Perpanjangan satu minggu di unit transisi tidak berjalan tanpa kesulitan. Pada hari keempat, ibu Kelana lupa mematikan pemanas air setelah membuat teh. Alarm kecil berbunyi dan petugas datang sebelum terjadi sesuatu.
Ia langsung mengatakan alatnya rusak. Setelah memeriksa bersama, petugas menunjukkan tombol yang masih menyala. Wajah perempuan itu memerah karena malu.
'Kalau kalian catat ini, kunjungan Kelana batal,' katanya.
'Kejadian tetap dicatat,' jawab petugas. 'Yang dinilai bukan hanya kesalahan, tapi tindakan setelah kesalahan.'
Ia ingin menyembunyikan teko dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Namun, setelah sesi singkat, ia menulis urutannya sendiri: lupa, alarm berbunyi, menyalahkan alat, lalu memeriksa fakta. Ia memasang kartu pengingat dekat sakelar dan meminta latihan ulang sore hari.
Dokter tidak membatalkan kunjungan karena satu kelalaian. Kegiatan bersama Kelana tidak akan memakai pemanas, kompor, atau benda berbahaya. Petugas tetap berada dekat pintu.
'Kalau aku salah waktu Kelana ada?' tanyanya.
'Ibu meminta bantuan. Anak tidak membutuhkan orang dewasa yang tak pernah salah. Anak membutuhkan orang dewasa yang tidak menyuruhnya menutupi kesalahan.'
Di rumah, Kelana melihat foto kamar unit sebelum memutuskan datang. Tempat tidurnya kecil, ada meja tulis, satu lemari, dan jendela menghadap taman. Tidak ada tempat tidur tambahan.
'Kelana duduk di mana?' tanyanya.
'Ibu menyiapkan kursi kecil di dekat meja,' jawab pendamping.
'Mama di mana?'
'Mama bisa menunggu di ruang bersama. Kelana dapat melihat lewat pintu yang dibiarkan terbuka.'
Kelana meminta mencoba susunan itu di rumah. Ia masuk ke kamar tamu, Deni berpura-pura menjadi Ibu, dan Gea duduk di lorong. Setelah tiga menit, Kelana berjalan keluar hanya untuk memastikan Gea benar-benar dapat didatangi.
'Kalau Kelana keluar, waktunya habis?' tanyanya.
'Belum tentu,' jawab pendamping melalui panggilan. 'Kelana boleh kembali kalau masih ingin dan semua aman.'
Kunjungan ditetapkan dua puluh menit. Kelana boleh membawa satu benda dan memilih kotak buku Titik, tetapi Gea mengingatkan kamar ibu bukan tempat menitipkan perlengkapan bayi. Akhirnya anak itu membawa cetakan daun dari taman.
Hari kunjungan, Deni mengantar mereka sampai ruang tunggu. Ia tidak masuk ke unit karena jumlah orang dibatasi. Gea duduk di ruang bersama dengan bahan kuliah, terlihat dari pintu kamar yang dibuka setengah.
Ibu Kelana menyambut tanpa hadiah. Ia menunjukkan kartu pengingat di dekat pemanas dan menceritakan kesalahannya dengan bahasa sederhana.
'Ibu hampir lupa matiin,' katanya. 'Alarm bunyi, terus Ibu minta bantuan.'
'Ibu dimarahin?' tanya Kelana.
'Nggak. Tapi Ibu harus latihan lagi.'
Kelana memeriksa tombol seolah menjadi ahli. Petugas menghentikannya sebelum menyentuh dan menjelaskan bahwa alat itu hanya untuk orang dewasa. Anak tersebut menerima batas tanpa diberi tugas mengawasi ibunya.
Mereka menempel cetakan daun di papan kecil menggunakan perekat yang dapat dilepas. Ibu bertanya apakah kertas itu boleh tinggal sampai kunjungan berikut. Kelana mengangguk dengan syarat tidak dibuang jika ia berubah pikiran.
Pada menit kedelapan, Kelana melihat satu foto Arman dan ibunya di meja. Ia bertanya mengapa tidak ada foto Mama. Tubuh ibunya menegang.
'Ini kamar Ibu,' jawab perempuan itu. 'Ibu pilih foto yang bikin Ibu merasa aman.'
'Mama nggak bikin aman?'
Dokter yang mendampingi hendak membantu, tetapi ibu Kelana mengangkat tangan. Ia mencoba menjawab sendiri.
'Mama Gea bikin Kelana aman. Ibu masih belajar merasa aman kalau lihat semua bagian keluarga Kelana bareng-bareng.'
Kelana menoleh ke pintu. Gea masih duduk di luar. Jawaban itu tidak menghapusnya, tetapi juga tidak memaksa ibu memasang foto yang belum sanggup dilihat setiap hari.
