Tobias menunggu sampai pintu tertutup lalu menyandarkan punggung ke kursi.
"Jadi, kamu datang untuk membayar lima puluh tiga juta?"
Senyum Alea langsung hilang. "Aku datang untuk negosiasi. Tiga puluh juta sekarang, sisanya bulan depan."
"Tidak bisa."
"Kamu bahkan belum mikir!"
"Aku sudah memikirkannya sejak meneleponmu."
Alea menggertakkan gigi. Ia ingin melempar tas ke wajah Tobias, tetapi sedang berusaha menjadi manusia sopan demi menyelamatkan tabungannya.
Tobias mengeluarkan sebuah dokumen. Ia menawarkan pilihan lain: Alea menjadi pembawa acara dan wajah kampanye aplikasi kuliner milik perusahaannya selama tiga bulan. Honor pekerjaannya dipotong untuk melunasi utang.
"Jadi aku kerja gratis?"
"Kamu bekerja untuk membayar sesuatu yang kamu rusak. Itu bukan gratis."
"Mercy Om Matias juga rusak. Aku butuh uang memperbaikinya."
Tobias tahu mobil tersebut sebenarnya akan dibayar Rendra jika penyelidikan berhasil. Namun ia tidak boleh membocorkan kesepakatan mereka.
"Aku bisa memberi uang muka sepuluh juta setelah kontrak ditandatangani," katanya.
Alea membaca dokumen dengan curiga. Kampanye itu mengharuskannya mencicipi makanan di berbagai kota, membuat vlog, dan menghadiri acara perusahaan. Pekerjaan tersebut cocok dengannya, tetapi bekerja di bawah Tobias terdengar seperti hukuman.
"Aku mau honor lebih besar."
"Kamu sedang berutang."
"Followerku juga aset. Kalau aku mempromosikan aplikasi jelekmu, perusahaanmu bisa terkenal."
Tobias menaikkan nilai kontrak sedikit. Alea masih menawar sampai mereka berdebat hampir setengah jam.
Rendra yang menguping dari luar menahan tawa. Tobias tidak pernah berunding selama itu dengan siapa pun.
Akhirnya Alea menandatangani setelah memastikan tidak ada aturan aneh. Tobias menyimpan dokumen dengan senyum puas.
"Besok pemotretan pertama. Jangan terlambat."
"Kamu yang jangan menyebalkan."
Sebelum pergi, Alea melihat kotak makanan di meja Tobias belum disentuh.
"Kamu belum makan?"
"Bukan urusanmu."
Alea mengambil kotak itu, membuka, lalu menyodorkan sendok. "CEO sok keren juga bisa mati kalau nggak makan."
Tobias menatapnya heran. Ia akhirnya mengambil sendok tersebut, tetapi Alea sudah berbalik pergi.
Di luar, Rendra berpura-pura baru datang. Alea memberi tahu kontraknya dengan wajah kesal. Rendra mengucapkan selamat sambil menyembunyikan kecemburuan karena Alea akan menghabiskan banyak waktu bersama Tobias.
Tobias melihat mereka dari balik kaca. Perasaan tidak nyaman muncul ketika Alea tersenyum manis kepada Rendra—senyum yang tidak pernah diberikan kepadanya tanpa maksud meminta uang.
Alea datang lima belas menit lebih awal ke studio. Tobias sudah berada di sana dan langsung melihat jam tangannya.
"Tumben tidak terlambat."
"Aku profesional. Jangan samakan aku dengan dirimu yang suka mengubah perjanjian."
Tim penata rias terpesona pada kulit dan rambut putih alami Alea. Mereka ingin mengubah penampilannya secara berlebihan, tetapi Alea menolak.
"Followerku suka aku karena aku jadi diri sendiri. Kalau mau boneka, beli manekin."
Sutradara iklan setuju. Tobias juga mendukung karena kampanye membutuhkan keaslian Alea.
Konsep pemotretan mengharuskan Tobias tampil sebagai CEO yang menggunakan aplikasi untuk mengajak Alea makan malam. Keduanya harus duduk berdekatan dan saling menatap.
"Kenapa dia ikut masuk iklan?" tanya Alea.
"Karena investor meminta wajah pemimpin perusahaan," jawab sutradara.
Pengambilan gambar pertama gagal karena Alea tertawa setiap melihat ekspresi kaku Tobias.
"Mukamu seperti orang mau menagih utang, bukan mengajak makan."
