Setelah sekian lama absen dalam pertemuan bisnis mereka, kali ini, Yeonchan akhirnya bertemu dengan Baekki. Hal pertama yang Yeonchan lakukan saat bertemu pria imut itu adalah memberikan pelukan besar dan mengucapkan selamat atas status baru yang disandang sahabatnya, menjadi seorang ayah.
Di luar rasa senangnya yang bisa kembali bertemu Baekki, Yeonchan sebenarnya sedikit kesal. Kesal karena rencananya untuk menggoda Soomin dengan menggunakan kejadian mabuk waktu itu. Karena gagalnya rencana tersebut, Yeonchan tanpa sadar memasang ekspresi tak bersemangat selama pertemuan berlangsung. Hal itu membuat Baekki yang cukup peka, menatap heran sahabat seperjuangannya saat kuliah di Inggris.
“Apa ada masalah, Park Yeonchan?”
Yeonchan mengangkat wajahnya dari layar tabletnya. Mata hitamnya menatap heran atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan Baekki. “Masalah? Tidak ada. Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Kau terlihat tak bersemangat selama pertemuan ini, Chan-a. Apa ada sesuatu yang menganggumu? Atau kau kesal karena pertemuan hari ini kau bertemu denganku bukan tangan kananku yang cantik itu?” Baekki tersenyum penuh arti pada Yeonchan.
Yeonchan tak bisa menahan tawanya karena Baekki menggodanya secara terang-terangan. “Ya ampun kau mengenalku dengan sangat baik, Baekki-a,” ucap Yeonchan di sela-sela tawanya.
“Tentu saja aku mengenalmu dengan sangat baik, Park Yeonchan-ssi. Aku menghabiskan waktu selama enam tahun. Bahkan menemanimu yang terus menangis setiap malam karena perempuan yang sampai detik ini aku tak pernah tau siapa dan yang mana sosoknya.”
“Jika kuberitahu kau sosok perempuan yang sejak dulu kutangisi setiap malam itu, apa kau akan membantuku, Baekki-a?” Yeonchan bertanya dengan nada serius.
Sungguh, jika Baekki tahu perempuan yang selalu ditangisi Park Yeonchan setiap malam saat mereka berada di Inggris, tentu pria itu dengan senang hati akan membawa bahkan jika perlu menyeret perempuan itu ke hadapan Yeonchan. Karena Baekki ikut merasa sakit dan sedih melihat Yeonchan yang terus berkubang dalam penyesalan selama ini. Tanpa banyak pertimbangan lagi, Baekki mengangguk penuh semangat.
“Tentu saja. Lagipula, aku sedikit heran karena kau tiba-tiba saja tertarik pada seorang perempuan, setelah sekian lama selalu bersikap dingin pada perempuan yang mendekatimu. Jika aku punya kesempatan mempertemukanmu dengan perempuan di masa lalumu itu, maka akan kubantu.”
“Baiklah kalau kau mau membantu, bisakah kau membiarkan Yoon Soomin terus menjadi wakil dalam setiap pertemuan ini? Atau lebih jelasnya, bisakah kau mendelegasikan semua pertemuan kerjasama kita selalu di hadiri Soomin?”
Alis Baekki terangkat mendengar permintaan Yeonchan. “Kemana arah pembicaraan ini sebenarnya, Yeonchan-a? Aku tak mengerti dengan permintaanmu.”
“Byun Baekki, perlu kukatakan sesuatu padamu. Kau sudah mempertemukanku kembali dengan perempuan yang membuatku berada dalam penyesalan selama lima belas tahun. Pegawai kepercayaanmu—Yoon Soomin adalah perempuan berharga yang selama ini kutangisi setiap malam saat aku tinggal di Inggris.”
Baekki lupa caranya berbicara. Pria itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas penjelasan yang diberikan Yeonchan padanya. Bibir Baekki terbuka lebar sebagai tanda pria itu terlalu terkejut hingga tak bisa berkata apa pun.
