Gea membaca dua kata itu berkali-kali. Ia tidak menganggapnya sebagai penyerahan Kelana atau pengakuan bahwa dirinya menggantikan ibu. Namun, tulisan tersebut menunjukkan kakaknya Deni mulai melihat perawatan Gea sebagai sesuatu yang nyata.
'Apa kita boleh bilang ke Kelana?' tanya Deni.
'Belum. Itu bagian terapi kakak kamu. Biar dokter tentukan kapan aman.'
Deni menyetujui. Ia hanya menyimpan foto bagan dalam folder keluarga yang terlindungi dan tidak membagikannya ke grup.
Selama dua minggu berikutnya, tidak ada pertemuan langsung. Ibu Kelana mengikuti terapi dengan gambar, surat pendek, dan cerita tentang rutinitas anaknya. Kelana kembali tidur normal dan menjalani les piano. Hubungan dengan keluarga Arman juga tumbuh melalui satu kunjungan membaca tanpa hadiah berlebihan.
Pada minggu pertama, ibu Kelana mampu mendengar nama Gea tiga kali tanpa meminta sesi berhenti. Pada minggu kedua, ia bertanya apakah Gea kuliah dan siapa yang menjaga Kelana ketika Gea pergi. Dokter menjelaskan adanya Deni, pengasuh, dan keluarga besar.
'Berarti dia nggak sendirian sama Gea?' tanyanya.
'Tidak. Pengasuhan dibagi. Gea juga punya kuliah dan hidup sendiri.'
Jawaban itu membuat pasien terlihat lebih tenang. Bayangannya bahwa Gea mengambil Kelana seorang diri mulai digantikan oleh gambaran rumah yang diisi banyak orang.
Kelana sendiri tidak lagi meminta kepastian setiap malam. Sesekali ia masih bertanya apakah Mama akan pergi, lalu menerima jawaban bahwa semua perubahan akan dibicarakan.
Gea menyelesaikan laporan observasi bersama kelompok. Presentasi berjalan baik meski alat tayang sempat bermasalah. Ia membagi bagian penjelasan, tidak mengambil semua pujian sebagai ketua, dan menerima dua pertanyaan yang belum bisa dijawab.
Saat alat tayang mati, Fian panik dan ingin menelepon teknisi. Gea mengajak kelompok memakai salinan cetak sambil menunggu. Putri menjelaskan bagan pertama, Rangga membagikan lembar ringkasan, dan presentasi tetap berjalan.
'Ketua lo lumayan juga,' bisik Putri setelah alat kembali menyala.
'Lumayan doang?'
'Nanti kalau nilainya keluar baru gue puji penuh.'
Gea tertawa. Ia senang masalah kecil dapat diselesaikan tanpa bantuan nama Deni atau perusahaan keluarganya.
Setelah presentasi, dosen memuji cara kelompok menyamarkan data pegawai. Gea menjelaskan keputusan itu dibuat bersama setelah pengalaman mereka melihat dampak kebocoran informasi.
'Pengalaman pribadi boleh menjadi pelajaran metodologis selama tidak menggantikan analisis,' kata dosen.
Nilai kelompok belum keluar, tetapi Gea merasa lebih bangga pada prosesnya. Dia tidak meminta Deni membaca laporan sebelum dikumpulkan dan tidak menyebut perusahaan suaminya sebagai pembanding.
'Kelompok kalian rapi, tapi analisis risikonya perlu diperkuat,' kata dosen.
Gea mencatat. Setelah kelas, Putri mengajaknya makan, tetapi aroma makanan dari kantin membuat perutnya mual. Ia buru-buru pergi ke toilet.
'Lo sakit?' tanya Putri setelah menyusul.
'Mungkin salah sarapan.'
'Sudah beberapa hari lo kelihatan pucat.'
Gea membasuh wajah. Ia baru sadar menstruasinya terlambat tujuh hari. Selama beberapa minggu terakhir, pikirannya dipenuhi rumah sakit, kampus, dan ancaman Mila sehingga ia tidak menghitung tanggal.
'Put,' panggilnya pelan. 'Gue telat.'
Putri mengira Gea terlambat mengumpulkan tugas. Setelah melihat ekspresinya, perempuan itu langsung mengerti.
'Sudah tes?'
'Belum. Gue baru ingat.'
'Lo sama Deni...'
'Gue sudah nikah,' potong Gea dengan wajah merah. 'Nggak usah tanya detail.'
Putri menahan senyum. Ia lalu bertanya apakah Gea ingin membeli alat tes atau menemui dokter. Gea merasa takut. Kehamilan memang bukan sesuatu yang ditolak, tetapi mereka sebelumnya sepakat menunda anak. Hubungannya dengan Deni baru belajar pulih, sedangkan Kelana dan ibunya sedang berada di masa sulit.
