Video Kelana diputar keesokan siang ketika kondisi ibunya dinilai stabil. Dokter menyiapkan layar kecil, gambar boneka, dan pilihan untuk berhenti kapan saja. Deni serta Gea menunggu di rumah agar kehadiran keluarga tidak menambah tekanan.
Pada lima detik pertama, ibu Kelana menatap tanpa bergerak. Ketika piano terdengar, matanya berkaca-kaca. Ia menyentuh layar saat Kelana melambaikan tangan, lalu meminta video diputar sekali lagi.
Sebelum putaran kedua, dokter bertanya apa yang dia lihat. Perempuan itu menyebut Kelana, piano, dan pita kuning. Jawabannya menunjukkan ia tidak hanya bereaksi pada suara, tetapi mengenali bagian gambar secara sadar.
'Kelana belajar sama siapa?' tanyanya.
'Kelana mengikuti les dan berlatih di rumah bersama keluarga,' jawab dokter tanpa langsung menyebut Gea sebagai Mama.
Ibu Kelana mengangguk. Ia mengatakan Arman pernah ingin membelikan piano kecil. Ingatan itu dicatat tanpa dibantah atau dipaksa diperinci.
Dokter mengabulkan hanya setelah menanyakan apakah dia yakin. Putaran kedua selesai tanpa tangisan besar. Ibu Kelana menyebut anaknya cantik dan mengatakan rambutnya sudah panjang.
'Setelah itu dia ingin istirahat,' jelas dokter. 'Kami berhenti. Responsnya lebih teratur dibandingkan rekaman suara pertama.'
'Apa berarti mereka bisa bertemu?' tanya Deni.
'Belum langsung. Kami akan mengevaluasi beberapa hari. Pertemuan membutuhkan kesiapan dua orang, bukan pasien saja.'
Gea setuju. Mereka juga berkonsultasi dengan pendamping Kelana. Anak itu perlu memahami ibunya mungkin menangis, diam, tidak memeluk, atau meminta pertemuan selesai.
'Jangan minta Kelana menjaga perasaan ibunya,' ujar pendamping. 'Dia boleh senang, takut, kecewa, atau tidak ingin masuk.'
Deni dan Gea mengajak Kelana bicara sepulang les. Mereka menjelaskan Ibu melihat videonya dan merasa senang, tetapi masih berlatih supaya bisa bertemu dengan aman.
Pendamping memberi mereka buku kecil untuk mencatat pertanyaan Kelana. Jawaban yang belum diketahui tidak perlu dibuat malam itu. Gea menulis tiga pertanyaan pertama: apakah Ibu akan memeluk, apakah Ibu tahu rumah Kelana, dan apakah Ibu masih mengingat Ayah Arman.
'Kalau kita nggak tahu, bilang belum tahu,' kata Gea.
'Ayah nggak boleh jawab iya cuma supaya Kelana senang?' tanya anak itu.
'Nggak boleh bohong,' jawab Deni. 'Tapi Ayah akan bantu cari jawaban yang aman.'
Kelana menyimpan buku tersebut bersama gambar tamannya. Dengan begitu rasa penasaran tidak harus terus berada di kepalanya setiap malam.
Kelana meminta melihat video yang sama. Mereka memutarnya sekali. Anak itu tertawa karena nada terakhirnya salah dan ingin merekam ulang. Gea mengatakan ibunya sudah menyukai video tersebut, jadi kesalahan kecil tidak perlu dihapus.
'Kalau salah tetap boleh dilihat?' tanya Kelana.
'Boleh. Ibu mau lihat Kelana, bukan ujian piano,' jawab Deni.
Kelana akhirnya tidak membuat versi baru. Ia menggambar tanda musik di samping bonekanya lalu menyimpan ponsel.
'Kalau ketemu, Ibu peluk Kelana?' tanyanya.
'Mungkin iya, mungkin belum,' jawab Gea. 'Kelana juga boleh nggak dipeluk.'
'Mama ikut?'
'Kalau Kelana mau.'
'Ayah?'
Deni menatapnya. 'Ayah ada dekat Kelana. Tapi dokter mungkin minta Ayah menunggu dulu supaya Ibu nggak terlalu banyak lihat orang.'
Kelana memikirkan lalu mengatakan ingin Gea duduk di sampingnya. Deni merasakan cemburu kecil karena bukan dirinya yang dipilih, tetapi tidak menunjukkannya sebagai kesalahan anak.
'Mama temani,' jawab Gea.
Keesokan hari kehidupan Gea di kampus mulai diisi proyek baru. Mahasiswa diminta memilih perusahaan sebagai tempat observasi kelompok. Salah satu pilihan yang tersedia adalah perusahaan keluarga Deni.
