Setelah adopsi, tawaran acara keluarga berdatangan. Alea menolak memperlihatkan wajah Bima, tetapi ia ingin tetap membuat konten tentang pengasuhan secara bertanggung jawab.
Maya menyarankan tidak membagikan cerita trauma Bima meski nama disamarkan. Cerita itu milik Bima sendiri.
Alea membuat seri mengenai makanan keluarga tanpa menampilkan anak. Suara Bima sesekali terdengar, tetapi ia selalu ditanya apakah nyaman.
Suatu hari Bima meminta muncul dalam video memasak. Alea tidak langsung menyetujui karena anak belum memahami jejak digital sepenuhnya.
Mereka membuat satu video pribadi tanpa mengunggahnya. Bima menikmati proses, lalu berubah pikiran dan meminta video hanya disimpan keluarga.
"Bagus kamu bisa berubah pikiran," kata Tobias.
Di sekolah, seorang guru meminta Bima menceritakan proses adopsinya untuk acara inspirasi. Alea menolak atas nama Bima dan meminta sekolah mengajarkan privasi.
Sebagian orang menuduh mereka terlalu melindungi. Bima justru merasa lega karena tidak harus menceritakan hal menyakitkan untuk menghibur orang dewasa.
Roda Rasa tumbuh menjadi perusahaan media dengan puluhan pegawai. Alea harus belajar mendelegasikan dan tidak tampil di setiap episode.
Tobias juga semakin nyaman berbagi kepemimpinan. Mereka memiliki lebih banyak waktu keluarga, meski tetap sering tergoda membuka laptop saat makan.
Bima membuat aturan baru: siapa pun yang membuka laptop di meja makan harus mencuci piring.
Tobias dua kali melanggar pada minggu pertama dan menganggap aturan itu sangat tidak adil.
"Kamu setuju waktu rapat keluarga," kata Bima.
"Papa tidak membaca bagian kecilnya."
Alea tertawa. "Sejarah berulang. Jangan tanda tangan tanpa membaca."
Pada ulang tahun pernikahan kelima, Alea mengajak Tobias dan Bima ke taman hiburan. Bianglala lama telah diganti wahana baru yang lebih besar.
Bima takut ketinggian dan menolak naik. Tobias mengatakan tidak masalah, tetapi Alea terlihat kecewa karena ingin membuat foto keluarga di puncak.
Ia segera menyadari keinginannya tidak boleh mengalahkan rasa aman Bima.
"Kita bisa naik komidi putar," katanya.
Bima berubah pikiran setelah melihat kabin tertutup. Ia bersedia mencoba dengan syarat boleh turun jika takut.
Mereka masuk bersama. Ketika kabin naik, Bima menggenggam tangan keduanya.
Di titik tertinggi kota terlihat penuh cahaya. Tobias menceritakan secara sederhana bahwa tempat serupa pernah menjadi lokasi ia menyadari takut kehilangan Alea.
"Karena ada penjahat?" tanya Bima.
"Iya. Tapi kami tidak akan menceritakan bagian menakutkan malam ini."
Alea mengeluarkan makanan ringan dari tas. Tobias mengeluh karena makan dilarang di kabin, lalu ikut mengambil satu.
Setelah turun, mereka membuat foto di depan bianglala, bukan di dalam. Bima menyetujui foto itu disimpan di rumah dan tidak diunggah.
Malamnya Tobias memberikan Alea sebuah amplop. Isinya bukan uang atau tiket, melainkan jadwal cuti keluarga selama dua minggu.
"Kamu membuat jadwal sebagai hadiah?" tanya Alea.
"Aku sudah berubah, tapi tidak sepenuhnya."
Alea tertawa dan menciumnya.
Kebahagiaan mereka terganggu beberapa hari kemudian ketika Matias pingsan saat bekerja di yayasan. Pemeriksaan menemukan masalah jantung yang membutuhkan operasi segera.
Alea yang selama ini menganggap omnya selalu kuat harus menghadapi kemungkinan kehilangan orang yang telah menjadi rumah pertamanya.
Alea duduk di samping ranjang Matias sambil memegang tangannya. Dokter menjelaskan ada penyumbatan berat yang memerlukan operasi bypass.