'Gue nggak mau sembunyi dari Deni,' kata Gea. 'Tapi gue juga nggak mau bikin dia berharap sebelum tahu.'
'Tes dulu. Telat bisa karena stres.'
Gea membeli dua alat tes bersama Putri setelah kuliah. Ia menyimpannya dalam tas, lalu meminta temannya tidak menceritakan kepada siapa pun. Putri berjanji.
'Kalau lo butuh ditemenin ke dokter, bilang,' kata Putri.
'Aku mau bicara sama Deni dulu.'
'Bagus. Jangan bikin pengumuman kejutan kalau lo sendiri masih takut.'
Gea mengangguk. Ia sempat membayangkan memberi kotak kecil seperti video romantis yang sering dilihatnya, tetapi itu akan memaksanya terlihat bahagia sebelum mengetahui perasaannya sendiri. Ia lebih memilih percakapan jujur.
Dalam perjalanan ke parkiran, Gea menghitung ulang tanggal pada aplikasi. Siklusnya biasanya teratur. Stres bisa menjadi penyebab, tetapi kemungkinan hamil tetap nyata karena mereka tidak merencanakan perlindungan dengan baik pada malam pertama.
Ia sempat ingin melakukan tes di toilet kampus agar cepat tahu. Putri mencegahnya karena Gea terlihat terlalu tegang dan masih harus pulang sendiri ke parkiran.
'Bukan soal tempatnya jelek,' kata Putri. 'Lo tadi bilang mau bicara sama Deni. Jangan ambil keputusan karena panik lima menit.'
Gea menyimpan kotak kembali. Ia memilih menunggu sampai rumah, makan, dan berbicara dalam keadaan lebih tenang.
Deni menjemput seperti biasa. Ia langsung memperhatikan Gea lebih diam dan menanyakan apakah presentasinya buruk.
'Presentasinya baik. Aku cuma mual.'
'Kita ke dokter?'
'Nggak perlu sekarang.'
Deni tidak memaksa. Ia menawarkan berhenti membeli makanan ringan, tetapi Gea menolak karena takut aroma lain membuatnya semakin mual.
Di rumah, Kelana berlari membawa gambar baru untuk ibunya. Gea menahan rasa pusing dan duduk menemani. Ia tidak ingin kemungkinan kehamilan membuat dirinya langsung menjauh dari anak yang sedang membutuhkan kepastian.
Malamnya setelah Kelana tidur, Gea mengeluarkan dua kotak dari tas dan meletakkannya di depan Deni. Pria itu menatap tanpa mengerti selama beberapa detik, lalu wajahnya berubah tegang.
'Kamu telat?' tanyanya.
'Tujuh hari.'
'Kenapa baru bilang?'
Nada Deni membuat Gea mundur sedikit. Pria itu langsung menyadari dan menarik napas.
'Maaf. Aku kaget. Maksud aku, kamu tahu sejak kapan?'
'Baru sadar siang tadi.'
Deni mengangguk. Ia tidak menuduh Gea menyembunyikan. Mereka duduk berhadapan dan membicarakan ketakutan masing-masing. Deni bahagia pada kemungkinan anak, tetapi takut Kelana merasa digantikan. Gea takut kuliahnya terganggu dan ibu Kelana menganggap kehamilan itu bukti Gea mengambil keluarganya.
'Kita dulu sepakat menunda,' kata Gea. 'Aku merasa bersalah karena bisa jadi kita ceroboh.'
'Keputusan itu tanggung jawab kita berdua. Bukan kamu seorang.'
'Kamu kecewa?'
'Nggak. Aku cuma takut terlihat terlalu senang terus bikin kamu merasa harus ikut.'
Gea menghela napas lega. Ia memang bahagia, tetapi kebahagiaan itu bercampur khawatir. Mereka sepakat tidak membicarakan nama bayi, kamar, atau pengumuman sebelum hasil medis jelas.
Deni juga meminta maaf karena dahulu mamanya sempat menyinggung cucu. Ia berjanji tidak menjadikan harapan keluarga sebagai tekanan pada tubuh Gea.
'Kalau hasilnya positif, kita periksa dokter dan ambil keputusan satu per satu,' kata Deni. 'Aku nggak akan umumkan ke Mama sebelum kamu siap.'
'Kita tes besok pagi.'
'Aku temani.'
Gea menyandarkan kepala di bahunya. Belum ada dua garis, belum ada kepastian. Malam itu mereka hanya memiliki tujuh hari keterlambatan dan banyak rasa takut yang tidak lagi disimpan sendirian.