tuuttt ... sebuah pengeras suara darurat tiba-tiba berbunyi dan membuat semua orang menatap ke sumber suara.
"Code blue code blue ...." suara itu mulai terdengar, pernyataan code blue telah dinyatakan dimana itu mengartikan jika pasien mengalami henti jantung atau gagal nafas dan perlu mendapatkan pertolongan.
"Code blue code blue, permintaan ruangan PICU ...." setelah suara itu kembali terdengar banyak petugas yang berlarian menuju ruang PICU untuk melakukan persiapan.
Sedetik kemudian pintu ruangan dimana Dina dirawat itu terbuka, semua orang menoleh seperti kehilangan akal karena khawatir.
"Apa yang terjadi?" sergah Arzan bertanya saat Dina hendak dipindahkan ke ruang PICU. Perawat dan dokter itu bergegas melakukan pertolongan dan tidak sempat menjelaskan kepada Arzan.
"Ya Tuhan ...." lirih Stella melemas, kakinya tak kuasa berdiri dan terjatuh begitu saja.
Arzan masih diam, pandangannya kosong dan setelahnya ia membanting pot bunga di sampingnya karena kesal. Sekaranya ia bahkan juga menangis melihat kondisi istrinya yang berjuang diambang kematian. "Tenanglah Pak, mari kita berdoa ...." semua orang menyabarkan dirinya masing-masing dan menunggu kabar dari dokter.
Di depan ruang PICU.
Tidak ada yang bisa bernafas normal untuk saat ini, semua orang berkumpul disana. Ada yang duduk di lantai, ada yang bersandar di tiang, ada yang melamun di kursi tunggu. Dua jam berlalu dan belum ada pertanda jika penanganan telah usai. Raut wajah mereka semua muram, kalut dalam diri masing-masing.
"Aku berharap ini sekedar mimpi ...." lirih Stella yang merasa lemah dan bersandar di bahu pegawainya. Matanya melirik majikan laki-lakinya yang hanya diam membisu di samping pot bunga, tampilannya begitu berantakan dan membuat semua orang tak sanggup melihatnya.
Ting .... semua orang mendongak, Arzan segera bangkit dan menghampiri dokter yang baru saja berdiri di depan pintu PICU. Ia bergerak melepas penutuk kepala dan sarung tangannya, wajahnya juga ikut muram membuat semua orang bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam sana.
Arzan merasa kesal karena dua orang dokter itu masih diam berdiri disana. "Kenapa kalian hanya diam? katakan!" tegas Arzan dengan mata tajam.
"Kami sudah berusaha semampunya, tetapi yang terjadi di luar dugaan. Apa kalian memberikan obat sendiri kepada pasien?" dokter itu tidak menjawab justru berbalik bertanya.
"Apa maksudmu?" Arzan tak mengerti.
"Pasien mengalami kelebihan dosis takar obat hingga membuat organnya yang lemah tidak mampu menerima lagi, dan kami tidak bisa menyelamatkannya."
Degh! Diam dan begitu hening. Mereka masih berusaha mencerna apa yang dokter itu katakan. Sedetik kemudian Stella yang di belakang sana semula diam mendengarkan tiba-tiba jatuh pingsan tak sadarkan diri. Beberapa pengawal menolongnya dan sebagian masih berusaha menenangkan Arzan.
"Jaga ucapanmu dalam berbicara! katakan dengan benar!" Arzan menarik kerah baju si dokter itu dengan sekuat tenaga hingga membuatnya ketakukan menatap sorot mata Arzan.
"Tenanglah pak," lerai pengawal dengan sopan.
"Lepaskan!" teriak Arzan menepis tangan pengawalnya dan hendak meninju wajah si dokter.
"Aku membenci mulutnya!" Arzan melayangkan tangannya bersiap memberi pukulan sekuat tenaga. Dokter itu menahan takut dan memejamkan matanya, tetapi ternyata tangan Arzan terhenti tiba-tiba.
"Ayah ...."
Arzan melemas, amarahnya surut perlahan-lahan mendengar panggilan itu. Dokter itu segera pergi saat Arzan melepaskannya. Ia menoleh, menatap seorang anak yang tersenyum dengan menahan air mata.
"Ayah, tidak apa?" tanya Dhafin sekali lagi dan berdiri di depan ayahnya. Semua orang menunduk tak kuasa lagi menahan tangisnya. Pelayan yang tiba bersama Dhafin juga sudah menangis melihat bocah itu tersenyum menguatkan ayahnya.
Tangan kecilnya mengusap air mata ayahnya yang duduk di hadapannya, bibir mungilnya itu tersenyum walau matanya terus menangis. "Jangan menangis, ibu membenci kita semua menangis." Dhafin mengingatkan semua orang akan ucapan Dina, semua orang berusaha menahan tangisnya seketika.
Arzan segera meraih tubuh anaknya ke dalam pelukannya begitu erat dan menumpahkan air matanya atas segala deritanya. Enam bulan mereka bertahan dan ini kali terakhir penderitaan mereka terlah usai, perpisahan sesungguhnya adalah kematian.
"Hiks ... jangan menangis, tersenyumlah ...." lirih Arzan saat menyadari jika Dhafin ikut menangis saat berada di dalam dekapannya.