Gerakan calon bayi terasa lebih jelas dua minggu kemudian. Gea sedang mengerjakan tugas di meja makan ketika sisi perutnya seperti diketuk dari dalam. Ia memanggil Deni lebih dahulu karena pria itu berada paling dekat.
'Sini tangan kamu,' katanya.
Deni meletakkan telapak tangan dengan wajah tegang. Gerakan berikutnya tidak langsung datang. Ia menunggu hampir satu menit, lalu mengeluh bayi sudah belajar mengabaikannya.
'Sabar,' ujar Gea.
Ketukan kecil muncul lagi. Mata Deni langsung berkaca-kaca.
'Itu dia?'
'Kayaknya iya.'
Deni tertawa dan mencium tangan Gea. Ia tidak memanggil seluruh keluarga. Kelana masih tidur siang, dan momen pertama tersebut boleh hanya menjadi milik pasangan itu.
Ketika Kelana bangun, Deni hampir langsung menarik tangannya ke perut Gea. Gea menghentikan.
'Tanya dulu,' katanya.
'Kelana mau coba rasain Titik gerak?' tanya Deni.
Anak itu mengangguk. Ia menaruh tangan setelah Gea menunjukkan tempat, tetapi bayi kembali diam. Kelana menunggu, lalu mulai kesal.
'Titik tadi gerak buat Ayah.'
'Gerakannya nggak milih siapa,' jawab Gea. 'Kadang terasa, kadang nggak.'
'Titik lebih suka Ayah.'
'Belum bisa disimpulkan begitu.'
Deni menawarkan berbicara kepada bayi agar bergerak, tetapi Gea menolak menjadikan tubuhnya panggung. Kelana boleh mencoba lagi nanti jika ia ingin.
Malamnya gerakan muncul saat Gea membaca cerita. Kelana sedang menyandarkan kepala di lengannya. Gea bertanya apakah anak itu ingin menyentuh, dan kali ini satu ketukan mengenai telapak kecilnya.
Kelana menarik tangan dengan kaget. 'Titik nendang Kelana!'
'Bukan marah. Dia bergerak.'
'Sakit?'
'Belum sakit. Mama kaget aja kadang-kadang.'
Kelana mencoba lagi dan tersenyum ketika gerakan kedua terasa. Ia tidak menyebut dirinya kakak hebat. Ia hanya berkata Titik akhirnya tahu tangannya ada.
Hari berikutnya di sekolah, guru mengajak anak-anak bercerita tentang saudara. Kelana mengatakan ada Titik di perut Mama, tetapi belum tahu apakah akan menyukai tangisnya. Seorang teman tertawa dan berkata kakak harus selalu sayang.
'Kelana boleh kesel,' jawabnya. 'Mama bilang boleh.'
Guru kemudian menghubungi Gea karena khawatir kalimat itu terdengar menolak bayi. Gea menjelaskan bahwa mereka sengaja tidak memaksa perasaan tertentu selama perilaku tetap aman.
'Kami biasanya mengajarkan calon kakak harus gembira,' kata guru.
'Boleh mengajak kenal, tapi jangan bikin dia merasa jahat kalau takut atau kesal,' jawab Gea.
Guru menerima dan mengubah kegiatan berikutnya menjadi menggambar perubahan yang disukai serta tidak disukai. Kelana menggambar kotak buku yang dipinjamkan dan telinga yang ditutup saat bayi menangis.
Pada pemeriksaan anatomi, dokter menjelaskan bagian tubuh yang terlihat dan yang masih perlu dipantau. Deni serta Gea sepakat mengetahui jenis kelamin tetapi tidak mengadakan pengumuman. Mereka memberi tahu Kelana di rumah setelah hasil pemeriksaan dibaca dokter.
'Titik perempuan,' kata Deni.
'Kayak Kelana?'
'Iya, tapi dia tetap orang yang beda,' jawab Gea.
Kelana bertanya apakah bayi perempuan harus memakai barang merah muda. Gea mengatakan warna tidak menentukan siapa yang boleh memakainya. Anak itu lalu menawarkan selimut kuning miliknya yang sudah lama disimpan.
Saat kabar tersebut masuk ke catatan bersama, ibu Kelana meminta melihat foto pemeriksaan. Gea tidak langsung setuju. Gambar medis tetap informasi tubuhnya, dan hubungan keluarga tidak otomatis memberi akses.
Ia memilih mengirim satu gambar yang memang ingin dibagikan setelah bagian data pribadi ditutup. Pesan dikirim melalui pendamping dengan keterangan bahwa foto tidak boleh disalin atau ditunjukkan kepada orang lain.
Ibu Kelana menatap gambar itu lama. 'Bayi perempuan.'
