Sembilan minggu menuju perkiraan kelahiran tidak lewat sebagai hitungan di kalender saja. Setiap pekan membawa satu pekerjaan kecil yang tidak dapat diselesaikan sekaligus.
Pada minggu pertama, Gea menyerahkan tugas akhir semester. Ia memeriksa sumber, menyelesaikan presentasi, dan menandatangani pengajuan jeda akademik setelah memastikan nilai serta administrasinya tercatat. Deni tidak masuk ke gedung akademik atau meminta salinan berkas.
'Gue resmi jeda semester depan,' kata Gea kepada Putri.
'Terus balik lagi?'
'Balik. Gue udah bikin rencana mata kuliah.'
'Bagus. Biar nanti kalau lo mulai betah di rumah, gue seret.'
'Lo yang gue seret duluan kalau ngomong gitu.'
Mereka tertawa dan berfoto hanya berdua. Putri meminta izin sebelum mengunggah, dan Gea memilih foto yang tidak menonjolkan perutnya. Kehamilan boleh terlihat tanpa menjadi seluruh identitasnya.
Pada minggu kedua, Deni serta Gea mengikuti kelas persiapan persalinan. Mereka belajar tanda persalinan, pilihan penanganan nyeri, kemungkinan rencana berubah, dan cara pasangan membantu tanpa mengambil keputusan pasien.
Ketika diminta membuat daftar keinginan, Deni menulis terlalu banyak. Gea mencoret bagian yang menyatakan keluarga menunggu di rumah sakit.
'Kenapa dicoret?' tanyanya.
'Aku nggak mau ruang tunggu penuh orang. Mama sama keluarga aku tunggu kabar dari rumah.'
'Kelana?'
'Kelana sama orang yang dia pilih. Kita tanya nanti.'
Deni mengangguk. Rencana persalinan bukan surat perintah yang menjamin semua kejadian sesuai keinginan. Mereka menambahkan bahwa keputusan medis mengikuti kondisi Gea dan bayi, sedangkan informasi hanya diberikan kepada orang yang disetujui.
Pada minggu ketiga, Kelana memilih tinggal bersama nenek saat persalinan dimulai. Ia tidak mau menunggu di rumah sakit. Tasnya berisi pakaian, boneka kelinci, dan gambar empat lingkaran yang kini mulai kusut.
'Kalau Mama lama pulang?' tanyanya.
'Ayah atau nenek kasih kabar yang sesuai,' jawab Gea. 'Kelana tetap sekolah kalau semuanya aman.'
'Kalau Titik nangis terus?'
'Kita belajar bareng. Kelana boleh masuk kamar sendiri kalau butuh tenang.'
Mereka memasang tanda sederhana di pintu Kelana. Warna hijau berarti boleh mengetuk, kuning berarti ia ingin waktu sendiri, dan merah hanya dipakai jika benar-benar tidak mau diganggu kecuali keadaan darurat. Aturan tersebut berlaku juga setelah bayi lahir.
Nenek mencoba satu sore menjaga Kelana sesuai rencana. Deni dan Gea berjalan ke klinik lalu pulang dua jam kemudian, seolah sedang terjadi persalinan. Kelana sempat menelepon sekali karena lupa di mana kotak makan, tetapi nenek membantu menemukannya tanpa memanggil Gea.
'Kalau nanti Mama nggak bisa jawab telepon?' tanya Kelana setelah latihan.
'Nenek bantu hal yang Kelana butuh. Ayah kasih kabar kalau sudah bisa,' jawab Deni.
Mereka juga menulis nomor pendamping di lemari es. Kelana tidak diberi nomor ruang bersalin atau tugas melaporkan keadaan rumah. Latihan itu bukan membuat anak menjadi bagian tim medis, melainkan menunjukkan siapa orang dewasa yang dapat diandalkan.
Pada minggu keempat, ibu Kelana berpindah lebih banyak hari ke apartemen dukungan. Ia masih kembali ke unit untuk terapi dan satu malam setelah mimpi buruk berat. Kepindahannya tidak diumumkan sebagai sembuh total.
Ia mengelola belanja, obat, dan jadwal dengan kunjungan petugas setiap hari. Kelana datang satu jam pada akhir pekan, membuat kue yang tidak gosong, lalu pulang bersama Deni. Tidak ada permintaan menginap.
'Ibu sekarang tinggal di sini?' tanya Kelana.
'Ibu sedang belajar tinggal di sini. Bantuan masih datang,' jawab ibunya.
'Kelana boleh punya sikat gigi?'
