Hari pertemuan membuat semua orang lebih gugup daripada Kelana. Anak itu justru sibuk memilih gambar mana yang akan dibawa. Akhirnya ia memilih gambar taman dengan dua bangku dan memasukkannya ke map kecil.
Pendamping menelepon sebelum mereka berangkat untuk memastikan Kelana tidur cukup dan tidak sedang sakit. Ibu Kelana juga dinilai stabil pagi itu. Jika salah satu berubah, pertemuan akan dibatalkan tanpa menyebut siapa yang gagal.
'Kalau pertemuannya batal, kita tetap boleh pergi makan?' tanya Kelana.
'Boleh,' jawab Deni. 'Hari ini bukan cuma soal rumah sakit.'
Gea senang Deni menyiapkan kegiatan setelahnya. Anak itu perlu tahu hidup tetap berjalan apa pun hasil sepuluh menit di taman.
Deni memeriksa tas berkali-kali sampai Gea menahan tangannya. 'Air minum sudah ada. Boneka ada. Jangan bikin Kelana merasa mau ujian.'
'Aku yang gugup.'
'Makanya tarik napas.'
Kelana meniru mereka menarik napas panjang lalu tertawa. Ketegangan sedikit berkurang.
Di rumah sakit, mereka masuk melalui jalur keluarga agar tidak melewati ruang ramai. Dokter menjelaskan sekali lagi bahwa pertemuan bisa selesai kurang dari sepuluh menit. Tidak ada pelukan wajib, tidak ada foto, dan tidak ada pembicaraan tentang pulang bersama.
Deni menunggu di bangku yang sudah dipilih saat simulasi. Gea berjalan bersama Kelana menuju taman. Pendamping berada beberapa langkah di belakang.
Ibu Kelana sudah duduk di bawah pohon. Rambutnya disisir rapi dan boneka berpita biru berada di pangkuan. Saat melihat anaknya, kedua tangannya langsung gemetar.
Dokter duduk pada kursi terpisah dan meminta pasien menyebut tempat serta waktu. Ibu Kelana mampu mengatakan sedang berada di taman rumah sakit dan akan bertemu anaknya. Ia juga tahu Arman tidak berada di sana saat ditanya sebelum Kelana mendekat.
'Kalau merasa terlalu berat, Ibu bisa bilang berhenti,' ujar dokter.
Perempuan itu mengangguk. Ia memegang kartu pilihan yang sama seperti milik Kelana. Kedua pihak memiliki hak mengakhiri pertemuan.
'Kelana,' panggilnya pelan.
Kelana berhenti. Ia memandang Gea lebih dulu, lalu kembali menatap perempuan di bangku.
'Ibu?'
Perempuan itu mengangguk sambil menangis. Dokter bertanya apakah dia ingin melanjutkan. Ibu Kelana mengatakan iya. Gea mengajak Kelana duduk di ujung bangku, memberi jarak yang cukup.
'Kelana bawa boneka juga,' kata anak itu sambil menunjukkan pita kuning.
'Kembar,' jawab ibunya.
'Iya. Yang biru buat Ibu.'
Ibu Kelana memeluk boneka tersebut. Tangisnya belum berhenti, tetapi napasnya masih mengikuti arahan dokter. Ia tidak langsung menyentuh anaknya.
'Rambut Kelana panjang,' katanya.
'Mama yang sisirin.'
Gea merasa dadanya menegang saat kata Mama keluar. Ibu Kelana mengalihkan tatapan kepadanya. Wajahnya yang tadi lembut berubah bingung.
'Ini Tante Gea,' kata dokter hati-hati. 'Gea yang tinggal bersama Kelana dan Deni.'
'Mama Gea,' koreksi Kelana polos.
Ibu Kelana menggenggam boneka lebih erat. 'Mama?'
Gea tidak buru-buru menjelaskan. 'Kelana memanggil saya Mama. Tapi saya tahu Ibu adalah ibunya Kelana.'
Dokter mengingatkan bahwa Gea menikah dengan Deni dan merawat Kelana di rumah. Informasi itu sebenarnya sudah diberikan dalam sesi sebelumnya, tetapi bertemu langsung membuat maknanya terasa berbeda bagi pasien.
'Deni menikah?' tanyanya.
'Iya,' jawab Gea. 'Kami tinggal bersama Kelana.'
Ibu Kelana memandang cincin Gea, lalu mencari Deni di taman. Ketika melihat adiknya duduk jauh, ia tampak semakin bingung. Tangannya bergerak ke kartu istirahat tetapi belum menunjuk.
'Kita bisa berhenti sekarang,' kata dokter.
'Aku mau bicara sama Kelana,' jawabnya.
Perempuan itu menatap Kelana seolah mencari jawaban. 'Kamu tinggal sama Deni?'
'Sama Ayah dan Mama,' jawab Kelana.