Dosen menjelaskan nilai proyek akan berasal dari catatan lapangan, analisis, dan presentasi. Hubungan pribadi dengan tempat observasi wajib disebutkan agar tugas dapat dialihkan bila perlu. Gea menghargai aturan itu karena tidak dibuat khusus setelah namanya menjadi gosip.
'Kalau perusahaan Deni terpilih, gue harus melapor,' katanya kepada kelompok.
'Kita catat saja dari awal,' jawab Putri. 'Biar nggak ada yang merasa dibohongi.'
Mereka memasukkan konflik kepentingan ke formulir sebelum undian dilakukan.
Fian langsung berkata tempat itu paling mudah karena mereka mengenal pemilik. Gea menolak.
'Kalau kelompok kita masuk sana, orang bakalan pikir kita dapat akses khusus,' katanya.
'Tapi datanya cocok sama topik,' ujar Fian.
'Kita bisa pilih perusahaan lain dengan topik sama.'
Putri setuju, tetapi Rangga mengingatkan Gea jangan menghindari semua hal yang berkaitan dengan suaminya hanya karena gosip. Mereka akhirnya meminta dosen menentukan melalui undian dari tiga pilihan agar keputusan tidak bergantung pada Gea seorang.
Hasilnya bukan perusahaan Deni. Gea lega, sementara Fian mengeluh karena harus menghubungi tempat yang tidak dikenal.
'Justru itu namanya belajar,' ledek Gea.
Sebagai koordinator, Gea mengirim surat permohonan sendiri melalui alamat kampus. Ia tidak meminta sekretaris Deni memperbaiki bahasa atau mempercepat jawaban. Ketika perusahaan tujuan meminta revisi jadwal, Gea membicarakannya dengan kelompok dan dosen.
'Ternyata jadi ketua ribet,' keluhnya kepada Putri.
'Makanya jangan cuma senang namanya ada paling atas.'
Gea tertawa lalu memperbaiki surat. Kesulitan kecil itu justru membuat proyek terasa benar-benar miliknya.
Deni mendengar cerita tersebut malam hari. Ia mengatakan bila undian memilih perusahaannya, dia akan menyerahkan pengawasan kepada bagian lain. Namun, ia menghargai Gea mencari proses yang adil tanpa memaksa kelompok mengikuti ketakutannya.
'Aku mau dikenal karena pekerjaan aku sendiri,' kata Gea.
'Dan aku mau lihat kamu berhasil tanpa berdiri di depan jalan kamu.'
Deni kemudian menawarkan ruang kerja rumah untuk rapat kelompok, bukan akses perusahaan. Gea menerima setelah memastikan semua teman setuju.
Mereka menyiapkan meja panjang pada akhir pekan. Putri, Fian, Rangga, dan Serli datang membawa laptop. Daffa ikut kelompok lain dan tidak memaksa bergabung. Kelana menggambar di sudut sambil sesekali menawarkan biskuit.
Saat rapat berlangsung, Kelana meminta Gea membantu memilih warna. Gea meminta waktu lima menit menyelesaikan pembagian tugas, lalu menepati janjinya. Deni yang mendengar dari atas tidak langsung mengambil Kelana seolah Gea tidak boleh terganggu.
'Mama kerja dulu,' kata Kelana sambil kembali menggambar.
Putri tersenyum. 'Dia lebih ngerti daripada beberapa anggota kelompok.'
Fian pura-pura tersinggung. Gea merasa bisa menjadi mahasiswa dan Mama dalam ruangan yang sama tanpa harus sempurna di keduanya setiap menit.
Deni bekerja di lantai atas agar tidak mendengar pembicaraan tugas. Ketika turun mengambil air, Fian pura-pura menutup layar.
'Tenang, saya nggak kasih nilai lagi,' kata Deni.
'Kebiasaan takut dosen, Pak,' jawab Fian.
'Di rumah panggil Deni saja.'
Suasana rapat berlangsung ringan. Gea merasa pernikahannya tidak lagi menjadi sesuatu yang harus disembunyikan ataupun digunakan untuk mendapat keuntungan.
Malamnya dokter memberi jadwal sementara pertemuan ibu dan Kelana minggu berikutnya. Sebelum itu akan ada satu sesi simulasi bagi Kelana di taman rumah sakit tanpa pasien. Anak itu boleh mengenal tempat, memilih kursi, dan pulang bila tidak nyaman.
Deni ingin jadwal dipercepat karena respons video baik. Gea mengingatkan satu keberhasilan tidak berarti semua tahap harus dilewati cepat.
'Aku cuma kangen lihat mereka bersama,' ucap Deni.
'Kamu boleh kangen. Tapi kita tetap tunggu.'
Deni mengangguk lalu memeluk istrinya. Kali ini kesabarannya bukan sekadar menunggu perintah dokter, melainkan menerima bahwa cinta tidak selalu berarti mendekat secepat mungkin.