Bima tidak ingin menghapus nama Sari dan Deni, tetapi juga ingin menunjukkan keluarga yang membesarkannya sekarang.
"Aku boleh punya nama panjang?" tanyanya.
Pengacara menjelaskan perubahan dapat dilakukan, tetapi Bima perlu memahami bahwa nama bukan bukti tunggal hubungan.
Alea mengajak Sari serta Deni membicarakannya. Sari menangis karena takut namanya hilang. Deni lebih tenang dan mengatakan pilihan harus menjadi milik Bima.
Bima akhirnya memilih mempertahankan nama lahir sebagai nama tengah dan memakai nama keluarga Alea–Tobias di belakang. Ia tidak mengambil keputusan pada hari yang sama; konselor memberinya tiga bulan.
Setelah tiga bulan, pilihannya tetap sama. Dokumen diubah melalui pengadilan.
Tobias merasa bangga, tetapi tidak mengadakan pengumuman publik. Mereka merayakan di rumah bersama Sari, Deni, Matias, Rendra, dan Naya.
Hubungan orang-orang tersebut masih canggung. Namun Bima dapat berdiri di tengah tanpa diminta memilih siapa keluarga sebenarnya.
Pada usia tiga belas tahun, Bima mulai bertanya lebih banyak tentang masa lalu Alea dan Tobias. Ia menemukan video lama ketika Tobias menagih utang Alea dan marah karena papanya pernah bersikap begitu.
"Kenapa Mama menikah dengannya?"
Alea tidak menutupi. Ia menceritakan manipulasi, jarak, permintaan maaf, dan perubahan yang memerlukan waktu.
Tobias berkata, "Kamu tidak harus membela tindakan buruk orang hanya karena dia keluarga. Termasuk tindakan Papa."
Bima membutuhkan waktu menerima. Beberapa hari ia bersikap dingin kepada Tobias, lalu akhirnya bertanya apakah manusia benar-benar bisa berubah.
"Bisa," jawab Tobias. "Tapi orang yang disakiti tidak wajib menunggu perubahan itu."
Malam tersebut menjadi penanda baru bagi keluarga mereka. Bima tidak hanya memperoleh nama, tetapi juga kebenaran yang tidak disembunyikan demi menjaga citra orangtuanya.
Beberapa hari kemudian sebuah undangan datang dari taman hiburan. Bianglala lama akan dibongkar, dan pengelola menawarkan kabin bersejarah itu kepada Alea serta Tobias sebagai kenang-kenangan.
Alea langsung ingin membawa kabin itu pulang. Tobias mengingatkan benda tersebut terlalu besar untuk halaman mereka.
"Kita bisa jadikan studio."
"Studio berbentuk kotak besi berkarat?"
"Namanya vintage."
Bima mengusulkan kabin disumbangkan kepada rumah asuh sebagai ruang baca. Ide itu disetujui pengelola dan Maya.
Kabin direstorasi tanpa menghilangkan nomor aslinya. Tobias membiayai sebagian pekerjaan melalui yayasan secara terbuka, sedangkan Roda Rasa mengadakan penggalangan buku.
Alea menolak membuat kisah penculikan sebagai pusat kampanye. Bagi anak-anak rumah asuh, kabin tersebut harus menjadi ruang mereka, bukan monumen kisah cinta orang terkenal.
Pada hari peresmian, Bima memotong pita. Sari dan Deni hadir sebagai tamu, duduk tidak jauh dari Matias.
Tobias melihat anak-anak membaca di dalam kabin yang dahulu menjadi tempat paling menakutkan dalam hidupnya.
"Rasanya aneh," katanya.
"Tempat tidak memilih kenangan apa yang kita taruh di dalamnya," jawab Alea.
Malamnya pengelola memberikan pelat nomor kabin kepada mereka. Tobias memasangnya di ruang keluarga dekat foto pernikahan.
Peresmian juga membawa tawaran baru. Pemerintah kota ingin Roda Rasa dan yayasan mengelola festival tahunan di taman hiburan untuk mendukung usaha kecil serta rumah asuh.
Alea tertarik, tetapi festival sebesar itu dapat menyita satu tahun persiapan. Tobias menyarankan ia tidak menjadi pemimpin langsung.
"Kamu bilang aku tidak mampu?"
"Aku bilang perusahaanmu punya tim. Kamu tidak harus menjadi pusat semua hal baik."
