Pukul 10.00 pagi. Ruang rapat lantai eksekutif dipenuhi dengan ketegangan yang kental. Meja kayu mahoni panjang itu dikelilingi oleh para kepala divisi yang duduk dengan punggung tegak, menatap layar proyektor yang menampilkan grafik penurunan minat pasien rawat jalan pada layanan spesialis tertentu.
Adrian berdiri di ujung meja, menunjuk grafik dengan laser pointer miliknya. Gerakannya presisi, suaranya tenang namun menuntut perhatian penuh.
"Kita kehilangan segmen pasar usia produktif," suara Adrian bergema di ruangan yang sunyi itu. "Mereka lebih memilih berobat ke klinik-klinik modern yang lebih... 'terjangkau' secara visual dan naratif. Padahal secara medis, fasilitas kita jauh di atas mereka."
Seorang kepala divisi pemasaran, Pak Gunawan, berdeham pelan. "Sebenarnya, Dok, tim humas sudah memberikan proposal untuk melakukan rebranding digital. Mereka ingin menggunakan pendekatan yang lebih personal, menggunakan influencer untuk menunjukkan sisi lain rumah sakit ini. Tapi..."
Pak Gunawan ragu-ragu, melirik ke arah Adrian. Ia tahu bosnya itu memiliki alergi terhadap segala sesuatu yang berbau media sosial.
"Tapi apa?" tanya Adrian datar.
"Tapi, sejauh ini rencana itu ditolak mentah-mentah oleh pihak manajemen pusat," sambung Pak Gunawan hati-hati.
Adrian terdiam. Bayangan ring light yang menyilaukan dan wajah wanita bernama Gia pagi tadi melintas di benaknya. Ia ingat bagaimana Gia bicara tentang koneksi dan relevansi. Untuk pertama kalinya, Adrian merasa ada benang merah antara argumen Gia dan data penurunan pasien di depannya.
"Kirimkan saya proposal lengkap tentang strategi digital itu," perintah Adrian tiba-tiba.
Suasana ruang rapat berubah hening seketika. Para staf saling berpandangan dengan bingung. Apakah ini Dr. Adrian yang biasanya? Bos mereka yang dikenal anti-konten tidak penting?
"Dokter Adrian? Apakah Anda yakin?" tanya Pak Gunawan.
"Saya ingin melihat efektivitasnya," jawab Adrian singkat, menutupi rasa penasarannya dengan topeng profesionalisme. "Bukan karena saya setuju dengan metode sirkus mereka, tapi karena data tidak berbohong. Jika kita butuh warna untuk menarik pasien, maka kita akan cari warna yang paling efektif, bukan yang paling berisik."
Rapat berlanjut, namun pikiran Adrian sedikit melayang. Ia teringat kembali pada kartu nama kecil di laci mejanya. Gia Pramestia. Nama itu terasa janggal di antara laporan medis yang biasanya ia baca.
Selesai rapat, Adrian kembali ke ruangannya. Ia duduk di kursi kerjanya dan menatap laci meja. Tangannya bergerak tanpa sadar, membuka laci itu, dan mengeluarkan kartu nama milik Gia.
Ia tidak berniat menghubungi wanita itu. Tidak. Ia hanya... melakukan evaluasi mendalam terhadap staf yang tidak kompeten, batinnya meyakinkan diri sendiri. Ya, itu adalah alasan yang masuk akal. Sebagai CEO, ia harus tahu siapa saja orang-orang berisik yang berkeliaran di rumah sakitnya.
Namun, di balik logika itu, ada rasa penasaran yang aneh. Ia ingin tahu, apakah Gia benar-benar memiliki rencana yang matang?
Adrian menghela napas, meletakkan kartu itu kembali ke meja. Kali ini, ia tidak menyembunyikannya di dalam laci.
Keesokan harinya, agenda rapat kembali mempertemukan mereka. Kali ini, Gia masuk ke ruang rapat dengan setelan profesional berwarna putih tulang. Ia berjalan dengan percaya diri, membawa tablet di tangannya, dan saat matanya bersirobok dengan Adrian, ia memberikan anggukan sopan yang terasa sangat... disengaja.
Gia memulai presentasi. Ia tidak bicara tentang 'sirkus' atau 'konten viral'. Ia bicara tentang data. Ia memaparkan demografi pasien, perilaku konsumen di era digital, dan perbandingan bagaimana kompetitor menggunakan testimoni pasien untuk membangun kepercayaan.
"Tujuan kita bukan untuk menjadi viral demi ketenaran," Gia menatap langsung ke arah Adrian. "Tujuan kita adalah memberikan rasa aman. Dengan branding yang tepat, kita bisa mengubah persepsi itu menjadi: Medika Utama adalah tempat di mana manusia dipahami, bukan hanya dirawat."
