Dua hari kemudian.
Praaang!
Semua orang terdiam saat sebuah guci antik Arjun hancurkan karena kekesalannya.
"Masih mau membelanya?" lirihnya bertanya kepada Ara yang memegang sebuah undangan pernikahan Dhafin dengan wanita bernama Rosella.
Arjun naik pitam sejak tadi, pasalnya Ara terus melarangnya untuk maju, ia selalu berkata untuk menyudahi permasalahan ini dan membela Dhafin.
Sekarang, saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bibirnya kelu tak mampu berkata sedikitpun.
"Dia yang kau suka!? pria seperti dia?" imbuh Arjun ikut tersulut melihat undangan pernikahan tersebut.
"I-ini tidak mungkin," lirih Ara perlahan air matanya menetes.
Malam harinya.
Ara duduk di tepi ranjang tidurnya dengan tatapan kosong, sejak hari itu dia belum pernah melangkahkan kakinya keluar dari ked