Tabloid menerbitkan judul bahwa pasangan kaya merampas anak dari ayah miskin. Foto rumah Alea serta sekolah Bima ikut dimuat.
Deni mengaku membutuhkan uang untuk membayar utang lama. Ia tidak menyangka alamat Bima akan dipublikasikan.
"Kamu menjual ceritanya tanpa memikirkan akibat," kata Alea.
"Kalian punya keamanan dan uang. Saya tidak punya apa-apa."
Tobias hampir menawarkan melunasi utang, tetapi berhenti. Bantuan finansial dapat dianggap membeli persetujuan adopsi.
Maya menangguhkan kunjungan sampai risiko keamanan diperiksa. Bima merasa dihukum dan menyalahkan Alea serta Tobias.
"Aku mau ketemu Deni!"
"Bukan kami yang menghentikan selamanya," jelas Alea. "Alamat sekolahmu tersebar. Kami harus memastikan aman."
Deni meminta maaf secara tertulis dan mengembalikan sebagian uang tabloid. Ia juga bersedia mengikuti konseling keuangan.
Pengadilan menilai tindakannya buruk, tetapi bukan satu-satunya ukuran kemampuan berubah. Adopsi belum diputuskan; hubungan biologis tetap dipertimbangkan.
Tobias frustrasi karena uang dan rumah aman tidak dapat menjamin hasil. Alea mengingatkan itulah yang seharusnya terjadi—anak tidak boleh diberikan kepada pihak yang paling kaya.
Setelah keamanan diperbaiki, kunjungan dimulai lagi dengan pengawasan. Deni tampak lebih berhati-hati dan tidak menjanjikan kehidupan bersama.
Bima akhirnya berkata ingin Alea serta Tobias menjadi orangtua hukumnya, tetapi masih ingin mengenal Deni.
Pengadilan meminta semua pihak mengikuti mediasi. Deni mendapat pilihan mempertahankan keberatan dan menghadapi pemeriksaan panjang, atau menyetujui adopsi terbuka dengan hak hubungan terjadwal.
Ia belum menjawab ketika utang judinya kembali muncul. Dua penagih mendatangi tempat kerjanya dan mengancam akan mencari Bima.
Deni langsung melaporkan ancaman kepada polisi dan Maya. Tindakannya kali ini menunjukkan perubahan; ia tidak mencoba menyembunyikan masalah demi terlihat layak.
Tobias membantu melalui yayasan perlindungan saksi, bukan membayar utang secara pribadi. Polisi menangkap para penagih karena pemerasan.
Deni mengakui dirinya belum siap menjadi pengasuh utama. Ia menyetujui adopsi terbuka dengan syarat Bima tetap dapat mengenal keluarga biologisnya jika aman.
Sari juga menandatangani kesepakatan. Pertemuan antara Sari dan Deni berlangsung tegang karena keduanya saling menyalahkan masa lalu.
Maya menghentikan mereka. "Kalian boleh marah, tetapi Bima tidak boleh menjadi tempat menitipkan rasa bersalah."
Sidang akhir berlangsung tertutup. Hakim bertanya langsung kepada Bima menggunakan bahasa sederhana.
"Di mana kamu merasa aman?"
"Di rumah Om Tobias dan Tante Alea," jawabnya. "Tapi aku masih mau ketemu Ibu Sari dan Deni kalau mereka baik-baik."
Hakim mengesahkan adopsi serta rencana hubungan terbuka. Bima tidak mengganti nama belakang kecuali suatu hari memilih sendiri.
Di luar pengadilan tidak ada konferensi pers. Mereka merayakan dengan makan mi dan es krim.
"Sekarang aku harus panggil Mama Papa?" tanya Bima.
"Tidak harus," jawab Alea.
Bima berpikir lalu memanggil Alea Mama untuk pertama kalinya. Alea menangis begitu keras hingga pengunjung lain menoleh.
Kepada Tobias, Bima tetap berkata Om selama beberapa hari. Tobias tidak memaksa.
Pada suatu malam, Bima terbangun karena mimpi buruk dan berteriak, "Papa!"
Tobias datang berlari. Bima tampak malu, tetapi Tobias hanya memeluknya setelah diizinkan.