'Nanti boleh foto Kelana aja?' tanyanya.
'Boleh, kalau Kelana kasih.'
Anak itu memilih satu foto sekolah dari ponsel Deni setelah kunjungan, bukan saat itu juga. Kamar ibu tidak langsung diisi gambar seolah Kelana akan segera tinggal.
Pada menit kedua belas, seorang penghuni lain menjatuhkan buku di lorong. Bunyi keras membuat ibu Kelana berdiri dan memegang tepi meja. Ia menyebut tanggal, melihat Kelana, lalu meminta petugas menutup pintu sedikit tanpa menghilangkan pandangan ke Gea.
'Kelana mau keluar?' tanyanya.
'Belum.'
'Ibu perlu napas sebentar.'
Mereka diam sampai tubuhnya kembali tenang. Kelana tidak diminta menghibur. Ia menggambar di kertas sambil menunggu.
Pengatur waktu berbunyi tepat dua puluh menit. Kelana ingin menyelesaikan satu gambar, tetapi ibunya mengingatkan bahwa mereka dapat melanjutkan lain kali jika tim menyetujui.
'Kelana pulang sekarang?' tanyanya.
'Iya. Ibu tetap di kamar ini.'
'Ibu sedih?'
'Sedih sedikit. Ibu punya orang dewasa buat bantu.'
Kelana memeluk setelah meminta izin. Ibu melepaskan saat anak mundur. Ia tetap berdiri di dalam kamar ketika Kelana berlari menuju Gea.
Deni menunggu di ruang keluarga depan. Ketika Kelana datang, ia tidak langsung bertanya apakah kamar Ibu bagus. Ia menawarkan air dan membiarkan anak itu memilih duduk di pangkuannya atau kursi sendiri.
'Ibu punya foto Papa, nggak punya foto Mama,' kata Kelana.
'Kamar Ibu boleh punya foto yang Ibu pilih,' jawab Deni setelah melihat Gea.
'Ayah sedih nggak ada foto Ayah?'
'Sedikit. Tapi kamar itu bukan kamar Ayah.'
Jawaban Deni membantu Kelana melihat bahwa rasa sedih tidak otomatis memberi hak atas ruang orang lain. Anak itu lalu meminta memilih foto sekolah yang akan dikirim. Mereka membuka beberapa pilihan, dan Kelana menolak foto yang diambil saat sedang menangis meski terlihat cantik menurut Deni.
'Ini muka Kelana. Kelana yang pilih,' katanya.
'Iya,' jawab Deni.
Foto pilihan dikirim melalui pendamping. Ibu Kelana bertanya apakah boleh mencetak satu lembar saja. Setelah Kelana mengizinkan, foto ditempel di samping cetakan daun, bukan menggantikan foto Arman.
Di ruang debrief, Kelana berkata kamar Ibu bukan rumahnya karena tidak ada mainan atau tempat tidur untuknya. Pendamping menjawab bahwa kamar itu memang tempat tinggal Ibu sekarang, bukan rumah Kelana.
'Kelana boleh datang lagi tanpa tinggal?' tanyanya.
'Boleh dipertimbangkan setelah evaluasi.'
Sementara itu, ibu Kelana melihat pintu yang kembali sepi. Ia tidak mengemas tas atau memohon anak dikembalikan. Ia mengambil kartu pemanas dan menjalani latihan sore sesuai jadwal.
Latihan kedua berjalan tanpa alarm. Ia mematikan tombol, memeriksa sekali, lalu mencatat selesai. Ketika petugas memuji, ia mengatakan keberhasilan itu tidak menghapus kelalaian pagi. Petugas menjawab keduanya memang tetap menjadi data.
Malamnya perempuan itu merasa ingin menelepon Kelana hanya untuk memastikan anak tidak membenci kamarnya. Ia melihat kalender dan sadar tidak ada jadwal panggilan. Ia menulis pertanyaan di buku untuk sesi berikut, kemudian menelepon pendamping dewasa, bukan nomor rumah Deni.
'Aku takut dia nggak mau datang lagi,' katanya.
'Takut boleh dicatat. Jawabannya menunggu keputusan Kelana setelah debrief,' ujar pendamping.
Ia menerima tanpa mengirim pesan tambahan. Menunggu satu malam menjadi latihan yang sama pentingnya dengan menyalakan atau mematikan alat.
Kunjungan tersebut dianggap berhasil bukan karena kamarnya terasa seperti rumah keluarga. Justru karena semua orang mampu mengakui bahwa tempat itu milik Ibu, Kelana hanya berkunjung, dan pulang bukan bentuk pengkhianatan.