Tobias menerima tugas di Singapura setelah perusahaan menyetujui ia pulang setiap dua minggu. Alea berjanji berkunjung jika jadwal kontennya memungkinkan.
Minggu pertama dipenuhi panggilan video panjang. Minggu ketiga, kesibukan membuat Tobias melewatkan dua panggilan. Alea sengaja tidak mengejar karena tidak ingin kembali menjadi orang yang menunggu keputusan Tobias.
Ketika Tobias menelepon, percakapan mereka berubah menjadi pertengkaran.
"Kenapa kamu tidak menghubungiku?"
"Kamu yang membatalkan. Aku tidak mau menagih perhatian."
"Aku sedang bekerja."
"Aku juga."
Mereka menyadari masalahnya bukan siapa lebih sibuk, melainkan anggapan bahwa hubungan akan berjalan sendiri.
Mereka menetapkan dua waktu panggilan tetap dan memberi kabar jika jadwal berubah. Tobias juga berhenti mengirim hadiah sebagai pengganti kehadiran.
Alea berkunjung pada bulan kedua dan membuat konten kuliner. Salah satu rekan Tobias bernama Celeste terlihat sangat dekat dengannya. Alea cemburu, tetapi bertanya sebelum menuduh.
Tobias menjelaskan Celeste sudah menikah dan menjadi pemimpin proyek. Ia memperkenalkan Alea kepada seluruh tim tanpa menyembunyikan status mereka.
Sebaliknya, Tobias cemburu ketika Rendra muncul dalam beberapa vlog Alea. Alea mengingatkan bahwa Rendra adalah teman serta rekan kampanye.
"Kepercayaan berlaku dua arah," katanya.
Enam bulan berlalu. Hubungan mereka tidak sempurna, tetapi tidak runtuh.
Pada suatu malam Tobias menelepon dengan wajah serius. Kantor pusat menawarkan jabatan permanen di Singapura. Jika menerima, ia harus tinggal setidaknya lima tahun.
Alea terdiam. Satu tahun masih dapat dihitung mundur. Lima tahun akan mengubah seluruh bentuk hubungan mereka.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Tobias.
Alea menjawab jujur, "Aku ingin kamu pulang. Tapi aku tidak mau menjadi alasan kamu menyesal meninggalkan kesempatan terbesar dalam kariermu."
Tobias tidak langsung menerima jabatan permanen. Ia meminta waktu dua minggu dan mengundang Alea membicarakan seluruh pilihan saat pulang.
"Aku bisa pindah ke Singapura," kata Alea, "tapi karierku dibangun dari penonton Indonesia dan Om Matias ada di sini."
"Aku juga bisa menolak."
"Apa kamu akan menyalahkanku nanti?"
Tobias tidak mampu menjamin dirinya tidak pernah menyesal. Ia hanya dapat berjanji tidak menjadikan penyesalan sebagai tagihan kepada Alea.
Rendra menyarankan perusahaan menunjuk Tobias untuk masa transisi dua tahun, lalu menyerahkan kantor regional kepada pemimpin lokal. Tobias mengajukan pilihan tersebut kepada dewan.
Dewan keberatan karena ingin kepastian lima tahun. Tobias menunjukkan bahwa kantor yang bergantung kepadanya seorang justru tidak sehat.
Setelah negosiasi, masa tugas disepakati dua tahun dengan evaluasi pada tahun pertama. Tobias menerima.
Alea tidak sepenuhnya bahagia, tetapi keputusan itu memberi ruang bagi kedua hidup mereka. Mereka sepakat tidak bertunangan hanya untuk membuat jarak terasa lebih aman.
"Kalau kita menikah karena takut putus, itu sama buruknya dengan kontrak," kata Alea.
Tobias mengangguk meski sudah menyimpan cincin yang dibelinya diam-diam.
Tahun pertama berjalan dengan kunjungan teratur. Alea memperluas kontennya ke negara lain dan mulai memiliki penonton internasional. Jarak yang dahulu terasa mengancam kini juga membuka peluang.
Namun saat evaluasi tiba, dewan meminta Tobias memperpanjang masa tugas satu tahun karena kantor regional belum stabil.
Alea kecewa. "Setiap batas waktu bisa diperpanjang. Sampai kapan kita hidup dari evaluasi ke evaluasi?"
Pertanyaan itu memaksa Tobias melihat bahwa kompromi sementara dapat berubah menjadi cara menghindari keputusan permanen.