Keluarga mereka resmi terbentuk, bukan dengan menghapus asal Bima, melainkan menambah orang yang bertanggung jawab menjaga hidupnya.
Setelah adopsi, tawaran acara keluarga berdatangan. Alea menolak memperlihatkan wajah Bima, tetapi ia ingin tetap membuat konten tentang pengasuhan secara bertanggung jawab.
Maya menyarankan tidak membagikan cerita trauma Bima meski nama disamarkan. Cerita itu milik Bima sendiri.
Alea membuat seri mengenai makanan keluarga tanpa menampilkan anak. Suara Bima sesekali terdengar, tetapi ia selalu ditanya apakah nyaman.
Suatu hari Bima meminta muncul dalam video memasak. Alea tidak langsung menyetujui karena anak belum memahami jejak digital sepenuhnya.
Mereka membuat satu video pribadi tanpa mengunggahnya. Bima menikmati proses, lalu berubah pikiran dan meminta video hanya disimpan keluarga.
"Bagus kamu bisa berubah pikiran," kata Tobias.
Di sekolah, seorang guru meminta Bima menceritakan proses adopsinya untuk acara inspirasi. Alea menolak atas nama Bima dan meminta sekolah mengajarkan privasi.
Sebagian orang menuduh mereka terlalu melindungi. Bima justru merasa lega karena tidak harus menceritakan hal menyakitkan untuk menghibur orang dewasa.
Roda Rasa tumbuh menjadi perusahaan media dengan puluhan pegawai. Alea harus belajar mendelegasikan dan tidak tampil di setiap episode.
Tobias juga semakin nyaman berbagi kepemimpinan. Mereka memiliki lebih banyak waktu keluarga, meski tetap sering tergoda membuka laptop saat makan.
Bima membuat aturan baru: siapa pun yang membuka laptop di meja makan harus mencuci piring.
Tobias dua kali melanggar pada minggu pertama dan menganggap aturan itu sangat tidak adil.
"Kamu setuju waktu rapat keluarga," kata Bima.
"Papa tidak membaca bagian kecilnya."
Alea tertawa. "Sejarah berulang. Jangan tanda tangan tanpa membaca."
Pada ulang tahun pernikahan kelima, Alea mengajak Tobias dan Bima ke taman hiburan. Bianglala lama telah diganti wahana baru yang lebih besar.
Bima takut ketinggian dan menolak naik. Tobias mengatakan tidak masalah, tetapi Alea terlihat kecewa karena ingin membuat foto keluarga di puncak.
Ia segera menyadari keinginannya tidak boleh mengalahkan rasa aman Bima.
"Kita bisa naik komidi putar," katanya.
Bima berubah pikiran setelah melihat kabin tertutup. Ia bersedia mencoba dengan syarat boleh turun jika takut.
Mereka masuk bersama. Ketika kabin naik, Bima menggenggam tangan keduanya.
Di titik tertinggi kota terlihat penuh cahaya. Tobias menceritakan secara sederhana bahwa tempat serupa pernah menjadi lokasi ia menyadari takut kehilangan Alea.
"Karena ada penjahat?" tanya Bima.
"Iya. Tapi kami tidak akan menceritakan bagian menakutkan malam ini."
Alea mengeluarkan makanan ringan dari tas. Tobias mengeluh karena makan dilarang di kabin, lalu ikut mengambil satu.
Setelah turun, mereka membuat foto di depan bianglala, bukan di dalam. Bima menyetujui foto itu disimpan di rumah dan tidak diunggah.
Malamnya Tobias memberikan Alea sebuah amplop. Isinya bukan uang atau tiket, melainkan jadwal cuti keluarga selama dua minggu.
"Kamu membuat jadwal sebagai hadiah?" tanya Alea.
"Aku sudah berubah, tapi tidak sepenuhnya."
Alea tertawa dan menciumnya.
Kebahagiaan mereka terganggu beberapa hari kemudian ketika Matias pingsan saat bekerja di yayasan. Pemeriksaan menemukan masalah jantung yang membutuhkan operasi segera.
Alea yang selama ini menganggap omnya selalu kuat harus menghadapi kemungkinan kehilangan orang yang telah menjadi rumah pertamanya.