Hari setelah keluarga mengetahui kehamilan, rumah dipenuhi kiriman makanan. Tidak ada pakaian bayi karena semua orang mematuhi permintaan Gea, tetapi jumlah sup dan buah cukup untuk satu keluarga besar.
Kelana memeriksa setiap tas dengan wajah murung.
'Nggak ada buat Kelana,' katanya.
Deni hampir menjawab bahwa makanan itu dapat dimakan bersama, tetapi Gea melihat persoalan yang berbeda. Sebelum kehamilan, kiriman nenek biasanya disertai buku atau stiker untuk Kelana. Kini semua pesan hanya menanyakan kondisi Gea.
'Kelana merasa semua orang lupa?' tanya Gea.
Anak itu mengangguk.
Deni menelepon mamanya bukan untuk meminta hadiah, melainkan menjelaskan dampak kegembiraan mereka. Mamanya tidak membela diri. Ia datang sore hari membawa permainan lama yang biasa dimainkan bersama Kelana, bukan barang baru sebagai sogokan.
'Nenek terlalu ramai karena senang,' katanya. 'Maaf bikin Kelana merasa nggak kelihatan.'
Kelana tidak langsung memaafkan. Ia mengajak nenek bermain setelah beberapa menit dan tetap menolak ketika permainan itu hendak diubah menjadi pembicaraan tentang adik.
Sementara mereka bermain, Gea menyelesaikan revisi laporan di meja makan. Mualnya berkurang setelah makan sedikit tetapi sering. Ia telah memberi tahu dosen pembimbing secara pribadi karena jadwal observasi berikutnya mungkin berbenturan dengan pemeriksaan.
Dosen tidak menyuruhnya berhenti. Mereka menyusun penyesuaian yang sama seperti mahasiswa lain yang memiliki kebutuhan medis: Gea tetap memenuhi tujuan proyek, tetapi jadwal lapangan dapat ditukar jika ada pemeriksaan atau keluhan.
'Gue kira lo bakal cuti,' kata Putri ketika mendengarnya.
'Belum ada alasan buat cuti.'
'Deni setuju?'
'Tubuh dan kuliah gue bukan keputusan dia sendiri.'
Putri mengangkat kedua tangan. 'Iya, Bu Galak.'
Pada pemeriksaan berikutnya, dokter menunjukkan perkembangan yang sesuai dengan jarak waktu. Kali ini ada gerakan sangat kecil di layar yang dijelaskan sebagai aktivitas jantung awal. Suaranya tidak diperbesar hanya demi menciptakan momen dramatis. Dokter mengingatkan bahwa mereka tetap berada pada trimester awal dan pemeriksaan rutin harus dilanjutkan.
Deni menggenggam tangan Gea setelah meminta izin. Air matanya jatuh tanpa suara.
'Aku boleh senang lebih banyak sekarang?' tanyanya di lorong.
'Boleh. Tapi jangan langsung beli ranjang bayi.'
'Aku cuma sudah simpan tiga pilihan.'
'Deni!'
'Disimpan, bukan dibeli.'
Gea memukul lengannya pelan. Ia sendiri tersenyum sambil memandangi hasil pemeriksaan baru. Kebahagiaan itu tidak perlu dikecilkan hanya karena ada orang lain yang takut. Yang harus mereka jaga adalah agar kebahagiaan tidak berubah menjadi penghapusan.
Saat gambar tersebut diperlihatkan kepada Kelana, anak itu bertanya apakah titiknya sudah punya tangan. Gea menjawab belum dapat terlihat jelas. Kelana menyentuh sudut kertas, bukan perut Gea.
'Kalau bayi keluar, semua orang datang lagi?'
'Mungkin banyak yang mau datang,' jawab Deni. 'Tapi kita bikin aturan supaya rumah nggak terlalu ramai.'
'Kelana boleh masuk kamar Mama?'
'Boleh setelah mengetuk, sama seperti sekarang.'
'Kalau bayi tidur di sana?'
'Tetap boleh mengetuk. Kadang Mama mungkin minta tunggu sebentar.'
Kelana terlihat tidak menyukai jawaban terakhir, tetapi Deni tidak menggantinya dengan janji palsu. Mereka lalu menempel jadwal mingguan di lemari es. Waktu membaca cerita, sekolah, kunjungan keluarga, jadwal kuliah Gea, dan pemeriksaan dokter ditulis dengan warna berbeda. Jadwal itu bukan kontrak kaku, melainkan cara menunjukkan bahwa hidup Kelana masih memiliki tempat yang dapat dilihat.