'Iya,' jawab dokter.
'Kelana dulu juga kecil seperti ini?'
'Ibu punya foto pemeriksaannya di album.'
Perempuan itu mengeluarkan gambar lama. Ia menaruh dua foto berjajar, lalu mulai membandingkan ukuran. Dokter menghentikan sebelum perbandingan berubah menjadi penilaian kehamilan siapa yang lebih baik.
'Dua foto ini bukan perlombaan,' katanya.
'Aku cuma mau ingat.'
'Mengingat boleh. Pastikan ingatan Kelana tidak dipakai untuk menentukan apa yang harus Gea lakukan.'
Ibu mengangguk. Ia kemudian membuka kotak barang lama dan menemukan selimut bayi milik Kelana. Warnanya putih dengan garis hijau, masih bersih tetapi perlu diperiksa sebelum digunakan.
'Aku mau kasih ke bayi Gea,' katanya.
'Apakah Kelana sudah setuju?' tanya dokter.
'Ini aku yang beli.'
'Tetap bagian dari cerita masa bayi Kelana. Tanyakan apakah dia ingin menyimpannya.'
Pada panggilan berikut, ibu menunjukkan selimut itu. Kelana langsung mengenali dari foto lama dan mengatakan selimut tersebut miliknya.
'Ibu pikir mungkin bisa dipakai Titik,' kata perempuan itu. 'Tapi kalau Kelana mau simpan, Ibu simpan.'
Anak tersebut berpikir cukup lama. 'Titik boleh pinjam. Jangan dipotong.'
'Nggak akan dipotong.'
'Terus kalau Kelana minta balik?'
'Dikembalikan.'
Gea mendengar dari belakang kamera. Ia terharu, tetapi juga memastikan selimut diperiksa kebersihan dan keamanannya sebelum dipakai. Kenangan tidak mengalahkan kebutuhan kesehatan bayi.
Pada minggu yang sama, ibu Kelana menjalani kunjungan pertama ke calon hunian dukungan di luar kawasan rumah sakit. Tempatnya berupa apartemen kecil dekat layanan kesehatan, dengan petugas yang datang terjadwal dan nomor bantuan sepanjang waktu. Ia tidak langsung pindah.
Sebelum kunjungan, ia diminta membuat rute dari apartemen menuju klinik, toko, dan titik penjemputan. Ia salah menandai satu jalan yang ramai kendaraan. Alih-alih memaksakan rute karena paling pendek, ia memilih jalan memutar dengan penyeberangan lebih aman.
'Lebih lama sepuluh menit,' katanya.
'Apakah itu masalah?' tanya terapis.
'Dulu aku pasti buru-buru supaya cepat jemput Kelana.'
'Sekarang?'
'Sekarang aku perlu sampai dengan aman sebelum bisa jadi siapa-siapa buat dia.'
Kalimat tersebut dicatat sebagai perubahan cara berpikir, tetapi tetap harus diuji saat tinggal sungguhan.
Suara lalu lintas lebih jelas daripada di unit. Perempuan itu gemetar ketika menyeberang dari mobil ke pintu, tetapi meminta berhenti di trotoar sampai napasnya teratur. Ia tidak kembali ke mobil.
Di dalam, ia memeriksa kamar, dapur, pintu balkon, dan jarak menuju klinik. Ia bertanya apakah Kelana dapat berkunjung suatu hari nanti. Tim menjawab bisa dipertimbangkan setelah tahap tinggal percobaan tanpa anak.
'Aku mau kamar yang nggak punya tempat tidur tambahan,' katanya.
'Kenapa?' tanya dokter.
'Supaya aku nggak mulai membayangkan Kelana menginap sebelum waktunya.'
Pilihan tersebut dicatat sebagai batas yang dibuatnya sendiri. Ia juga memilih lokasi yang tidak terlalu dekat rumah Deni maupun keluarga Arman agar kunjungan membutuhkan rencana, bukan kedatangan mendadak.
Malam hari, Gea menerima pesan bahwa selimut akan dikirim setelah diperiksa. Di sampingnya, Kelana menempel tangan pada perut dan menunggu gerakan lain.
'Ibu kasih selimut buat Titik,' katanya.
'Iya, karena Kelana mengizinkan.'
'Berarti Ibu suka Titik?'
'Mama belum tahu. Memberi barang bisa berarti Ibu sedang mencoba memberi tempat.'
Titik bergerak di bawah tangan Kelana. Anak itu tertawa. Gerakan tersebut tidak memilih Ibu atau Mama, rumah lama atau rumah baru. Itu hanya tanda kehidupan yang tumbuh di tengah keluarga yang sedang belajar berhenti menjadikan cinta sebagai perlombaan.