Dari bangku jauh, Deni tetap duduk walaupun ingin mendekat. Dokter memberi tanda agar ia menunggu.
Ibu Kelana mulai bernapas lebih cepat. Ia bertanya di mana Arman dan mengapa anaknya tinggal bersama orang lain. Dokter mengingatkan Arman sudah meninggal, tetapi perempuan itu menutup telinga.
'Nggak. Arman mau jemput Kelana,' katanya.
Kelana terlihat takut dan meraih tangan Gea. Pendamping segera berjongkok di sisinya.
'Kelana mau tetap duduk atau keluar?' tanya Gea.
'Keluar.'
Gea langsung berdiri. Ia tidak meminta anak itu berpamitan atau memeluk ibunya. Dokter mengatakan pertemuan selesai dan meminta pasien mengikuti napasnya.
'Jangan bawa Kelana!' seru ibunya ketika Gea berbalik.
Kelana menangis. Deni segera datang setelah dokter memberi izin dan menggendongnya. Mereka keluar dari taman tanpa berdebat dengan pasien.
Di ruang tenang, pendamping membantu Kelana mengatur napas. Anak itu bertanya apakah Ibunya marah karena dirinya memanggil Gea Mama.
Pendamping meminta Kelana menunjuk perasaannya pada kartu bergambar. Anak itu memilih takut dan sedih. Tidak ada yang menyuruhnya memilih senang karena akhirnya bertemu ibu.
'Kelana juga senang lihat Ibu, tapi tadi takut,' katanya.
'Dua perasaan itu boleh datang bareng,' jawab pendamping.
Deni meminta maaf karena tidak bisa mencegah ibunya berteriak. Pendamping mengingatkan Deni bukan pengendali setiap respons. Tugasnya sekarang memastikan Kelana aman dan tidak merasa bersalah.
'Itu bukan salah Kelana,' kata Deni tegas. 'Ibu sedang bingung dan sakit. Kelana boleh panggil Mama seperti biasa.'
'Ibu nggak suka Mama?'
Gea menahan air mata. 'Ibu baru ketemu Mama dan banyak hal yang dia lupa. Perasaan Ibu bukan tugas Kelana untuk diperbaiki.'
Kelana memeluknya, lalu meminta pulang. Deni menyetujui tanpa menunggu laporan dokter lengkap. Pengasuh akan menemani Kelana di rumah, sedangkan dokter menelepon nanti setelah pasien stabil.
Di mobil, Gea duduk di belakang sambil memeluk Kelana. Deni tidak menyetir sendiri karena tangannya gemetar. Tidak ada yang mengatakan pertemuan itu gagal. Mereka hanya mengakui waktunya terlalu berat.
Setelah Kelana tidur siang, dokter memberi kabar ibu Kelana sudah lebih tenang tanpa tindakan paksa. Ia mengingat sebagian pertemuan dan terus bertanya siapa Gea.
Dokter menjelaskan pasien tidak akan dipaksa menerima panggilan Mama dalam satu sesi. Mereka akan membantunya memahami susunan keluarga sekarang, kematian Arman, dan peran Gea secara bertahap. Boneka serta gambar tetap berada di kamarnya karena ia tidak meminta dibuang.
'Apakah dia menyesal bertemu?' tanya Deni.
'Dia belum bisa menjawab begitu. Yang jelas dia juga merasa takut kehilangan tempat sebagai ibu.'
Gea mendengar kalimat itu dengan dada berat. Ketakutannya ternyata sama dengan ketakutan perempuan di rumah sakit, hanya datang dari sisi yang berbeda.
'Kami akan menjelaskan perlahan,' kata dokter. 'Pertemuan berikutnya tidak dijadwalkan dulu.'
Deni meminta maaf kepada Gea meski bukan dirinya yang mengatakan kata-kata di taman. Gea menggeleng.
'Kakak kamu sakit. Aku nggak marah sama dia.'
'Tapi kamu terluka.'
'Iya.' Gea akhirnya mengaku. 'Aku takut dia sembuh lalu minta aku berhenti jadi Mama.'
Deni memeluknya. 'Kita nggak akan mengambil Kelana dari ibunya. Tapi tidak ada yang akan menghapus hubungan kamu sama Kelana juga.'
Malamnya Kelana terbangun dan mencari Gea, bukan karena menolak ibunya, melainkan karena membutuhkan sesuatu yang sudah dikenalnya. Gea berbaring di sampingnya sampai anak itu kembali tenang.
Sebelum memejamkan mata, Kelana berbisik, 'Mama Kelana tetap Mama, kan?'
'Tetap,' jawab Gea sambil mencium keningnya.
Di rumah sakit, pada waktu yang sama, ibu Kelana menatap boneka berpita biru dan mengajukan pertanyaan yang sama kepada dokter.
'Mama Kelana itu aku, kan?'