Di rumah sakit, ibu Kelana meminta kembali membicarakan kabar yang kemarin dihentikan. Dokter memberikan kartu bertuliskan Bayi tanpa menentukan posisinya.
'Kalau bayi tinggal sama Deni, Kelana bakal dengar dia nangis setiap hari,' katanya.
'Kemungkinan begitu setelah lahir.'
'Gea bakal capek.'
'Bisa jadi.'
'Terus Kelana siapa yang mandiin?'
Dokter menjelaskan bahwa keluarga sedang menyusun pembagian perawatan, tetapi bayi belum akan lahir dalam waktu dekat. Kekhawatiran itu dapat dibicarakan bertahap. Ibu Kelana tidak perlu menyelesaikan seluruh masa depan dalam satu sesi.
Perempuan itu menatap kartu Gea cukup lama. 'Dia mau tetap jaga Kelana?'
'Iya. Namun, menjaga Kelana bukan tanggung jawab Gea sendirian. Deni dan keluarga lain juga ada.'
'Kalau aku sembuh?'
'Peran Ibu akan dinilai bersama berdasarkan kondisi Ibu dan kesiapan Kelana. Kehamilan Gea tidak mempercepat atau membatalkan proses itu.'
Jawaban tersebut membuatnya kecewa karena tidak memberi tanggal kepulangan Kelana. Dokter membiarkan kecewa itu hadir tanpa menawarkan pertemuan kedua sebagai hadiah.
Pada akhir sesi, barulah gambar empat lingkaran diperlihatkan. Ibu Kelana menyentuh nama Ibu, kemudian nama Mama. Ia melihat bahwa lingkaran Bayi tidak menutupi lingkaran Kelana.
'Kelana yang bikin?'
'Iya.'
'Kenapa semuanya jauh?'
'Kami tidak menanyakan alasannya. Kelana boleh menjelaskan sendiri kalau suatu hari siap.'
Perempuan itu mengambil pensil merah muda. Ia hampir menggambar garis dari namanya ke Kelana, tetapi berhenti. Setelah berpikir, ia membuat garis pendek yang tidak mencapai lingkaran mana pun.
'Aku belum tahu harus taruh siapa di mana,' katanya.
'Tidak harus selesai hari ini.'
Sore itu dokter mengabarkan perkembangan sesi kepada Deni dan Gea. Ia mengatakan ibu Kelana mampu membahas kebutuhan praktis anak tanpa berteriak. Namun, ia masih melihat hubungan keluarga sebagai tempat yang dapat direbut orang lain.
'Apakah pertemuan kedua bisa dijadwalkan?' tanya Deni.
'Belum. Kelana baru menerima kabar besar. Kami tidak ingin menumpuk perubahan.'
Gea setuju. Kelana membutuhkan waktu untuk hidup dengan pengetahuan tentang calon adik tanpa sekaligus menghadapi pertemuan lain.
Malamnya, Gea membaca cerita seperti biasa. Kelana menghentikannya di tengah halaman dan bertanya apakah bayi dapat mendengar suara Mama.
'Belum tahu sekarang. Nanti kalau sudah lebih besar di perut mungkin bisa,' jawab Gea.
'Berarti bayi ikut dengar cerita Kelana?'
'Kalau nanti bisa dengar, cerita ini tetap cerita yang Kelana pilih.'
Anak itu memikirkan jawaban tersebut, lalu mengizinkan Gea melanjutkan. Seusai cerita, ia mencium pipi Gea dan berbisik selamat malam ke arah perut tanpa menyebut kata adik. Setelah itu ia meminta Deni memastikan pintu kamarnya tidak ditutup rapat.
Gea dan Deni baru kembali ke kamar ketika pesan dokter masuk. Mereka mengira isinya hanya jadwal sesi berikutnya.
Ternyata ibu Kelana telah membuat permintaan khusus. Ia belum siap bertemu anaknya lagi, tetapi ingin berbicara dengan Gea secara langsung. Tanpa Kelana, tanpa keluarga besar, dan tanpa Deni berada di dalam ruangan.
Gea membaca permintaan itu berulang kali. Pertemuan yang selama ini selalu ditunda kini datang dalam bentuk yang tidak pernah ia bayangkan.
'Kamu nggak harus setuju,' kata Deni.
Gea meletakkan tangan di atas perutnya yang belum terlihat berubah. Di kamar sebelah ada anak yang takut ditinggalkan. Di rumah sakit ada seorang ibu yang takut digantikan.
'Aku belum bilang iya,' jawab Gea. 'Tapi kali ini aku juga nggak mau langsung lari.'