Adrian diam. Argumen itu sempurna.
"Dokter Adrian," Gia memanggilnya dengan nada hormat yang tipis. "Apakah ada bagian dari strategi ini yang menurut Anda melanggar protokol medis rumah sakit kita?"
Adrian merasakan detak jantungnya sedikit berpacu. Ia menatap Gia yang menunggu jawaban dengan wajah yang tenang namun matanya, mata yang tajam itu seolah menantang Adrian untuk jujur pada dirinya sendiri.
"Strateginya masuk akal secara data," suara Adrian rendah, nyaris seperti geraman tertahan. "Namun, saya tidak ingin ada konten yang mengganggu kenyamanan pasien atau privasi operasional kita."
"Tentu, Dok," jawab Gia cepat. "Itulah sebabnya saya butuh seseorang yang sangat paham protokol medis untuk melakukan supervisi langsung terhadap konten kita. Seseorang yang... perfeksionis. Saya ingin Dokter Adrian sendiri yang menjadi penasihat utama untuk setiap konten yang kami buat."
Adrian terdiam. Dia baru saja dijebak secara halus oleh wanita yang kemarin dia usir dari ruangannya.
Suasana ruang rapat semakin mencekam. Usulan Gia agar Adrian menjadi penasihat utama konten digital adalah sebuah langkah yang sangat berani atau sangat gegabah.
Beberapa direktur saling berbisik, sementara Pak Gunawan tampak menahan napas, menunggu respons sang CEO yang dikenal sangat protektif terhadap privasi rumah sakit. Adrian mematung. Matanya menatap tajam ke arah Gia, mencoba mencari setitik keraguan di wajah wanita itu, namun yang ia temukan hanyalah keyakinan yang tenang. Gia tidak sedang bercanda. Ia sedang melancarkan serangan psikologis yang terukur.
"Anda sadar dengan apa yang Anda minta, Gia?" suara Adrian rendah, nyaris berbisik namun cukup jelas untuk memecah keheningan ruangan.
"Saya sangat sadar, Dok," jawab Gia tanpa memalingkan pandangannya sedikit pun. "Seorang CEO tidak hanya memimpin operasional, tapi juga menjadi wajah dari institusi ini. Siapa yang lebih pantas menjadi penasihat konten selain orang yang paling paham standar kualitas di Medika Utama?"
Adrian terdiam. Ia memutar pulpen di tangannya, sebuah gerakan refleks yang biasa ia lakukan saat sedang dalam tekanan besar di ruang operasi. Logikanya berbenturan hebat. Di satu sisi, egonya menolak mentah-mentah ide menjadi bintang tamu dalam konten media sosial yang menurutnya tidak penting. Namun di sisi lain, data yang baru saja ia lihat tidak bisa dibantah. Mereka memang sedang sekarat secara citra.
"Jika saya setuju," Adrian mulai bicara, suaranya kini kembali pada otoritas CEO yang dingin, "maka setiap detak konten yang keluar dari divisi humas harus melalui persetujuan tertulis dari saya. Tidak ada improvisasi. Tidak ada gaya sirkus. Dan jika saya merasa konten tersebut merusak martabat Medika Utama, saya memiliki wewenang untuk menghapusnya seketika."
Gia tersenyum. Kali ini senyumnya bukan lagi senyuman memancing, melainkan senyuman penuh kemenangan yang elegan.
"Itu kesepakatan yang adil, Dokter. Saya setuju."
"Baik," Adrian menutup berkas di depannya dengan suara plak yang cukup keras. "Rapat hari ini selesai. Gia, tunggu saya di luar. Kita perlu mendiskusikan batasan operasional sebelum Anda mulai melangkah."
Setelah Adrian keluar dari ruang rapat, suasana yang tadinya tegang berubah menjadi riuh rendah. Para direktur mulai berbisik-bisik, tak percaya bahwa pria sedingin Adrian baru saja menyetujui proposal media sosial.
Gia keluar dari ruangan itu dengan langkah yang jauh lebih ringan. Namun, begitu pintu ruang rapat tertutup, ia mendapati Adrian sudah berdiri di dekat jendela koridor, menunggu dengan tangan terlipat di depan d**a. Pria itu tampak seperti gunung es yang siap meletus.
"Jangan berpikir Anda sudah menang," ujar Adrian tanpa menoleh saat Gia mendekat. "Saya melakukan ini demi rumah sakit. Jangan pernah salah mengartikan keterlibatan saya sebagai bentuk dukungan terhadap gaya hidup layar kaca Anda."
Gia berhenti tepat di sampingnya, menatap ke arah halaman rumah sakit dari balik kaca jendela. "Saya tidak pernah berpikir saya menang, Dok. Saya hanya sedang mencoba bekerja. Dan untuk informasi, saya tidak punya gaya hidup layar kaca. Saya hanya tahu cara berbicara dengan orang-orang di dunia yang sudah berubah ini."