“Karena itu, tolong bantu aku, Baekki-a. Aku ingin mendapatkan Soomin kembali dalam hidupku. Sebelum itu, aku punya sebuah permainan dimana hanya aku dan dia yang terlibat dalam permainan tersebut,” lanjut Yeonchan yang kemudian tersenyum penuh arti.
~FORGIVENESS~
Soomin hanya bisa memijat keningnya yang berdenyut. Perempuan itu menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya, berusaha membuat tubuhnya sedikit rileks setelah berdebat cukup panjang dengan atasannya, Direktur Byun. Karena Direktur Byun terlalu banyak absen, Soomin hampir lupa jika pria imut beranak satu itu bisa berubah menjadi manusia paling keras kepala yang Soomin kenal.
Ya, seperti hari ini Soomin melupakan fakta tersebut. Setelah hampir menghabiskan waktu setengah jam berada di ruangan Direktur Byun hanya untuk memperdebatkan masalah penugasan. Sebenarnya, Soomin merasa lega karena beberapa hari ini, Byun Baekki sudah bisa mengatur jadwalnya seperti semula tanpa terganggu dengan tugasnya sebagai seorang ayah.
Hal itulah yang membuat Soomin lega karena ia tidak perlu lagi menjadi wakil dari Byun Media dalam pertemuan kerjasama dengan Park Land Corp. Soomin mengira, pertemuan di ruang kerja Park Yeonchan yang berakhir dengan Soomin yang menangis di mobil, akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan pria menyebalkan itu.
Nyatanya, harapan tinggalah harapan. Direktur Byun meminta Soomin tetap melanjutkan tugasnya sebagai wakil Byun Media pada proyek MenXHealth ini. Mendengar permintaan tersebut, Soomin menolaknya dengan beragam alasan yang perempuan itu pikir bisa mengubah keputusan Direktur Byun. Tapi hasilnya nihil.
Memikirkan ia akan kembali bertemu dengan Yeonchan setiap pembahasan proyek MenXHealth, membuat kepala Soomin kembali berdenyut. Soomin tak tahu ia harus bersikap bagaimana di depan Yeonchan nanti.
Dalam pertemuan terakhir saja, Soomin tak bisa menahan rasa malunya. Selama pertemuan itu, Yeonchan berusaha mengingatkan kejadian memalukan itu. meskipun Soomin berusaha bersikap santai dan tak peduli, nyatanya ia tetap merasa malu dan berakhir menangis di perjalanan pulang menuju kantornya.
Sebuah senyuman menyedihkan terpatri di wajah cantik Soomin. “Ah langit sepertinya ingin mengujiku dengan pria itu,” gumamnya pada dirinya sendiri.
~FORGIVENESS~
Park Yeonchan tak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat menangkap kehadiran Yoon Soomin di sebuah kafe yang telah ditentukan sebagai tempat pertemuan hari ini. Di dalam hati, Yeonchan berjanji akan mengirimkan hadiah untuk putri Baekki atas bantuannya ini. Yeonchan kembali tertawa kecil jika mengingat skenario yang telah ia siapkan untuk pertemuan hari ini.
Pria tampan itu berusaha mengatur ekspresi di wajahnya sebaik mungkin menyadari Soomin sudah masuk ke dalam kafe. Yeonchan memasang wajah santai tapi serius miliknya. Yeonchan bahkan menyandarkan punggungnya dengan nyaman sambil memperhatikan Soomin yang melangkah mendekati dirinya.
“Yoon Soomin-ssi, Anda sudah datang. Silakan duduk,” Yeonchan menyapa dan mempersilakan Soomin menempati kursi yang ada di depannya.
Soomin tersenyum sopan dan menganggukkan kepalanya pada Yeonchan, sebelum akhirnya menarik kursi dan mendudukinya. Soomin yang sudah menyiapkan diri sebaik mungkin untuk pertemuan kali ini, bersikap dingin pada Yeonchan dan menganggap bahwa pria di depannya itu hanyalah sebagai rekan bisnis bukan pria yang pernah memiliki masa lalu dengannya.
