Dua hari setelah pertemuan, Kelana kembali mengikuti les piano. Ia tidak lagi terbangun malam, tetapi belum mau membicarakan rumah sakit. Deni dan Gea menghormati itu. Boneka berpita kuning tetap dibawanya ke mana-mana.
Gea harus menjalani observasi kelompok pada hari yang sama. Ia sempat merasa bersalah meninggalkan Kelana, tetapi pendamping mengingatkan rutinitas orang dewasa juga membantu anak merasa dunia tidak berubah karena dirinya.
'Kalau Kelana butuh, pengasuh telepon aku,' kata Gea sebelum berangkat.
'Aku juga ada di kantor dekat tempat les,' ujar Deni. 'Kamu fokus sama proyek.'
'Jangan jemput tanpa bilang cuma karena kamu khawatir.'
'Aku janji.'
Kelompok Gea tiba di perusahaan observasi memakai kendaraan kampus. Mereka mewawancarai bagian operasional, mencatat alur kerja, dan meminta izin sebelum memotret ruangan. Sebagai koordinator, Gea memastikan data pribadi pegawai tidak masuk laporan.
Narasumber sempat mengenali nama belakang Deni dari surat administrasi Gea dan bertanya apakah mereka berhubungan. Gea menjawab jujur bahwa Deni adalah suaminya, tetapi perusahaan yang dikunjungi tidak memiliki kerja sama dengan keluarga Deni.
'Informasi itu nggak memengaruhi observasi kami,' kata Gea. 'Kalau Bapak merasa ada konflik, kami bisa mencatatnya.'
Narasumber mengatakan tidak ada konflik dan melanjutkan wawancara. Putri memuji Gea karena tidak kembali menyembunyikan pernikahan hanya agar tugas lebih mudah.
'Capek kalau harus bohong lagi,' jawab Gea.
Mereka juga meminta persetujuan tertulis sebelum memakai kutipan. Semua foto papan kerja diperiksa bersama agar tidak ada nama pelanggan atau nomor telepon tertinggal.
'Lo sekarang paling sensitif soal privasi,' kata Fian.
'Karena gue tahu satu foto bisa bikin masalah panjang.'
Putri mengangguk dan menghapus gambar papan jadwal yang memuat nomor telepon. Pengalaman buruk Gea berubah menjadi ketelitian, bukan alasan menghindari tugas.
Di tengah wawancara, ponsel Gea bergetar. Pengasuh hanya mengirim kabar bahwa Kelana selesai les dan makan siang. Gea membalas singkat lalu kembali bekerja. Deni juga tidak menelepon berkali-kali.
Setelah observasi, dosen meminta tiap kelompok membuat laporan tanpa bantuan pihak luar. Gea menyimpan bahan di penyimpanan bersama agar semua anggota bisa melihat perubahan. Ia tidak membawa data ke perusahaan Deni atau meminta staf suaminya merapikan.
'Malam ini rapat lagi?' tanya Rangga.
'Besok. Hari ini gue mau sama Kelana.'
Teman-temannya menerima tanpa meledek bahwa Gea harus meminta izin. Batas hidupnya mulai dipahami setelah pernikahan tidak lagi menjadi rahasia.
Di rumah, Kelana menunjukkan lagu baru kepada Gea. Anak itu sempat berhenti ketika salah nada, lalu mengulang tanpa menangis. Deni datang beberapa menit kemudian membawa makanan, bukan hadiah mahal untuk menghibur.
'Ayah lihat dari awal ya,' pinta Kelana.
'Ayah cuci tangan dulu, terus duduk.'
Mereka mendengarkan sampai selesai. Gea bertepuk tangan paling keras dan Kelana tersenyum bangga.
Mamanya Deni datang sore itu untuk menjaga Kelana saat Deni dan Gea menjalani sesi bersama pendamping. Perempuan itu tidak membawa kabar rumah sakit atau menanyakan kapan cucunya bertemu ibu lagi.
Sebelum mereka berangkat, mamanya bertanya kepada Kelana apa yang ingin dilakukan. Anak itu memilih membuat puding dan menonton film. Tidak ada percakapan rahasia tentang pertemuan pertama.
'Mama juga perlu belajar nggak bertanya terus,' kata perempuan itu kepada Gea. 'Kadang rasa khawatir Mama malah bikin Kelana merasa harus kasih jawaban.'
Gea memeluknya. Keluarga besar mulai memahami pemulihan bukan hanya pekerjaan pasien dan anak, tetapi juga perubahan cara orang dewasa di sekitar mereka.
Dalam sesi, Deni mengakui panggilan Ayah sejak awal muncul karena ia ingin Kelana tidak merasa kehilangan. Ia tidak pernah berniat menghapus Arman, tetapi juga tidak pernah memikirkan bagaimana kakaknya akan merasakan panggilan itu saat mulai pulih.
