Keesokan pagi setelah pertemuan taman, ibu Kelana mengemas pakaian ke dalam satu tas. Ia mengatakan kepada perawat bahwa dirinya sudah mampu bertemu anak di luar, mengatasi suara motor, dan melepaskan pelukan. Menurutnya, tidak ada alasan tetap tinggal di ruang perawatan.
Perawat tidak merebut tas atau berdebat di lorong. Dokter datang dan mengajaknya meninjau rencana tertulis yang dibuat bersama.
'Pertemuan berhasil bukan berarti semua kebutuhan perawatan selesai,' kata dokter.
'Kalian selalu bilang aku harus membuktikan kemampuan. Kemarin aku sudah buktiin.'
'Kemarin memberi satu data baik. Pagi ini Ibu mengubah rencana tanpa membicarakan, berhenti sarapan, dan belum minum obat karena ingin cepat pulang. Itu juga data.'
Perempuan itu marah. Ia melempar baju kembali ke lemari dan menuduh tim sengaja mempertahankannya agar keluarga Deni dapat memiliki Kelana. Suaranya terdengar sampai koridor, tetapi ia tidak menyerang siapa pun. Setelah dua puluh menit, ia meminta ruangan tenang dan akhirnya bersedia minum obat.
Kabar tersebut tidak langsung disampaikan kepada Kelana. Dokter memberi tahu Deni dan Gea bahwa pertemuan berikut tetap dievaluasi, bukan otomatis dibatalkan. Ia juga menegaskan kemarahan pasien tidak berarti semua kemajuan palsu.
Deni berjalan mondar-mandir di ruang keluarga. 'Kakak pikir pulang itu ke rumah kita?'
'Belum jelas. Dia cuma bilang pulang,' jawab dokter.
'Kalau dia minta tinggal sama kita, aku harus jawab apa?'
'Jangan menjawab sebelum asesmen tempat tinggal dilakukan.'
Di mobil, Deni kembali membicarakan kamar tamu. Kali ini Gea tidak hanya menutup pintunya. Ia mengajak suaminya duduk dan menjelaskan alasan rumah mereka belum dapat menjadi pilihan.
'Kelana baru mulai percaya Ibu nggak akan menyuruh aku pergi. Kalau Ibu langsung tinggal di sini, dia harus menjaga perasaan semua orang setiap hari,' kata Gea.
'Dia kakakku.'
'Dan aku istri kamu. Kelana anak yang kita rawat. Bayi ini juga akan lahir di rumah itu. Menolong Kakak bukan berarti semua orang harus tinggal di tempat yang sama.'
Deni menunduk. Ia mengaku merasa bersalah membayangkan kakaknya tinggal sendiri setelah kehilangan Arman.
'Sendiri beda sama mandiri dengan dukungan,' ujar Gea. 'Kita belum tahu pilihannya apa.'
Percakapan terhenti ketika Kelana pulang sekolah. Anak itu membawa gambar taman dan ingin menempelkannya di lemari es. Ia bertanya kapan dapat bertemu Ibu di sana lagi.
'Belum ada tanggal,' jawab Deni.
'Karena Ibu takut motor?'
'Bukan hukuman karena takut. Dokter masih lihat kesiapan semua orang.'
Kelana menerima jawaban itu, lalu mengatakan ingin membawa daun asli lain kali. Tidak ada kabar tentang tas yang dikemas. Informasi medis ibunya tidak diberikan sebagai beban.
Hari yang sulit juga datang kepada Gea. Pada kelas siang, ia merasa pusing setelah berdiri terlalu cepat. Putri membawanya duduk dan memberi air. Gea menghubungi dokter kandungan sesuai panduan; setelah gejala membaik dan tidak ada tanda bahaya lain, ia diminta makan serta memantau.
Putri mencatat waktu pusing dan makanan terakhir karena Gea perlu menyampaikannya kepada dokter, bukan untuk mengawasi sepanjang hari. Setelah kondisi membaik, Gea membatalkan satu pertemuan kelompok tambahan yang sebenarnya dapat dipindah.
'Gue kesel harus pulang,' katanya.
'Kesel boleh. Pingsan di kelas nggak bikin lo lebih bertanggung jawab,' jawab Putri.
Gea mengirim bagiannya melalui grup dan menetapkan waktu pengganti. Teman-temannya tidak menghapus namanya dari tugas. Mereka hanya melanjutkan pembahasan yang dapat dilakukan tanpa kehadirannya.
Deni mengetahui dari pesan Gea, bukan dari kampus. Ia menelepon sekali dan bertanya apakah perlu menjemput.