"Aku memang sedang menagih utang."
Setelah beberapa percobaan, sutradara meminta Tobias memegang tangan Alea. Keduanya sama-sama terdiam.
"Ini cuma akting," kata Alea.
"Aku tahu."
Saat tangan mereka bersentuhan, Tobias mendadak lupa dialog. Seluruh kru tertawa, sedangkan Alea mengejek telinganya yang memerah.
Rendra datang membawa laporan dan melihat adegan tersebut. Ia merasa dadanya sesak, meski menyadari Alea tidak mengetahui dirinya adalah Tara yang diam-diam selalu mendukungnya.
Ketika istirahat, Alea mengajak Rendra mencicipi makanan properti. Tobias bergabung tanpa diundang dan duduk tepat di antara mereka.
"Kursi lain masih banyak," gerutu Rendra.
"Aku pemilik studio. Aku bebas duduk di mana saja."
Alea tidak menyadari persaingan keduanya. Ia sibuk memotret makanan dan menjelaskan sudut terbaik untuk konten.
Pemotretan selesai menjelang malam. Sutradara memuji chemistry Alea dan Tobias. Tobias terlihat puas, sedangkan Alea meminta tambahan honor karena harus menanggung muka Tobias seharian.
Di parkiran, sebuah mobil hitam mengikuti Alea ketika ia pulang. Tobias yang berada di kendaraan belakang menyadarinya dan meminta sopir mengejar.
Mobil tersebut berbelok tajam lalu menghilang. Tobias langsung menelepon Rendra.
"Cari tahu siapa yang mengikuti Alea. Bisa jadi orang Sophia mengira dia dekat denganku."
Untuk pertama kalinya, pekerjaan yang dimaksudkan sebagai akal busuk Tobias mulai membawa Alea masuk ke bahaya nyata.
Tobias mengirim pengawal ke rumah Alea tanpa memberi tahu. Alea menemukan dua pria berbadan besar berdiri dekat pagar dan langsung mengambil sapu.
"Kalian mau maling?"
Kedua pria itu panik menjelaskan bahwa mereka dikirim Tobias.
Alea meneleponnya dengan marah. "Tarik dua lemari berjalan ini dari rumahku!"
"Kemarin ada mobil mengikuti kamu."
"Kenapa baru bilang?"
"Aku tidak mau membuatmu panik."
"Mengirim dua orang asing ke pagar rumah jelas cara terbaik agar aku tenang!"
Matias keluar dan meminta penjelasan. Setelah mengetahui kemungkinan ancaman, ia setuju pengamanan diperlukan, tetapi harus dilakukan dengan persetujuan Alea.
Tobias datang sendiri untuk membicarakannya. Matias menatapnya penuh curiga, terutama setelah mengetahui utang serta kontrak kerja.
"Kamu memanfaatkan kesulitan keponakanku?"
"Saya memberinya pekerjaan."
"Dengan potongan pembayaran yang kamu tentukan sendiri."
Alea terkejut karena Matias membelanya. Ia meminta kedua pria itu berhenti berdebat seperti dirinya tidak ada.
Mereka menyepakati satu pengawal perempuan bernama Siska yang akan menyamar sebagai asisten konten. Alea juga memperoleh hak menghentikan kegiatan jika ancaman meningkat.
Rendra menemukan mobil pengikut terdaftar atas perusahaan cangkang yang pernah dipakai Sophia. Tobias menduga Sophia ingin memakai Alea sebagai umpan.
"Batalkan kampanyenya," kata Rendra.
"Kalau dibatalkan mendadak, mereka tahu kita ketakutan. Aku akan memperketat keamanan."
"Atau kamu tidak mau jauh dari Alea."
Tobias melotot. "Jangan mengarang."
Rendra tersenyum mengejek. Persaingan mereka semakin jelas, meski tidak satu pun mau mengakui.
Sore hari Alea membuat siaran langsung bersama Siska. Sebuah akun anonim terus menulis komentar bahwa Alea harus menjauhi Tobias jika ingin selamat.
Alea berhenti tersenyum. Akun itu kemudian mengirim foto rumahnya yang diambil dari seberang jalan.
Siska langsung menutup siaran dan membawa Alea masuk. Matias memeriksa halaman, tetapi orang yang memotret sudah pergi.
Pesan pribadi berikutnya jauh lebih jelas.
Katakan kepada Tobias untuk menghentikan penyelidikan, atau giliran om kesayanganmu mengalami kecelakaan.