Yeonchan tersenyum miring melihat Soomin kembali membentengi dirinya dengan bersikap dingin padanya. Hal tersebut membuat Yeonchan semakin gemas dengan perempuan di depannya ini. Jangan sebut dirinya Park Yeonchan, jika ia tak bisa meruntuhkan benteng tersebut seperti saat pertemuan terakhir mereka seminggu yang lalu.
“Karena Anda sudah datang, bagaimana jika kita mulai saja pertemuan ini?”
Yeonchan berinisiatif memulai pertemuan kali ini. Seringai tipis tercetak di sudut bibir Yeonchan ketika melihat Soomin sepertinya terkejut dengan ucapannya.
Jujur, Soomin sedikit terkejut saat mendengar pria di depannya berinisiatif memulai pertemuan ini. Biasanya, Soomin-lah yang selalu membuka pertemuan mereka. Meski merasa sedikit aneh dengan sikap Yeonchan hari ini, Soomin menganggap semua ini bukan sebuah masalah. Dengan cepat, perempuan itu mengangguk dan mengambil tablet yang ia simpan di dalam tasnya, membuka sebuah dokumen pada tabletnya.
Yeonchan pun melakukan hal yang sama, pria itu berusaha menumpukan perhatiannya pada dokumen yang terpampang di layar tabletnya. Pria itu memberi tanda pada Soomin, untuk mempelajari kembali perencanaan yang telah di buat tim MenXHealth di bawah arahan Byun Media. Pertemuan hari ini adalah membahas menyortir ulang konten isi majalah.
Dahi Yeonchan mengerut setiap membaca barisan kata yang terpampang di layar tabletnya. Kerutan di dahi Yeonchan semakin dalam hingga atensinya beralih untuk menatap Soomin yang berada tepat di depannya. Entah kenapa, ekspresi Yeonchan saat ini terlihat kesal dan juga... marah?
“Soomin-ssi, kenapa isi konten yang Anda kirimkan hari ini berbeda dengan yang sebelumnya? Bisa Anda jelaskan kenapa tim Anda mengubah begitu saja perencanaan yang sudah ada?” suara Yeonchan sarat dengan rasa kesal. Pria itu bahkan memberikan tatapan tajamnya pada Soomin.
Alis Soomin terangkat tinggi mendengar tuduhan yang diberikan Yeonchan padanya. soomin tak mengerti, jelas-jelas perencanaan isi konten ini kemarin diserahkan secara menyeluruh agar di kerjakan oleh tim dari Byun Media. Tapi, kenapa Yeonchan hari ini begitu mudah memberikan tuduhan seperti itu pada timnya?
“Maaf Direktur Park, saya tidak bermaksud menyinggung Anda. Bukankah kemarin Anda sendiri yang memberikan persetujuan jika isi konten diserahkan seluruhnya pada tim kami?” balas Soomin dengan nada tenang tapi sarat bahaya.
Yeonchan menyilangkan kedua tangannya di depan d**a seraya berdecak kesal. “Saya tak ingat pernah berkata seperti itu pada Anda. Pada pertemuan terakhir kemarin, saya sudah menyerahkan rancangan pada Direktur Byun. Saya yakin Direktur Byun telah memberikan penjelasannya pada Anda, bukan?”
“Apa itu berarti Anda menuduh saya telah mengubah isi konten tanpa seizin Anda dan Direktur Byun?” sambar Soomin mendapati tuduhan yang dilayangkan Yeonchan.
Soomin menatap pria di hadapannya dengan tatapan tak kalah tajam. Emosi perlahan mulai merayapi hati Soomin mendengar Yeonchan yang terkesan menuduh dirinya.
“Saya tidak berkata bahwa Anda yang mengubah isi konten, Soomin-ssi,” ujar Yeonchan santai. Park Yeonchan tengah menikmati perubahan ekspresi di wajah Soomin.