'Belum. Gue masih ada diskusi satu jam,' jawab Gea.
'Kalau pusing lagi?'
'Gue pulang dan kabarin.'
'Oke.'
Deni menepati kata itu. Ia tidak mengirim sopir diam-diam atau menelepon dosen. Gea menyelesaikan diskusi dalam posisi duduk, kemudian pulang lebih awal karena tubuhnya meminta istirahat.
Sesampainya di rumah, Deni sudah menyiapkan makanan tetapi tidak memaksa Gea menghabiskan. Ia mencatat gejala setelah meminta izin, lalu menyimpan nomor klinik di tempat yang dapat dilihat keduanya.
'Aku bangga nggak datang menyerbu kampus,' katanya.
'Standar bangga kamu rendah banget.'
'Dulu aku pasti udah telepon tiga orang.'
'Makanya sekarang kemajuan.'
Mereka sepakat Deni boleh menawarkan jemputan sekali. Setelah Gea menjawab, ia harus mempercayai keputusan itu kecuali Gea kehilangan kesadaran atau dokter memberi instruksi berbeda.
Malamnya ia merasa bersalah kepada calon bayi karena tidak makan cukup sebelum kelas. Deni mengingatkan bahwa satu kesalahan jadwal bukan bukti dirinya ibu yang buruk.
'Kamu ngomong kayak dokter rumah sakit,' kata Gea.
'Aku belajar dari semua orang yang sering negur aku.'
'Banyak berarti.'
'Banyak banget.'
Mereka tertawa pelan. Kelana yang mendengar dari pintu masuk dan membawa setengah biskuit untuk Gea. Ia tidak disuruh. Gea menerima, lalu bertanya apakah anak itu juga sudah makan.
'Udah. Ini sisa.'
'Terima kasih. Mama makan karena Mama butuh, bukan karena Kelana harus jaga Mama.'
Kelana mengangguk, tetapi meminta Gea menyimpan separuh untuk titik kecil. Deni menjelaskan bayi mendapat nutrisi dari tubuh Mama, bukan potongan biskuit yang disimpan. Kelana terlihat kecewa lalu memakan kembali bagiannya.
Keesokan hari orang tua Deni datang setelah mendengar Gea sempat pusing. Mamanya membawa terlalu banyak makanan dan mulai menyalahkan jadwal kuliah. Gea menjelaskan penilaian dokter serta pilihannya untuk tetap belajar.
'Mama cuma takut kamu memaksakan diri,' kata perempuan itu.
'Kalau aku perlu berhenti, aku berhenti. Tapi jangan setiap gejala dipakai buat bilang kuliah berbahaya.'
Deni mendukung kalimat istrinya tanpa menyuruh mamanya pulang. Mereka membagi makanan, menyimpan yang mampu dimakan, dan mengirim sisanya kepada tetangga agar perhatian tidak berubah menjadi beban.
Kelana mendengar seluruh percakapan. Malamnya ia tidak lagi berkata bayi membuat Mama sakit. Ia mengatakan Mama tadi pusing dan sudah bicara dengan dokter, memisahkan kejadian hari itu dari kesalahan calon adik.
Di rumah sakit, ibu Kelana akhirnya membuka tas yang tadi dikemas. Ia mengembalikan pakaian ke lemari dengan bantuan perawat. Dokter mengajaknya membedakan tiga makna pulang: keluar dari ruang rawat penuh, tinggal di tempat transisi, dan kembali menjadi pengasuh utama Kelana. Ketiganya tidak terjadi pada waktu yang sama.
'Aku kira kalau keluar, Kelana ikut aku,' katanya.
'Tidak. Tempat tinggal Kelana tidak berubah otomatis.'
'Terus buat apa aku sembuh?'
'Agar hidup Ibu tidak hanya ditentukan trauma dan ruang perawatan. Hubungan dengan Kelana adalah bagian penting, bukan satu-satunya alasan Ibu hidup.'
Perempuan itu menolak kalimat tersebut pada awalnya. Selama bertahun-tahun, rasa bersalah dan kerinduan kepada anak menjadi identitas yang tersisa setelah Arman meninggal.
Dokter memintanya menulis tiga hal yang ingin dilakukan untuk dirinya sendiri. Kertas itu kosong sampai malam. Menjelang tidur, ia akhirnya menulis satu: memilih tempat tinggal yang tidak membuat Kelana harus merawatku.
Tulisan itu belum menjadi rencana. Namun, untuk pertama kalinya kata pulang tidak langsung berarti mengambil anak dan memasuki rumah Deni.