"Om akan baik-baik saja," kata Matias.
"Dokter saja belum berani menjamin, kenapa Om sok tahu?"
Alea marah karena takut. Tobias tidak menyuruhnya tenang. Ia mengurus administrasi hanya setelah Matias dan Alea menyetujui.
Malam sebelum operasi, Matias memberikan sebuah map kepada Alea. Isinya dokumen rumah, tabungan, serta surat kuasa.
"Om, jangan bicara seperti mau pergi."
"Om hanya memastikan kamu tidak kesulitan kalau terjadi sesuatu. Persiapan bukan berarti menyerah."
Bima menggambar keluarga mereka dan meletakkannya dekat ranjang. Ia bertanya apakah Matias akan mati. Orang dewasa tidak membohonginya.
"Operasinya serius, tapi dokter akan berusaha membuat Om Matias sehat," jawab Tobias.
Operasi berlangsung lima jam. Alea berjalan bolak-balik hingga Tobias mengajaknya makan sedikit.
"Aku tidak lapar."
"Kamu tidak harus menghabiskan. Tapi tubuhmu tetap butuh tenaga untuk menunggu."
Dokter akhirnya keluar dan mengatakan operasi berhasil. Matias harus berada di ruang intensif selama beberapa hari.
Alea menangis dalam pelukan Tobias. Bima memeluk kaki mereka karena tidak mampu menjangkau lebih tinggi.
Pemulihan Matias tidak mudah. Ia membenci ketergantungan dan menolak bantuan mandi serta berjalan.
"Om selalu menyuruhku menerima bantuan," kata Alea. "Sekarang giliran Om belajar."
Matias akhirnya bersedia tinggal sementara di rumah Alea dan Tobias. Kehadiran lima orang—termasuk perawat harian—membuat rumah semakin ramai.
Di tengah pemulihan, Matias mengaku ingin pensiun dari yayasan. Alea terkejut karena pekerjaan itu selama ini menjadi bagian besar hidup omnya.
"Om tidak mau menunggu tubuh memaksa berhenti lagi," katanya.
Matias kesulitan menjalani hari tanpa pekerjaan. Ia bangun pukul lima, mengenakan kemeja rapi, lalu duduk menonton berita sambil mengkritik semua orang.
Bima mengajaknya bermain gim, tetapi Matias selalu mengubahnya menjadi pelajaran strategi.
"Om Matias nggak bisa santai," keluh Bima.
Alea membantu mencari kegiatan tanpa mengatur seluruh hidupnya. Matias memilih melatih keamanan sukarela dua kali seminggu dan belajar memasak pada hari lain.
Masakannya sangat buruk. Tobias tetap memakannya karena takut menyinggung pasien jantung.
"Kamu menghadapi penjahat bersenjata, tapi takut bilang sup ini asin?" ejek Alea.
"Aku ingin rumah tetap aman."
Kondisi Matias membaik dan ia kembali ke rumah sendiri. Alea merasa cemas setiap kali telepon tidak dijawab. Ia memasang kamera tanpa meminta izin dan Matias langsung mencabutnya.
"Om masih punya privasi."
Alea sadar dirinya mengulangi perilaku Tobias dahulu. Ia meminta maaf dan mengganti kamera dengan alat darurat yang dipilih Matias sendiri.
Tobias berkata, "Ternyata mengontrol karena takut bukan keahlian khususku."
"Diam. Aku sedang bertumbuh."
Di Roda Rasa, Alea menunjuk pemimpin produksi baru agar dapat mengurangi jadwal. Beberapa pegawai mengira ia akan meninggalkan perusahaan.
Alea menjelaskan delegasi bukan pengunduran diri. Perusahaan yang sehat tidak boleh runtuh jika pendirinya mengambil cuti.
Rendra mengundang keluarga mereka ke pernikahannya dengan Naya. Tobias menjadi pendamping, sedangkan Alea membantu memilih makanan.
Pada acara tersebut, Matias menari terlalu semangat dan langsung dimarahi semua orang. Ia tertawa, tampak hidup dengan cara yang berbeda setelah hampir kehilangan nyawa.
Namun seusai pesta, Sari menelepon. Ia mengalami kambuh dan meminta kunjungannya dengan Bima dihentikan sementara.