Gia menoleh, menatap wajah Adrian dari samping. "Jadi, jam berapa kita mulai sesi supervisi pertama kita? Kopi saya menunggu untuk diminum bersama."
Adrian menoleh, menatap Gia dengan tatapan yang sulit diartikan, antara jengkel dan sedikit... penasaran. "Besok pagi. Pukul 06.00. Di kantor saya. Dan jangan berharap saya akan menyediakan kopi."
"Saya yang akan membawanya," sahut Gia cepat sebelum berbalik pergi meninggalkan Adrian yang terpaku menatap punggungnya
Adrian masih berdiri di koridor, menatap punggung Gia yang perlahan menjauh hingga menghilang di balik pintu lift. Ia menghela napas panjang, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan di depan stafnya. Ada rasa kesal yang dominan, namun anehnya, ada sensasi lain yang menyusup, rasa penasaran yang selama bertahun-tahun ia tekan jauh di balik tumpukan rekam medis.
Ia kembali ke ruangannya, namun langkahnya terasa lebih berat. Ruang kerja itu, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan paling steril miliknya, kini terasa berbeda. Tripod dan ring light Gia memang sudah tidak ada, tapi jejak kehadirannya seolah masih tertinggal.
Adrian duduk di kursi kerjanya, namun ia tidak langsung menyalakan komputer. Ia menatap cangkir kopi kosong di mejanya. Kata-kata Gia soal kopi yang enak kembali terngiang. Pria itu menyandarkan kepala, memejamkan mata sejenak.
Gia Pramestia.
Wanita itu bukan hanya seorang staf humas yang ambisius. Ada ketajaman dalam logika Gia yang jujur saja, diakui Adrian, memang dibutuhkan oleh rumah sakit ini. Ia melihat ke laci meja, teringat kartu nama yang ia letakkan di atas meja tadi pagi. Kartu itu masih ada di sana, tergeletak sendirian di bawah lampu meja yang temaram.
Adrian meraih kartu itu lagi. Ia memutar-mutarnya di antara jari telunjuk dan jempol. Ada nomor ponsel pribadi di sudut bawah. Tanpa sadar, Adrian mengeluarkan ponselnya, membuka fitur kontak, dan mulai mengetik angka-angka tersebut.
Jemarinya berhenti tepat sebelum menekan tombol simpan.
Apa yang sedang saya lakukan? batinnya. Saya adalah CEO Medika Utama. Saya tidak memiliki waktu untuk sekadar penasaran dengan motif seorang staf humas.
Dengan gerakan kasar, ia meletakkan ponselnya jauh dari jangkauan. Ia memaksa dirinya untuk kembali ke dunia yang ia pahami dunia angka, efisiensi, dan diagnosa. Ia mulai mengetik laporan rapat, namun pikirannya terus kembali pada tantangan yang diberikan Gia. Pukul 06.00 pagi. Besok.
Adrian menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 14.00. Sisa hari ini akan terasa sangat panjang. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa waktu tidak berjalan secepat yang ia inginkan. Ia merasa... terusik. Bukan oleh kegagalan sistem, bukan oleh keluhan pasien, melainkan oleh sebuah nama dan tantangan yang ia sendiri setujui untuk ia terima.
Di sisi lain rumah sakit, di ruang divisi Humas yang penuh dengan papan moodboard dan tumpukan properti foto, Gia sedang sibuk dengan tabletnya. Ia tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja memenangkan pertempuran di ruang rapat. Ia tampak tenang, namun matanya memancarkan kepuasan.
Ia tahu bahwa Adrian Baskara bukan tipe pria yang bisa ditundukkan dengan rayuan. Pria itu harus dilawan dengan logika, dan itulah yang baru saja ia lakukan.
"Kau berani sekali," suara rekan kerjanya, Sarah, muncul dari balik kubikel. "Kau baru saja membuat Adrian Baskara menjadi penasihat konten kita? Kau sadar kalau dia bisa saja menghentikan proyek ini kalau dia mau?"
Gia tersenyum tipis, matanya menatap jendela yang menghadap ke arah gedung utama rumah sakit. "Dia tidak akan menghentikannya, Sarah. Pria seperti dia punya satu kelemahan besar: dia tidak bisa membiarkan sesuatu berjalan dengan tidak sempurna. Begitu dia merasa dia punya kontrol, dia akan masuk terlalu dalam sampai dia tidak bisa keluar lagi."
Gia memutar kursinya, menatap layar komputer yang menampilkan jadwal pertemuan besok pagi dengan Adrian.
"Dia pikir dia sedang mengawasi saya," bisik Gia pada dirinya sendiri. "Padahal, dia baru saja membuka pintu agar saya bisa masuk ke dalam dunianya."