Alea memutuskan tidak lagi menyusun seluruh jadwal berdasarkan kepulangan Tobias. Ia menerima proyek dokumenter kuliner selama tiga bulan yang membawanya berkeliling Indonesia.
Tobias merasa ditinggalkan ketika kunjungannya bertepatan dengan perjalanan Alea.
"Aku sudah membeli tiket," katanya.
"Aku juga sudah menandatangani kontrak kerja."
"Kamu bisa pulang dua hari."
"Kenapa bukan kamu yang mengubah jadwal?"
Mereka bertengkar melalui telepon. Tobias mengakhiri panggilan lebih dulu, lalu menyesal.
Keesokan hari ia meminta maaf dan mengakui masih menganggap waktu Alea lebih mudah dipindahkan. Alea menerima permintaan maaf, tetapi tetap menjalankan proyeknya.
Tobias menggunakan tiketnya untuk menemui Alea di salah satu kota liputan. Ia ikut membawa peralatan dan tidur di penginapan sederhana tanpa mengeluh terlalu banyak.
"Kamu tahu ini bukan hotel perusahaan?" ejek Alea.
"Aku melihat cicak sebesar direktur keuangan di dinding."
Mereka tertawa dan kembali dekat. Tobias melihat bagaimana Alea bekerja keras di balik video yang tampak ringan. Alea juga melihat Tobias mencoba hadir tanpa mengambil alih.
Pada malam terakhir, Tobias menunjukkan cincin yang sudah disimpan hampir setahun.
"Aku tidak sedang melamar," katanya cepat. "Aku hanya mau jujur bahwa aku sudah memikirkan masa depan."
Alea menyentuh kotak itu tanpa mengambil cincin. "Aku juga memikirkan masa depan. Tapi kita harus hidup di kota yang sama dulu sebelum bicara menikah."
Tobias setuju. Ia menolak perpanjangan setahun penuh dan menawarkan bekerja bergantian dari Indonesia. Dewan akhirnya menerima setelah kantor regional memiliki kandidat pemimpin baru.
Enam bulan kemudian Tobias pulang secara permanen. Namun kembali satu kota ternyata tidak langsung menyelesaikan semua masalah.
Tobias terbiasa hidup sendiri dan mengatur waktu tanpa gangguan. Alea juga telah membangun rutinitas yang tidak selalu menyertakan dirinya.
Pada minggu pertama, Tobias datang ke rumah Alea tanpa memberi kabar. Alea sedang merekam konten dan marah karena suaranya masuk ke video.
"Dulu kamu mengeluh aku jauh. Sekarang aku datang malah dimarahi."
"Datang dekat bukan berarti boleh masuk tanpa kabar."
Mereka membicarakan batas baru. Tobias harus memberi tahu sebelum datang, sedangkan Alea menyediakan waktu khusus yang tidak dipenuhi pekerjaan.
Matias juga kesulitan menerima Tobias yang semakin sering berada di rumah. Ia sengaja duduk di antara mereka saat menonton film.
"Om, aku sudah dua puluh enam tahun," protes Alea.
"Di mata Om, kamu masih bocah yang mengejar orang membawa pisau demi parfum."
Tobias menahan tawa dan mendapat lemparan bantal dari Alea.
Hubungan Tobias dan Matias perlahan membaik melalui yayasan Damien. Mereka bekerja bersama membangun sistem perlindungan saksi korporasi.
Rendra serta Naya mengumumkan pertunangan. Alea sangat bahagia, meski sedikit sedih karena satu kemungkinan dalam hidupnya resmi tertutup.
Ia mengatakan perasaan itu kepada Tobias agar tidak menjadi rahasia.
"Kamu masih menyukai Rendra?" tanya Tobias.
"Bukan begitu. Aku hanya mengucapkan selamat tinggal pada jalan yang tidak kupilih."
Tobias cemburu, tetapi memahami. Ia sendiri pernah membayangkan hidup tanpa hubungan agar tidak memiliki kelemahan.
Pada pesta pertunangan, Rendra mengucapkan terima kasih kepada Alea karena penolakannya memaksanya berhenti bersembunyi di balik Tara.
Tobias kemudian bertanya apakah Alea siap mengambil cincin yang dahulu hanya ditunjukkan.
Alea menjawab, "Tanya lagi saat kamu benar-benar melamar, bukan di pesta orang lain."