Perempuan itu menahan kegembiraan. 'Kalau cuma buat kunjungan dan pendamping setuju. Bukan berarti menginap.'
Sikat gigi kecil disimpan setelah Kelana memilih sendiri. Benda itu menjadi kebutuhan kunjungan, bukan simbol pindah rumah.
Pada minggu kelima dan keenam, tubuh Gea semakin berat. Ia lebih cepat lelah dan beberapa malam sulit tidur. Deni mengambil lebih banyak pekerjaan rumah, tetapi sekali waktu mengeluh rapatnya terganggu. Gea tidak memaafkan hanya karena suaminya sedang lelah.
'Kamu boleh capek,' katanya. 'Tapi jangan bikin aku merasa pekerjaan rumah ini bantuan luar biasa.'
'Aku salah ngomong.'
'Iya.'
Deni meminta maaf lalu mengatur ulang satu tugas kantor kepada timnya, bukan menyerahkan semua pekerjaan rumah kepada mama. Ia masih bekerja, tetapi berhenti bersikap seolah hanya waktunya yang memiliki harga.
Mereka mempertahankan malam pasangan meski bentuknya berubah. Tidak ada jalan jauh atau makan malam mewah. Deni menyisir rambut Gea, memijat kakinya setelah bertanya, dan mendengarkan keluhan tanpa menawarkan solusi setiap menit.
'Dulu aku kira cinta pertama itu harus selalu bikin jantung cepat,' kata Gea.
'Sekarang?'
'Kadang cinta itu orang yang mau ambilin bantal ketiga tanpa ceramah.'
Deni mengambil bantal keempat hanya untuk membuatnya tertawa.
Pada minggu ketujuh, dokter mengatakan posisi bayi dan perkembangan saat itu sesuai pemantauan. Ia mengingatkan gerakan perlu diperhatikan berdasarkan pola biasa dan Gea harus menghubungi fasilitas bila ada perubahan atau tanda persalinan.
Kelana ikut satu kunjungan yang diizinkan. Ia mendengar bunyi jantung bayi dan bertanya apakah Titik sedang berlari. Dokter menjelaskan suara cepat itu berasal dari jantung, bukan kaki.
'Namanya tetap Titik waktu lahir?' tanyanya di mobil.
'Nggak,' jawab Deni. 'Mama sama Ayah sudah pilih nama, tapi kita masih mau simpan.'
'Kelana boleh tahu duluan?'
Gea dan Deni sepakat memberi tahu. Nama bayi itu Nara. Kelana mengucapkannya beberapa kali, lalu mengatakan dirinya tetap akan memanggil Titik kalau sedang kesal.
'Boleh punya panggilan sayang, tapi jangan buat mengejek,' ujar Gea.
Pada minggu kedelapan, ibu Kelana mendapat penjelasan rencana persalinan melalui pendamping. Ia tidak masuk daftar orang yang menerima kabar langsung. Informasi akan diberikan kepada pendamping setelah Gea mengizinkan, sama seperti keluarga lain.
'Aku bukan keluarga lain,' katanya.
'Benar. Tapi tubuh dan persalinan itu milik Gea,' jawab dokter.
Perempuan itu kecewa, kemudian menulis pesan: Aku akan menunggu kabar. Kelana tidak perlu meneleponku saat Mama di rumah sakit.
Gea membaca pesan itu dan mengucapkan terima kasih. Ia tidak menambahkan ibu ke daftar hanya sebagai imbalan karena bersikap baik.
Memasuki minggu kesembilan, semua tas siap tetapi belum diletakkan di depan pintu. Deni memasang kursi bayi dengan bantuan petunjuk, lalu meminta pemeriksaan pemasangan. Kelana menaruh selimut lama yang telah dibersihkan di rak, bukan langsung di tempat tidur bayi.
Suatu malam, perut Gea mengeras beberapa kali. Deni mengambil jam dan mulai mencatat. Gea minum, beristirahat, dan mengikuti panduan dokter. Rasa itu mereda setelah posisi berubah.
'Belum lahir?' tanya Kelana dari pintu.
'Belum. Tubuh Mama lagi latihan,' jawab Gea.
Deni menutup catatan tanpa mengirim kabar kepada seluruh keluarga. Sembilan minggu persiapan mengajarkan mereka bahwa kesiapan bukan membuat setiap alarm menjadi kejadian besar. Kesiapan berarti tahu siapa yang dihubungi, siapa yang tidak perlu datang, dan kapan menunggu adalah tindakan yang benar.