Alea akhirnya menunjuk produser senior sebagai ketua dan hanya memimpin arah kreatif. Kemampuan melepas kendali menjadi tantangan baru setelah bertahun-tahun membangun semuanya sendiri.
Bima memasuki masa remaja dengan perubahan suasana hati yang membuat Tobias kebingungan. Anak itu tidak lagi ingin ikut setiap acara keluarga dan lebih memilih berkumpul dengan teman.
"Dulu dia takut kami pergi. Sekarang dia yang selalu pergi," keluh Tobias.
"Itu artinya dia merasa cukup aman untuk punya dunia sendiri," kata Alea.
Ketika Bima pulang terlambat tanpa memberi kabar, Tobias menerapkan hukuman terlalu berat: ponsel disita satu bulan dan seluruh kegiatan dihentikan.
Bima marah dan pergi ke rumah Matias. Alea meminta Tobias mengevaluasi apakah hukumannya berkaitan dengan kesalahan atau rasa takut kehilangan kontrol.
Tobias mendatangi Bima dan mengakui reaksinya berlebihan. Hukuman diubah menjadi pembatasan satu minggu serta kewajiban memberi kabar karena persoalannya adalah keselamatan.
Bima juga meminta maaf karena sengaja mematikan ponsel.
Masalah berikutnya muncul ketika seorang teman Bima menyebarkan cerita adopsinya. Bima berkelahi di sekolah setelah disebut anak buangan.
Alea tidak membenarkan pukulan, tetapi menolak sekolah hanya menghukum Bima tanpa menangani perundungan. Program mediasi dilakukan dan siswa penyebar informasi meminta maaf.
Bima mengikuti konseling untuk mengelola marah. Tobias bercerita bahwa dirinya dahulu juga menganggap kekerasan sebagai cara tercepat menyelesaikan ancaman.
"Tapi Papa pernah naik bianglala buat menyelamatkan Mama," kata Bima.
"Berani bukan berarti semua keputusannya pintar."
Bima tertawa untuk pertama kali sejak kejadian.
Sari mendukungnya tanpa mengambil alih peran Alea. Deni mengajaknya berolahraga. Banyak orang dewasa berada di sekeliling Bima, tetapi aturan utama tetap disusun dalam rumah Alea dan Tobias.
Keluarga terbuka ternyata membutuhkan komunikasi lebih banyak, bukan lebih sedikit.
Festival kota berlangsung meriah. Puluhan usaha kecil memperoleh tempat gratis, rumah asuh membuka pameran karya, dan bianglala baru menjadi pusat acara.
Alea berhasil tidak mengambil alih produksi. Ia hadir sebagai pembawa acara pada pembukaan lalu menyerahkan panggung kepada tim.
Di tengah festival, listrik seluruh taman padam akibat kerusakan gardu. Bianglala berhenti dengan penumpang di udara.
Kenangan lama membuat Alea panik. Tobias juga membeku sesaat ketika melihat kabin-kabin tergantung.
Tim keselamatan menjalankan prosedur. Tidak ada serangan atau sabotase, hanya kerusakan teknis. Alea membantu menenangkan pengunjung melalui pengeras suara tanpa membuat siaran langsung.
Bima berada dalam salah satu kabin bersama teman sekolahnya. Ia mengikuti petunjuk dan membantu seorang anak kecil agar tidak menangis.
Setelah listrik cadangan aktif, semua penumpang diturunkan dengan selamat.
Tobias memeluk Bima erat. "Papa hampir gila."
"Aku baik-baik saja. Aku ingat Papa bilang panik tidak boleh jadi bos."
Alea tertawa sambil menangis.
Pemeriksaan menunjukkan pengelola mengabaikan rekomendasi pemeliharaan karena mengejar anggaran festival. Tobias ingin menutup wahana permanen, tetapi Alea meminta proses independen.
Festival dilanjutkan tanpa bianglala. Pengelola bertanggung jawab dan mengganti sistem pemeliharaan.
Kejadian itu menunjukkan kemajuan mereka. Dahulu rasa takut membuat Tobias mengambil alih dan Alea bertindak tanpa rencana. Kini keduanya mengikuti prosedur, mempercayai tim, dan tetap hadir.
Di akhir festival, Bima menerima penghargaan kecil karena membantu penumpang lain. Ia menolak wajahnya diunggah dan panitia menghormatinya.