'Apakah Deni bersedia mendengar kemarahannya tanpa menyerahkan keputusan kepada rasa bersalah?' tanya pendamping.
'Saya akan coba. Tapi kalau dia menyuruh Gea pergi, saya nggak bisa diam.'
'Melindungi Gea tidak harus berdebat dengan pasien saat dia kewalahan.'
Deni mengangguk. Ia bisa meminta sesi selesai dan membicarakan batas melalui dokter setelah keadaan tenang.
Gea mengatakan dirinya tidak ingin dipanggil Tante secara paksa, tetapi juga tidak membutuhkan ibu Kelana mengakuinya sebagai Mama sekarang. Ia hanya ingin hubungan dengan Kelana tidak dianggap pencurian.
'Kedua pihak bisa memiliki tempat berbeda,' ujar pendamping. 'Penerimaan mungkin lama. Tujuannya bukan membuat semua orang memakai kata yang sama.'
Malam hari keluarga Arman melakukan panggilan singkat. Mereka mendengar pertemuan pertama sulit dan menawarkan menunda kunjungan agar Kelana tidak terlalu banyak menghadapi hal baru.
Kerabat perempuan juga mengakui takut kehadiran mereka dianggap menambah perebutan posisi. Deni menjelaskan kunjungan mereka berbeda dari sesi rumah sakit. Selama mengikuti batas Kelana, hubungan tersebut boleh tetap berjalan.
'Kami nggak akan membahas ibunya tanpa izin,' katanya. 'Kami cuma ingin baca buku dan dengar Kelana main piano.'
Gea meminta mereka tidak membawa kabar palsu bahwa ibu Kelana segera pulang. Mereka menyetujui dan bahkan menawarkan pendamping hadir bila perlu.
'Kami bisa kirim buku tanpa datang,' kata kerabat perempuan.
'Tanya Kelana besok,' jawab Gea. 'Jangan batalkan tanpa melibatkan dia.'
Ketika ditanya keesokan pagi, Kelana justru ingin mereka datang minggu berikutnya. Ia mengatakan keluarga Ayah Arman tidak membuatnya takut.
'Ibu yang marah, bukan mereka,' katanya jujur.
Pada kunjungan berikutnya, keluarga Arman datang tanpa membawa album baru. Mereka membaca satu buku yang sudah dikenal Kelana dan mendengarkan lagu pianonya. Kelana masih tidak ingin dipeluk, tetapi bersedia duduk lebih dekat.
Kerabat perempuan bertanya apakah boleh menyimpan rekaman suara lagu. Kelana menggeleng dan mereka menerima. Sebagai gantinya, anak itu memberikan satu gambar not musik.
'Yang ini boleh dibawa,' katanya.
'Kami simpan di rumah,' jawab kerabat itu.
Pertemuan berakhir sesuai waktu tanpa membicarakan rumah sakit. Setelah mereka pergi, Kelana mengatakan ingin bertemu lagi, tetapi tidak setiap minggu karena juga ingin bermain bersama teman lesnya.
'Jadwal Kelana bukan cuma buat keluarga,' kata Gea. Semua orang setuju.
Deni tidak membantah. Mereka menjadwalkan kunjungan singkat dengan kegiatan membaca seperti sebelumnya.
Sore itu dokter memberi kabar ibu Kelana berhasil melihat bagan keluarga sederhana. Ia menunjuk dirinya sebagai Ibu, Arman sebagai Ayah yang meninggal, Deni sebagai adik, dan Gea sebagai istri Deni. Namun, ketika dokter menaruh Kelana di tengah semua garis, perempuan itu menangis.
'Dia belum bisa menerima Gea berada pada garis pengasuhan,' jelas dokter. 'Tapi dia tidak merobek bagan atau menolak nama Gea. Itu langkah kecil.'
Gea menerima kabar tersebut tanpa meminta bagan diperlihatkan kepada Kelana. Tempatnya belum diterima, tetapi setidaknya namanya tidak lagi sepenuhnya asing.
Dokter meminta Gea menulis satu paragraf tentang rutinitasnya bersama Kelana, bukan surat yang membela diri. Gea menulis bahwa ia menyiapkan sarapan, membantu tugas, bermain, dan kadang juga merasa lelah. Ia sengaja tidak menulis bahwa Kelana lebih membutuhkan dirinya.
'Saya nggak mau terdengar sedang melamar jadi Mama,' kata Gea.
'Tulisan ini hanya membantu pasien melihat kehidupan anaknya sekarang,' jawab dokter. 'Dia boleh belum siap membacanya.'
Paragraf tersebut disimpan untuk sesi berikutnya dan tidak langsung diberikan.