“Tapi, kata-kata yang Anda pilih menyiratkan saya telah mengubah isi konten majalah, Direktur Park. Perlu Anda ketahui, saya tidak pernah melakukan hal itu,” balas Soomin dengan nada ketus.
Gotcha!
Seringai Yeonchan semakin lebar setelah mendengar suara Soomin yang begitu ketus. Perempuan itu tanpa sadar telah masuk secara sukarela dalam permainan yang dibuatnya.
“Wah wah, Anda telah melakukan kesalahan besar pada hari ini, Soomin-ssi,” tegas Yeonchan dengan nada suara yang terdengar begitu meremehkan Soomin.
Soomin mengepalkan kedua tangannya di bawah meja mendengar Park Yeonchan yang terkesan meremehkan dirinya. Sumpah mati, ingin sekali Soomin melempar tabletnya ke arah Yeonchan yang kini tengah tersenyum meremehkan dirinya. Yoon Soomin benci diremehkan!
“Saya merasa tidak melakukan kesalahan apa pun hari ini, Direktur Park yang terhormat,” Suara Soomin terdengar lebih ketus dari yang sebelumnya.
Yeonchan mencondongkan tubuhnya lebih maju ke arah Soomin seraya memiringkan kepalanya. Senyuman jahil tersungging di roman tampannya. Ekspresi Soomin yang sedang kesal seperti ini adalah ekspresi yang paling Yeonchan sukai. Pria itu merasa gemas setengah mati pada Soomin.
“Kau jelas telah membuat kesalahan besar, Soomin-ssi. Jika aku tak salah ingat, rasanya tidak ada nada ketus yang terlontar dari ucapanmu pada malam itu. Sebaliknya, kau menggunakan nada paling manis yang pernah kudengar sebelum akhirnya menciumku habis-habisan. Satu-satunya kesalahan yang kau buat adalah menciumku. Anda pasti ingat ‘kan dengan kejadian itu?”
Yeonchan tersenyum miring pada Soomin yang kembali membeku di tempat. Rona merah menjalari pipi pucatnya begitu cepat membuat pipinya yang telah merona karena blush on semakin merona.
“Dengan segala hormat Direktur Park, Anda sungguh tak bersikap profesional pada pertemuan hari ini.”
Soomin berusaha keras mempertahankan sikap dingin dan cueknya di hadapan Park Yeonchan yang kembali menggodanya dengan mengingatkan kejadian memalukan itu. Meskipun ia menyadari jika pipinya sudah menghangat yang bisa dipastikan sudah berubah warna, tapi Soomin tak akan membiarkan Yeonchan menggodanya lebih dari ini.
Yeonchan kini menumpukkan sikunya di atas meja untuk menopang wajahnya. Manik hitamnya menatap kedua manik hazel Soomin. Yeonchan melihat jelas ada kilat rasa malu yang tergambar di mata Soomin, yang berusaha di tutupi, membuat Yeonchan tak tahan ingin menertawakan sikap dingin yang dipertahankan Soomin.
“Ayolah Soomin-ssi, akuilah kalau kau menyadari kesalahanmu padaku di malam itu.”
“Direktur Park, jika saya boleh mengingatkan, kita sedang membicarakan bisnis bukan topik lain. Jika Anda tak berniat membahas lebih lanjut konten majalah, maka saya bisa mengakhiri pertemuan hari ini,” gertak Soomin dengan gigi terkatup rapat untuk menahan rasa malu, kesal, dan marah yang bercampur di dadanya.
Ingin rasanya Park Yeonchan memberikan applause atas kegigihan Soomin yang berusaha bersikap formal meskipun Yeonchan telah berhasil membuatnya malu. Sambil menahan tawanya, Yeonchan pun mengangguk.
“Baiklah baiklah, jika itu maumu. Akan kuturuti keinginanmu hari ini. Tapi, jangan lupakan kejadian dimana kau menggodaku pada malam kau mabuk itu, Soomin-ssi,” ucap Yeonchan dengan nada menggoda yang kembali membuat rona merah di wajah Soomin.
~FORGIVENESS~