Di sebuah ruangan minim cahaya nampak begitu hening dan tenang, disana terdapat puluhan layar komputer yang memantau gerak gerik seseorang yang ternyata adalah Dhafin sendiri. Seorang pria duduk termenung di sebuah kursi pijat sembari menatap foto mendiang istri Arzan, yaitu Dina. Bibirnya tersenyum dan meraih foto tersebut sembari berucap, "Bagaimana kabarmu disana, Kak?"
Ternyata pria itu adalah adik sekaligus orang yang terlibat dibalik misteri 20 tahun lalu yang belum terpecahkan.
"Haruskah aku mengirim putramu agar kau tidak kesepian?" tanyanya lagi dengan tatapan menyeramkan dan seulas senyumnya yang begitu menjijikkan seperti orang gila.
"Air hangatya sudah siap, Pak." Pelayan laki-laki muncul dari belakang.
Pria itu berdiri, wajahnya menoleh dengan senyuman yang terus ia pasang